Pengamat Ekonomi Sebut Kabinet Gemuk Sulit Membuahkan Kebijakan Sesuai Dengan Keinginan Publik

- Penulis

Rabu, 23 Oktober 2024 - 04:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dr Aviliani.(Ist)

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dr Aviliani.(Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dr Aviliani menilai kabinet gemuk pada pemerintahan Presiden Prabowo dapat dimaknai dengan dua hal yang positif. Yang pertama, bahwa Prabowo merupakan sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Justru, menurutnya, paling berbahaya jika presiden adalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Kemudian yang kedua, nampaknya faktor stabilitas adalah hal yang diutamakan oleh Prabowo. Hal tersebut dilihat dari kebijakan politiknya yang mengakomodasi semua orang yang membantunya saat Pilpres lalu. Dua hal itu, kata dia, nampaknya yang diutamakan agar tidak mengganggu organisasi.

“Namun yang harus diperhatikan dengan gemuknya organisasi itu, timbul pertanyaan, siapa yang akan menjadi dirigennya? Sepertinya dengan susunan organisasi seperti itu, rasanya sulit untuk membuahkan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan keinginan” ungkap Aviliani saat menggelar diskusi publik dengan tema: Ekonomi Politik Kabinet Prabowo-Gibran yang dilaksanakan melalui Zoom, pada Selasa (22/10/2024).

Karena itu, harus ada sesuatu yang diharapkan dalam beberapa waktu ke depan. Misalnya, kemandirian pangan, energy dan hilirisasi. Menurut dia, tiga hal itu selalu disampaikan di manapun. Padahal ketiganya adalah masalah-masalah yang luas spektrumnya. Apa yang mau didahulukan?

Misalnya Kemandirian Pangan, apa yang dimaksud? apakah harus memproduksi sendiri di dalam negeri, atau memang mana yang akan dilakukan di Indonesia, mana yang dari impor. Persepsi orang, jika kemandirian pangan, maka semuanya dilakukan di dalam negeri. Itu membutuhkan fokus dan konsentrasi pelaksanaan program.

Baca Juga:  Indef: Debat Cawapres Belum Mampu Beri Solusi Jitu untuk Ekonomi RI

“Jadi dari organisasi yang gemuk, seharusnya terlihat apa target-target yang ingin dicapai. itu yang dalam pidato Prabowo belum terlihat, yang dilihat orang bahwa daftar keinginannya banyak,” katanya.

Oleh karena itu, kata Aviliani hal yang harus penting dilakukan adalah persoalan menurunnya kelas menengah. Karena itu harus menjadi fokus utama.

Untuk itu, program yang harus mulai dilakukan sekarang adalah Makan Bergizi Gratis atau MBG. dirinya pun menyarankan agar program MBG harus dikawal dengan benar. Jangan sampai program tersebut malah membuat lahan korupsi baru, bahkan korupsinya lebih terdistribusi.

Karena masing-masing daerah akan berkontribusi terhadap makan bergizi gratis. Bahkan tersiar kabar bahwa harga tender Makan Bergizi Gratis, namun diminta dibuat hanya Rp7,500. Akibatnya konon banyak catering yang mundur dan tidak sanggup karena harus membuat harga Rp7.500/porsinya.

Bagaimana Dengan Pengawasan

Sebeb organisasi yang muncul banyak pada departemen teknis. Padahal pengawasan menjadi amat penting, karena banyak yang akan terdistribusi ke daerah. Kemudian, sudah mulai ramai soal anggaran, contohnya ada Kementerian yang semula anggaranya Rp800 miliar tapi sekarang minta Rp21 triliun.

“Terkesan menteri-menteri yang baru dilantik sudah aneh-aneh. Jadi harus ada yang mengkoordinir, jangan sampai membuat statement sendiri-sendiri yang membingungkan, sehingga akan timbul pesimisme,”saran Aviliani.

 

 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Iskandar Sitorus Bantah Tudingan Jubir KPK, Praktisi Hukum Minta Kedepankan Fakta
Dukung Penegakan Hukum di KPK, Iskandar Bantah Lakukan Obstruction of Justice
IAW Sebut Ada Dugaan Aliran Dana Rp91 Miliar dalam Kasus Suap DJBC
Keren, Kolaborasi Bank Jakarta dan Bapenda DKI di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak
Kolaborasi Bank Jakarta & Bapenda DKI Jakarta di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak
Wacana Ubah DSI Jadi BLU, Mantan Jenderal Ini Usulkan Lahirnya Otoritas Analisis Perdagangan Komoditas Nasional
BGN di Pusaran Korupsi: Pembersihan Nyata atau Sekadar Rebranding?
Pengelolaan Superblock Betos Habis, Pemkot Bekasi Diminta Ambil Alih
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 22:08 WIB

Iskandar Sitorus Bantah Tudingan Jubir KPK, Praktisi Hukum Minta Kedepankan Fakta

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:48 WIB

Dukung Penegakan Hukum di KPK, Iskandar Bantah Lakukan Obstruction of Justice

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:42 WIB

IAW Sebut Ada Dugaan Aliran Dana Rp91 Miliar dalam Kasus Suap DJBC

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:00 WIB

Keren, Kolaborasi Bank Jakarta dan Bapenda DKI di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:01 WIB

Kolaborasi Bank Jakarta & Bapenda DKI Jakarta di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak

Berita Terbaru