Oleh: Hadits Abdillah
Di gedung bundar Kejaksaan Agung, perputaran roda hukum belakangan ini menyisakan tanda tanya besar yang tak kunjung terjawab tuntas. Penahanan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah (FA), sosok yang dulu berdiri di garis depan membongkar kasus-kasus raksasa, membuka babak baru yang penuh teka-teki. Di balik jerat hukum yang kini membelitnya, riak dugaan mengemuka: apakah ini murni penegakan hukum, atau harga yang harus dibayar lantaran ia pernah memegang berkas yang terlalu “panas”?
Dalam narasi yang beredar di kalangan pengamat dan kanal investigasi independen, nama Febrie Adriansyah disebut memegang peranan kunci dalam pendalaman sejumlah kasus strategis beberapa tahun silam. Di antara berkas yang pernah disentuh mejanya, muncul inisial-inisial besarFebrie Adriansyah kantongi ksus korupsi politisi, yakni RJA dan KP dua figur yang tak asing di panggung politik dan bisnis nasional. yag dikenal dekat dengan rezim penguasa sebelumnya.
Berdasarkan catatan jejak perkara, dugaan keterlibatan mereka dalam pusaran transaksi dan proyek bernilai jumbo sempat disisir aparat. Namun, tak lama berselang, arah angin berubah drastis. Berkas yang semula bergulir mendadak melambat, lalu membeku dalam diam. Tak ada kelanjutan penyidikan, tak ada kejelasan status hukum. Hingga akhirnya, giliran Febrie Adriansyah sendiri yang tersungkur: ditetapkan sebagai tersangka, ditahan, dan asetnya digeledah habis.
Skenario “Penyingkiran”
Kebetulan waktu dan urutan peristiwa ini memantik dugaan yang kian menguat: apakah kejatuhan Febrie Adriansyah adalah bagian dari skenario sistematis? Sebuah cara untuk “menutup pintu” agar kebenaran di balik berkas yang ia pegang tak pernah melihat cahaya matahari?
Dalam skenario yang dibangun dari potongan fakta lapangan, tergambar dugaan bahwa kekuatan besar telah bergerak. Tekanan diduga datang dari segala arah untuk melumpuhkan sang jaksa, mematahkan jejak penyidikan, dan menyelamatkan nama-nama yang berada di lingkaran kekuasaan. Tak hanya sendirian, dalam narasi ini disebut pula keberadaan T dkk (Sekelompok perantara dan pengatur di belakang layar yang diduga memainkan peran melicinkan jalan bagi para tokoh tersebut untuk lolos dari jerat hukum)
Fakta yang Masih Terkunci
Kendati alur dugaan ini terasa logis menyusun kepingan kejadian, satu hal yang wajib kita catat. Hingga saat ini, belum ada bukti hukum terang yang menyatakan inisial-inisial di atas telah sah bersalah sesuai tudingan. Kejagung pun hingga kini belum membuka secara rinci nasib akhir berkas perkara lama tersebut. Diarsipkan, dihentikan, atau masih tersimpan rapi di laci menunggu waktu?
Kita berhadapan dengan dinding diam yang tebal. Namun, riak kejanggalan itu tak bisa disapu begitu saja. Publik bertanya-tanya: mengapa penegak hukum yang agresif membongkar kasus, justru berakhir menjadi pesakitan? Mengapa berkas yang sama pentingnya mendadak senyap?
Menagih Terang Keadilan
Kisah ini, bagi bangsa ini, bukan sekadar drama hukum. Ia adalah ujian bagi nurani keadilan. Jika skenario kelam ini benar adanya, maka kita sedang menyaksikan bagaimana hukum bisa ditekuk demi melayani kepentingan segelintir orang berkuasa. Namun jika kelak terbukti keliru, maka narasi ini akan gugur dengan sendirinya di hadapan fakta.
Tugas kita belum selesai. Jejak-jejak yang mulai terkuak ini harus terus diikuti. Kejagung dan aparat penegak hukum lainnya wajib membuka tabir gelap ini sejelas-jelasnya. Tanpa pandang bulu, tanpa tedeng aling-aling. Sebab, di negeri hukum ini, kebenaran tak boleh dimatikan, dan keadilan tak boleh dikorbankan, siapapun namanya.
Penulis: Pimpinan Redaksi Mediakarya.id









