KOTA BEKASI, Mediakarya – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, dinilai tengah membangun pencitraan di tengah sederet kasus dugaan korupsi yang menjerat sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di daerah penyangga Jakarta tersebut.
Hal tersebut dikatakan Sekjen Laskar Merah Putih (LMP) Kota Bekasi, Hasan Basri menanggapi adanya baliho bergambar Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama Ketua DPRD bersama Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Effendi yang bertuliskan “Selamat Atas Raihan Wajar Tanpa Pengecualian. Mari Jadikan WTP Sebagai pengingat Untuk Terus Konsisten Membangun Clean Governance Dan Pelayanan Publik Yang Lebih Baik”.
Hasan menilai raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) cabang Jawa Barat kepada Pemerintah Kota Bekasi, yang saat ini diklaim oleh Tri Adhianto itu, sesungguhnya merupakan hasil kinerja Pj.Wali Kota Bekasi Raden Gani Muhammad.
“Publik harus tahu, bahwa opini WTP yang diraih oleh Pemkot Bekasi itu bukan karena keberhasilan Tri Adhianto, melainkan itu merupakan kinerja Pj.Wali Kota Bekasi Raden Gani Muhammad. Dan opini WTP itu hasil audit BPK tahun 2024. Sementara Tri baru menjabat seratus hari kerja,” ujar kepada awak media, Senin (2/6/2026).

Menurut dia, gambar baleho yang dipasang terkesan mengabaikan etika dan norma. Padahal kepala daerah Kota Bekasi itu terdiri dari Wali Kota dan Wakilnya. “Tapi kenapa Tri hanya memasang gambar dia sendiri tanpa didampingi oleh wakilnya,” ungkap Hasan.
Hasan mengungkapkan, bahwa selama 2 tahun di saat Tri Adhianto menjabat sebagai Plt.Wali Kota, Pemkot Bekasi hanya mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
“Dua tahun berturut-turut di era kepemimpinan Tri Adhianto hanya meraih opini WDP. Ini mengindikasikan bahwa pengelolaan keuangan di bawah Tri Adhianto itu sangat buruk,” katanya.
Hasan menyebut bahwa Tri tengah menonjolkan diri bahwa saat ini seolah dirinya paling berperan dalam mengendalikan kekuasan sehingga mendapat WTP.
“Foto di baliho itu terkesan Tri Adhianto menonjolkan diri, bahkan gambar wakil wali kota pun tak ada. Sehingga terkesan Wujuduhu Ka’adamihi, (ada dianggap tidak ada),” jelasnya. (Pri)






