Natalius Pigai Menduga Pemerintah Menutupi Soal Insiden Hilangnya KM Bali Permai

- Penulis

Minggu, 5 September 2021 - 21:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.

Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.

JAKARTA, Mediakarya – Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menuding pemerintah dan pihak perusahan terkesan menyembunyikan dan mendiamkan soal insiden hilangnya KM Bali Permai mengalami lost contact dari sistem monitor (VMS) pada 30 Juli 2021 di lokasi operasi penangkapan Ikan Samudera Hindia yang hingga saat ini belum juga ditemukan.

Pigai juga mempertanyakan pihak perusahan, Basarnas, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perikanan dan Kelautan belum juga memberikan penjelasan terkait peristiwa besar tersebut kepada rakyat Indonesia.

“Bahkan pihak keluarga korban juga belum pernah dihubungi, sampai surat dari pihak perusahan baru tiba tanggal 4 September 2021,” kata Pigai dalam keterangannya, yang diterima Mediakarya.id, Minggu (5/9/2021).

Mantan Komisioner Komnas HAM itu menduga ada dua kemungkinan yang terjadi pada kapal yang naas tersebut. Yang pertama kapal tenggelam. Dan kemungkinan yang kedua bahwa kapal tersebut terombang-ambing di Samudera Hindia.

Baca Juga:  Anggota DPR Desak Pembangunan Fasilitas Formula E diaudit

“Apabila kemungkinan kedua maka dapat diduga ABK masih bisa hidup karena persediaan makanan yang dibawa untuk kebutuhan 3 bulan terhitung sejak 12 Juli 2021 sampai 12 Nopember 2021. Jika upaya pencarian dilakukan secara masif dan diumumkan ke publik maka berpotensi bisa diselamatkan,” kata Pigai.

Pigai juga membandingkan dengan peristiwa serupa selama ini, di mana Basarnas dan Pemerintah mengumumkan ke publik dan mobilisasi secara masal dilakukan sebagai upaya pencarian.

Tapi dalam peristiwa hilangnya KM Bali Permai, kata Pigai,  justru sebaliknya, pihak keluarga korban belum pernah dihubungi. Bahkan, surat dari pihak perusahan baru tiba tanggal 4 September 2021 satu bulan setelah kapal dinyatakan lost contact.

“Sebagai pembela kemanusiaan, kami minta penjelasan terbuka ke rakyat Indonesia, mengapa pemerintah dan perusahan terkesan menyembunyikan peristiwa naas yang menimpa 18 Warga Negara Indoneia dan kapalnya,” tutur Pigai.  (dji)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Timwas Haji DPR RI Ungkap Praktik Pungli Tawaf Jamaah Lansia di Mekkah
Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi dan Penerimaan Pajak
Gonjang-ganjing Rupiah: Di Bawah Bayang-bayag Ketidakpastian, Kapan Beakhir?
Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan
DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra
Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat
Bukan Sekadar Energi, PT JOE Kirim Hewan Kurban untuk Warga Kepulauan Seribu
Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:48 WIB

Timwas Haji DPR RI Ungkap Praktik Pungli Tawaf Jamaah Lansia di Mekkah

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:33 WIB

Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi dan Penerimaan Pajak

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:10 WIB

Gonjang-ganjing Rupiah: Di Bawah Bayang-bayag Ketidakpastian, Kapan Beakhir?

Senin, 25 Mei 2026 - 23:24 WIB

Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan

Senin, 25 Mei 2026 - 16:48 WIB

DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra

Berita Terbaru

Ilustrasi Gaji ke-13 (Foto: Ist)

Headline

Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan

Senin, 25 Mei 2026 - 23:24 WIB