RS Medistra Jakarta Tegaskan Tak Pernah Larang Pegawainya Mengenakan Hijab

- Editor

Rabu, 4 September 2024 - 19:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,MediaKarya – Rumah Sakit (RS) Medistra, Jakarta Selatan menegaskan tidak pernah melarang pegawai perempuan mengenakan hijab di lingkungan rumah sakit. Bahkan dokter, perawat hingga staf rumah sakit juga banyak yang masih mengenakan hijab sampai sekarang.

“Dengan ini kami menegaskan bahwa Rumah Sakit Medistra sama sekali tidak melarang penggunaan hijab bagi para pegawainya,” ujar Direktur RS Medistra, dr. Agung Budisatria saat jumpa pers di kantornya pada Rabu (4/9/2024).

Hal itu dikatakan Agung untuk mengklarifikasi dugaan larangan pegawai perempuan mengenakan hijab di lingkungan rumah sakit. Masalah itu sempat viral setelah dokter RS Medistra, Dr. dr. Diani Kartini SpB, subsp. Onk (K) melayangkan surat protes ke pihak manajemen dan diposting ke media sosial.

Agung mengungkapkan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan juga telah melakukan investigasi di RS Medistra pada Senin (2/9/2024) lalu.

Dari pemeriksaan yang dilakukan petugas, lanjut dia, tidak ditemukan adanya larangan pengenaan hijab bagi pegawai rumah sakit.

“Dari hasil klarifikasi tersebut tidak ada ketentuan yang melarang penggunaan hijab, dan ketentuan tersebut juga sudah mengakomodir pemakaian seragam dengan menggunakan hijab,” beber Agung.

Menurutnya, Dinkes dan Sudinkes Jaksel juga mengecek regulasi yang dikeluarkan RS Medistra untuk lingkungan rumah sakit. Saat Keputusan Direktur dan aturan turunannya dicek, tidak ditemukan adanya larangan penggunaan hijab bagi pegawai perempuan di rumah sakit.

“Bahkan di aturan tambahan justru kami mengatur adanya penggunaan hijab pada karyawan perempuan,” urainya.

Agung menambahkan, petugas Dinkes dan Sudinkes Jaksel juga memberikan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kepada rumah sakit atas isu yang berkembang. Bahkan pihak RS juga berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait viralnya masalah ini.

“Kami sudah meminta arahan ke Majelis Ulama Indonesia dari level pusat maupun Jakarta untuk tabayyun atau meminta arahan. Itu yang saat ini kami lakukan,” ungkap Agung.

Baca Juga:  Gelar Workshop, PTOI DKI Jakarta Dongkrak Kualitas Terapis Olahraga

Sementara itu Manager Sumber Daya Manusia (SDM) RS Medistra Jakarta Selatan, Markus Triyono menambahkan, persoalan ini mencuat karena adanya kesalahpahaman yang terjadi saat proses rekrutmen dokter umum. Pihaknya sudah berupaya melakukan klarifikasi kepada Dr. Diani, namun saat itu proses rekrutmen belum selesai hingga akhirnya persoalan ini ramai di media sosial.

“Kami belum ada kesempatan untuk membicarakan hal ini, kami upayakan mediasi lebih lanjut karena beliau merupakan bagian keluarga besar Rumah Sakit Medistra yang tentunya kami tidak mau masalah ini berlarut-larut lebih panjang,” jelas Markus.

Dia menjelaskan, Dr. Diani merupakan dokter spesialis RS Medistra yang sudah bergabung di rumah sakit sejak Januari 2010 silam. Selama bekerja di rumah sakit, Dr. Diani memang biasa mengenakan hijab.

Hingga kini, pihak rumah sakit belum berencana mengambil langkah hukum dari viralnya masalah ini. RS Medistra justru ingin mengedepankan langkah mediasi agar persoalan ini bisa selesai dengan baik.

“Kami masih mengupayakan untuk mediasi terlebih dahulu, supaya ada jalan keluar yang paling baik,” ucapnya.

Diketahui, Dr. dr Diani Kartini mempertanyakan kebijakan Rumah Sakit Medistra Jakarta soal aturan berpakaian para pegawainya. Hal itu diungkapkannya usai mendapati asisten dan kerabatnya melamar pekerjaan untuk menjadi dokter umum.

“Beberapa waktu lalu, asisten saya dan juga kemarin kerabat saya mendaftar sebagai dokter umum di RS Medistra. Kebetulan keduanya menggunakan hijab,” tulis dr Diani, mengutip dari akun Instagram @lambe_turah.

Dia bilang, ada pertanyaan terakhir di sesi wawancara, terkait performance dan RS Medistra merupakan RS internasional. Pihak ruma sakit, katanya, mempertanyakan apakah bersedia membuka hijab jika diterima atau tidak.

“Saya sangat menyayangkan jika di zaman sekarang masih ada pertanyaan RASIS,” ucapnya. (dri)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026
Komjen Pol (Purn) Oegroseno Telah Beri Teladan: Datang, Jelaskan Fakta, dan Percaya pada Kebenaran
IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria
Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku
Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang
Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil
Buka Peluang Kerja Gen Z, Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Desak Pemprov Gandeng Duta Besar
Fenomena Kepala Daerah Andalkan Medsos Jadi Sarana Pencitraan: Menara Pasir Popularitas Pemimpin Populis

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:21 WIB

IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:05 WIB

Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:37 WIB

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:30 WIB

Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil

Berita Terbaru

Kantor Kejaksaan Agung (Ist)

Opini

Di Balik Jatuhnya Sang Jaksa dan Berkas yang Membeku

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:43 WIB

Ratusan massa saat membakar sebuah gedung saat aksi kerusuhan di Agustus 2025 (Foto: Ist)

Headline

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:12 WIB