Memunggungi Pancasila

- Penulis

Kamis, 24 Oktober 2024 - 05:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Yudhie Haryono

Prof. Yudhie Haryono

Oleh: Yudhie Haryono

Pusaka itu masih utuh. Dua buah: pancasila dan UUD 1945. Tetapi compang-camping. Pancasila masih dasar negara, tetapi tafsirnya (UUDnya) memunggunginya. Hasilnya, presiden dan elite yang surplus janji, defisit realisasi.

Ini bukan kisah. Ini kenyataan. Benua Nusantara tentu sangat strategis, subur makmur dan kaya raya. Kondisi ini selalu menjadi pusat perebutan kekuasaan di antara orang/suku/kerajaan pribumi dan pendatang.

Maka, hibridasi dan amalgam (bhineka tunggal ika) itu keniscayaan. Walau kini kita menyembah fundamentalisme dan konflik tak berkesudahan. Kondisi bergantinya ketuhanan menjadi keuangan.

Karena salah kurikulum; salah sekolahan; salah kepercayaan, benua ini panen pengkhianat. Bertindak khianat artinya tidak menepati janji. Ungkapan ini juga digunakan kepada orang yang suka mengambil hak orang lain, juga korupsi, kolusi dan nepotis.

Para pengkhianat selalu bermental munafik. Para munafikun selalu bertumpu pada karakter selingkuh. Ini jenis gejala gangguan mental kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD). Jenis gangguan kesehatan mental ini membuat penderitanya memiliki suasana hati, emosi, hubungan, dan perilaku yang berubah-ubah. Tak bisa dipercaya dan suka meremehkan: bohong, nipu dan culas.

Karakter selingkuh menghasilkan sikap khianat. Perilaku pengkhianatan adalah bentuk pemutusan, perusakan, atau pelanggaran terhadap suatu kontrak praduga, persetujuan, kerja sama, kepercayaan, atau keyakinan, yang menciptakan konflik secara moral dan psikologis dalam hubungan antarindividu, antarorganisasi, atau antara individu dan organisasi.

Tentu yang paling menjijikkan dari khianat, munafik dan selingkuh adalah apabila dilakukan terhadap negara dan warganegaranya. Tiga kelakuan terhadap negara dapat diartikan sebagai suatu pertentangan terhadap konstitusi negara. Maka, pelakunya disebut penjahat negara, makar dan musuh abadi kenegaraan (enemy of the state).

Musuh negara adalah orang yang melakukan kejahatan ipoleksosbudhankam terhadap negara, pemerintahan dan bangsanya. Hukumannya eksekusi mati sebagai upaya melindungi keamanan nasional negara dan bangsa.

Hadir dan menjamurnya musuh negara yang kini justru menguasai negara (menjadi elite negara) mengakibatkan bangsa dan negara ini terbelah. Kita kini dirundung situasi volatile, uncertainty, complex, and ambigue (VUCA) terhadap food, fuel, financial, frequency, dan forces of army, forces of law (krisis 5F).

Baca Juga:  Wadidaw! Aurel Hermansyah Ungkap Hadiah Terindah dari Atta Halilintar, Saat Nyoblos Malam Pertama

Keterbelahan ini merupakan kondisi di mana Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), tetapi sebagian besar rakyat Indonesia saat ini masih hidup dalam kemiskinan, kepengangguran dan ketimpangan (3K).

Karena terbelah, kita berada dalam keadaan yang sangat rawan. Banyak elite kita yang jadi pejabat bermental penjahat karena korup, minta disogok, minta dibeli. Akhirnya, elite yang terpilih tidak menjaga kepentingan rakyat, tidak mengamankan kepentingan rakyat, tidak menjaga dan mengamankan negara, tetapi menjual negara kepada pemodal dan oligark yang jahat bin serakah.

Ketika negara dan demokrasinya dikuasai pemodal dan oligark serakah maka strategi ekopol yang disuburkan adalah model pecah belah (divide et impera). Rakyat sibuk saling berkelahi sehingga bertumbangan dan tersingkirkan dari gelanggang ekopol nasional saat yang sama SDA kita sudah beralih kepemilikan.

Epistema keserakahan kini riil di kehidupan kita. Tentu ini sifat yang tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Sebab, serakah dan tamak adalah kecintaan terhadap harta dunia secara berlebihan. Tapi ingat, serakah merupakan penyakit hati yang bisa menjangkiti siapa saja.

Ini sikap anti pancasila sebab padanya melekat ciri-ciri anti ketuhanan; anti kemanusiaan; anti kesemestaan karena terlalu mencintai harta yang dimiliki; semangat berlebihan dalam mencari harta tanpa memperhatikan waktu dan kondisi tubuh; terlalu pelit dan iri dalam membelanjakan harta; merasa berat untuk mengeluarkan harta demi kepentingan sesama; mimpi dan mendambakan kemewahan dunia.

Belum kita menjadi negara sejahtera, yang terjadi justru terbelahnya kita semua. Belumlah jadi negara raya bin jaya, yang terhadirkan justru negara paria. Warganya makin ke sini makin miskin, terbelah, ngerumpi dan paregreg saja kesukaannya.

Penulis: Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Jalur Mandiri Jadi Kotak Hitam, Biaya Tembus Rp1,5 M: Menjaga Gerbang Kampus Demi Kualitas
PMPRI Soroti Dugaan Maladministrasi Lelang BRI Bandung
Pengungkapan Kasus Korupsi di BGN Jadi Momentum Reformasi Prorgam MBG
Rupiah Murah, Rasuah Meriah
KPK Ditantang Ungkap Pemain Besar Dalam Kasus Suap PT Blueray Cargo
Bank Jakarta Siapkan Empat Strategi Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Terkoneksi
Kisah Djaka Budi Utama, Dirjen Bea Cukai Lulusan Terbaik Kopassus Berani Bongkar Gurita Korupsi
Yayasan dan Mitra yang Berafiliasi dengan Mantan Kepala BGN Bakal Diperiksa Kejagung?
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:32 WIB

Jalur Mandiri Jadi Kotak Hitam, Biaya Tembus Rp1,5 M: Menjaga Gerbang Kampus Demi Kualitas

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:22 WIB

PMPRI Soroti Dugaan Maladministrasi Lelang BRI Bandung

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:14 WIB

Pengungkapan Kasus Korupsi di BGN Jadi Momentum Reformasi Prorgam MBG

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:17 WIB

Rupiah Murah, Rasuah Meriah

Sabtu, 6 Juni 2026 - 11:33 WIB

Bank Jakarta Siapkan Empat Strategi Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Terkoneksi

Berita Terbaru

Ketum PMPRI, Rohimat alias Joker..

Ekonomi & Bisnis

PMPRI Soroti Dugaan Maladministrasi Lelang BRI Bandung

Minggu, 7 Jun 2026 - 09:22 WIB

Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana saat  hendak digelandang ke mobil tahanan.

Ekonomi & Bisnis

Pengungkapan Kasus Korupsi di BGN Jadi Momentum Reformasi Prorgam MBG

Sabtu, 6 Jun 2026 - 21:14 WIB

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ekonomi & Bisnis

Rupiah Murah, Rasuah Meriah

Sabtu, 6 Jun 2026 - 20:17 WIB