Ketahanan Pangan Bermula dari Rumah

- Editor

Senin, 23 September 2024 - 10:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fransiscus Go | Pemerhati Pendidikan & Ketenagakerjaan

JAKARTA, Media Karya – Orang tua dituntut untuk menyediakan makanan bergizi bagi keluarganya, utamanya agar anak-anak bisa tumbuh sehat dan tidak kekurangan gizi. Pertanyaannya bagaimana cara menyiasati perbaikan gizi bagi masyarakat menengah ke bawah dengan penghasilan yang tidak stabil? Jika orang tua kesulitan untuk memenuhi konsumsi makanan harian, apa yang harus dilakukan?

Padahal gizi yang cukup diperlukan oleh setiap anak agar tumbuh kembangnya optimal sekaligus menurunkan angka stunting di Indonesia. Ketahanan pangan bisa diusahakan dari rumah bermula dari beternak ayam untuk mencukupi kebutuhan protein hewani dan menanam dari halaman rumah untuk mencukupi kebutuhan sayur.

Menanam dari Halaman Rumah

Tidak semua wilayah memiliki akses transportasi yang mudah, stok pangan cukup, dan harga sembako yang sesuai dengan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, opsi menanam cabai, tomat, sayur di pot atau lahan kosong adalah langkah kecil yang bisa membawa hasil besar. Jika setiap rumah memiliki tanaman sayuran seperti cabai, tomat, kangkung, bayam, selada, sawi, dan sebagainya tentu akan membantu setiap ibu untuk menyediakan makanan bergizi bagi keluarganya.

Minimal setiap hari, ibu memiliki stok sayuran yang bisa diolah. Dengan demikian, ibu memiliki alternatif bahan makanan bergizi dibandingkan memasak mie instan saat tidak memiliki cukup uang untuk belanja harian. Konsep bertanam dari halaman rumah ini bisa diterapkan oleh semua orang sebab perawatan menanam sayuran cukup mudah. Setiap sayuran yang dipetik bisa bertumbuh lagi dan otomatis menjadi salah satu sumber makanan murah bagi keluarga.

Bagi keluarga yang tidak memiliki halaman rumah, bisa memanfaatkan teknik hidroponik dan aeroponik. Pada teknik hidroponik memungkinkan setiap orang bisa menanam tanpa tanah, melainkan menggunakan air. Teknik hidroponik ini cocok digunakan bagi keluarga yang tinggal di perkotaan dan hanya memiliki teras kecil untuk menanam beberapa sayuran yang dikonsumsi sehari-hari.

Terakhir, teknik aeroponik adalah metode bercocok tanam menggunakan udara. Sistem aeroponik dibudidayakan tanpa lahan dan tidak membutuhkan media tanah. Akar tanaman menggantung menyerap larutan hara dari nutrisi yang disemprotkan. Penyemprotan air dan nutrisi menggunakan irigasi sprinkler. Kelebihan aeroponik adalah hemat air, lebih cepat panen, hasil panen lebih cepat, dan lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan pestisida serta pupuk kimia.

Baca Juga:  Catatan Ihwal Pengumuman Swasembada Pangan

Beternak dari Halaman Rumah

Langkah kedua untuk memulai ketahanan pangan dari rumah adalah melalui beternak. Bagi keluarga kecil, langkah termudah adalah beternak ayam dan bebek. Anda bisa merawat ayam dan bebek dengan pakan yang murah dan sisa limbah makanan rumah tangga. Perawatan ayam dan bebek pun tergolong mudah. Anda bisa memanfaatkan telur ayam dan bebek untuk memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga. Apalagi dengan harga telur yang terus naik, beternak ayam merupakan salah satu solusi yang ekonomis.

Perawatan ayam petelur dan bebek juga mudah. Pastikan Anda rutin membersihkan kendang ayam dan bebek di rumah. Kandang harus tetap bersih dan kering serta terlindung dari panas matahari serta hujan. Selain membersihkan kandang, sediakan air bersih di wadah air secara teratur.

Keuntungan lain memelihara ayam dan bebek adalah mereka bisa membantu memakan serangga seperti kutu dan cacing. Kotoran ayam dan bebek juga bisa menjadi pupuk alami untuk tanaman di halaman rumah. Dengan memelihara ayam dan bebek, Anda bisa mendapatkan telur yang aman dari hormon atau antibiotik. Telur ayam dan bebek yang dihasilkan memiliki nilai gizi lebih banyak daripada hasil dari peternakan komersial.

Selain membantu menyediakan protein hewani untuk konsumsi harian keluarga, dengan merawat hewan akan membantu menumbuhkan tanggung jawab dan kasih sayang anak kepada hewan peliharaan. Anak-anak akan belajar merawat hewan dengan penuh kasih sayang. Mereka tidak akan memperlakukan hewan semena-mena. Anak-anak akan belajar bahwa setiap makhluk hidup yang diciptakan Tuhan memiliki berkat untuk sesama.

Belajar menanam dan beternak merupakan salah satu langkah awal keluarga untuk menjaga ketahanan pangan dalam lingkup terkecil. Dengan tangan kita sendiri, kita tidak hanya menopang kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian pangan serta keberlanjutan lingkungan. Mari katong baku jaga!  (***)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Mekanisme Pemilihan Pimpinan NU: Menjaga Kemandirian di Tengah Tarik‑Ulur Idealisme dan Pragmatisme Politik
13 Tindak Pidana yang Dapat Dijerat UU Perampasan Aset
BON Negara Danantara: Melindungi Harta atau Melindungi Pelanggaran
Saat Ketua DPR Tak Tandatangani Surat Janji
Dari Pangku Kemuliaan ke Arena Persaingan Transaksional
Kebuntuan Pikir di Puncak Kekuasaan
Saat Republik Amnesia Konstitusi
RUU Perampasan Aset, DPR Minta Waktu Hingga 15 Desember

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:30 WIB

Mekanisme Pemilihan Pimpinan NU: Menjaga Kemandirian di Tengah Tarik‑Ulur Idealisme dan Pragmatisme Politik

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:21 WIB

13 Tindak Pidana yang Dapat Dijerat UU Perampasan Aset

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:09 WIB

BON Negara Danantara: Melindungi Harta atau Melindungi Pelanggaran

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Saat Ketua DPR Tak Tandatangani Surat Janji

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:42 WIB

Dari Pangku Kemuliaan ke Arena Persaingan Transaksional

Berita Terbaru

Mabes Polri (Ist)

Ekonomi & Bisnis

Dittipidter Bareskrim Polri Garda Terdepan Melawan Mafia Sumber Daya Alam

Selasa, 1 Sep 2026 - 05:49 WIB

Presiden Prabowo Subianto

Nasional

Kejar Target Penghematan 100 Triliun Prabowo Tutup 700 BUMN

Selasa, 1 Sep 2026 - 02:38 WIB

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin

Nasional

Kemenhan Dapat Tambahan Anggaran APBN 2027 Jadi 189 Triliun

Selasa, 1 Sep 2026 - 02:26 WIB