Ikut Tertawakan Ejekan Miftah, Usman Ali Salman Ikut Dikecam

- Penulis

Jumat, 6 Desember 2024 - 06:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekjen Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Abdul Rasyid.

Sekjen Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Abdul Rasyid.

JAKARTA, Mediakarya – Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) mendesak Presiden Prabowo Subianto mencopot Miftah Maulana alias Ta’im atas perilakunya yang dinilai tidak mencerminkan sebagai utusan khusus presiden bidang keagamaan.

Miftah dinilai tak pantas dipanggil Gus, sebab panggilan Gus merupakan panggilan untuk ulama, kyai dan orang yang dihormati, lantaran keilmuannya dan akhlak serta budi pekertinya yang menjadi panutan bagi umat.

Di beberapa daerah sejumlah orang tua memanggil anak laki-laki mereka dengan sebutan Gus yang merupakan kependekan dari kata ‘bagus’ yang diniatkan sebagai doa.

“Namun apa yang disampaikan oleh Miftah tidak mencerminkan sama sekali dia ini seorang ulama atau tokoh yang dihormati,” ujar Sekjen LPKAN Abdul Rasyid kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/12/2024).

Menurut dia, seorang penceramah  yang membawa risalah nubuwwah seharusnya dapat memberikan ketauladanan akhlak (moral/budi pekerti yg baik) bagi umat.

Oleh karenanya, setiap perkataannya seharusnya dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki makna dan nasihat kepada sesama umat manusia, bukan merendahkan atau berkata kasar terhadap orang lain.

“Jadilah tauladan yang baik dan memanusiakan manusia. Apalagi menyebut pedagang es dengan kalimat yang tak pantas. Di situ masyarakat sudah menilai kualitas dan kemampuan intelektual dan adab Miftah yang sebenarnya,” katanya.

Rasyid menilai, meski Miftah sendiri mengungkapkan bahwa ucapan kasar terhadap pedagang es itu hanya candaan, namun dirinya sebagai utusan utusan khusus presiden bidang keagamaan mengatakan kalimat “goblok” terhadap tukang es itu tentu sangat melukai masyarakat

“Miftah sepertinya lupa bahwa dirinya saat ini merupakan pejabat negara yang digaji oleh rakyat. Namun pemberian jabatan utusan khusus presiden bidang keagamaan dari Pak Prabowo tidak dijaga dengan baik. Justru sebaliknya bisa merusak nama baik presiden,” katanya.

Baca Juga:  Hewan Qurban di Tengah Ancama Wabah PMK 

Dirinya juga menyayangkan salah satu pemuka agama yang diketahui bernama Usman Ali Salman, yang ikut menertawakan Miftah saat mengatakan go*b*l*k kepada pedagang es.

“Sangat tak pantas, seharunya pria yang katanya disebut kiyai itu bisa langsung menegur Miftah bukan menertawakan orang yang merendahkan pedagang es. Lantas apa memang ada yang lucu sehingga ikut menertawakannya. Sikap kyai itu tentunya tak patut ditiru oleh para santrinya,” kata Rasyid.

Sebelumnya, nama Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah tengah menjadi topik hangat perbincangan warganet di media sosial, baik Instagram maupun X. Ini bermula dari beredarnya video Gus Miftah terlihat mengolok-olok seorang penjual minuman saat ia tengah mengisi acara pengajian di Magelang, Jawa Tengah.

Alhasil, masa lalu Gus Miftah beserta jejak digitalnya tak luput dari perhatian warganet. Salah satu warganet pun mengungkap bahwa sebenarnya Gus Miftah memiliki nama asli lain, bukan Miftah seperti yang dikenal saat ini.

Hal itu dibeberkan oleh akun X @narkosun dan @vickyelkhaer yang membagikan gambar tangkapan layar. Pemilik akun pertama memposting tangkapan layar akun X @Adit_yapramudya yang menyebut bahwa nama asli Gus Miftah adalah Ta’im.

Pemilik akun tersebut juga menyebutkan beberapa masa lalu Gus Miftah, seperti pekerjaannya dan riwayat pendidikannya.

“Miftah asli namanya Ta’im, bukan Gus, ayahnya orang Lampung kerja serabutan. Ta’im dulu marbot di Masjid Mergangsan Jogja saat kuliah dan nggak lulus. Dulu nggak ada perempuan mau. Pernah ikut partai gagal. Baru sukses setelah dibantu Amien Rais, lalu berubah jadi Gus Miftah supaya terkenal,” cuitnya. (Pri)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

TP PKK Jakarta dan PAM JAYA Gratiskan Khitan untuk 2.000 Anak di Momen HUT Jakarta ke-499
Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa, BPKN Minta PLN Transparan dan Benahi Sistem
Sebelum Bukti Bicara, Ruang Kebenaran Mulai Menyempit
Kopkar Forindo Siap Perkuat SDM dan Perlindungan Pekerja Industri Logistik Nasional
Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan
Dipeluk, Bukan Dipukul
Dari Habibie hingga Prabowo, Nannie Hadi Tjahjanto Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SMA Pradita Dirgantara
Kapolri Diminta Evaluasi Kinerja Kapolda Riau, Dugaan Praktik Judi di Pekanbaru Disebut Masih Marak
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 17:44 WIB

TP PKK Jakarta dan PAM JAYA Gratiskan Khitan untuk 2.000 Anak di Momen HUT Jakarta ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:40 WIB

Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa, BPKN Minta PLN Transparan dan Benahi Sistem

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:02 WIB

Sebelum Bukti Bicara, Ruang Kebenaran Mulai Menyempit

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:29 WIB

Kopkar Forindo Siap Perkuat SDM dan Perlindungan Pekerja Industri Logistik Nasional

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:10 WIB

Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan

Berita Terbaru

Adi Suparto: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik

Headline

Sebelum Bukti Bicara, Ruang Kebenaran Mulai Menyempit

Sabtu, 20 Jun 2026 - 22:02 WIB

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat didatangi para siswa SD di Jakarta.

DKI

Gubernur Pramono Genjot Pendidikan Gratis di Jakarta

Sabtu, 20 Jun 2026 - 14:34 WIB