Mendagri Ungkap Banyak Kepala Desa Tak Tamat SMP

- Editor

Rabu, 9 Juli 2025 - 12:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian

JAKARTA, Mediakarya – Dugaan banyaknya kepala desa tidak tamat sekolah SMP ternyata bukan sekedar isu. Hal tersebut terungkap saat Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat rapat anggaran bersama Komisi II DPR RI, di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/7/2025).

Awalnya, Tito membenarkan adanya kesulitan program pembangunan di desa, namun dia tidak bisa menyalahkan kepala desa, karena mereka telah dipilih oleh rakyat.

“Karena kepala desa ini dipilih rakyat, bisa jadi dia pintar orangnya, pendidikan tinggi, tapi hampir beberapa persen, kalau tidak salah, sekitar 30-40 persen yang tidak tamat SMP kalau saya tidak salah,” kata Tito, sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Dia kemudian meminta salah satu stafnya mencari data yang lebih tepat, dan didapat sekitar 20 persen yang tidak menyelesaikan sekolah SMP.

Namun, Tito mengatakan, tingkat pendidikan yang rendah belum tentu berarti tidak berpendidikan, karena bisa saja seseorang yang menjadi kepala desa belajar secara otodidak.

Baca Juga:  Berhasil Bongkar Kasus Jodol Jaringan Internasional, Komisi III Apresiasi Kinerja Polri

“Tapi, kita tidak berarti kalau dia tidak sekolah, ya berarti kurang; ada juga yang otodidak, bisa juga,” ucap dia.

Oleh sebab itu, Kemendagri kemudian membuat Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD).

“Sudah kita laksanakan, dua gelombang hampir 70.000 (kepala desa),” kata Tito.

Namun, program ini sempat terhenti ketika pesta demokrasi 2024 berjalan, karena Tito khawatir program ini akan dicap sebagai gerakan politik yang merusak netralitas kepala desa.

“Mau ada pilpres, kita hentikan, jangan sampai dipelintir seolah-olah kegiatan penguatan kepala desa ini harus dilakukan, tapi ada kegiatan pemilihan ini dua bulan sebelumnya kita setop,” kata dia.

“Nah, ini ada sisa, sehingga ada program yang tidak tereksekusi karena ada hambatan kemarin 2024 itu ada Pilkada. Kalau dia pilkada ulang, otomatis tidak melakukan kegiatan kepala desa, takut nanti dikira kegiatan politik,” tambah Tito.**

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Soroti Dana Hibah Golkar Bekasi, LI-TPK Dorong Kejari dan BPK Lakukan Penelusuran
Meski Ada Efisiensi, DPRD Tetap Komitmen Jaga Alokasi Anggaran Pendidikan Tak Dipotong di APBD 2027
Kecam Korupsi Dana Bencana BNPB, Ketua LPKAN: Jangan Rampok Uang Keselamatan Rakyat
Nasib Pencari Kerja, Uang Hilang Kerjaa Tak Dapat Karena Loker Palsu
Rapor Merah Kabinet Prabowo, Bahlil dan Pigai Terjerembab di Dasar Survei CELIOS
Pengamat: Usia Panjang Golkar Belum Jamin Jadi Partai Rakyat, Masih Bertumpu pada Elite dan Kekuasaan
Elektabilitas Salip Prabowo, Prabu Foundation Sarankan KDM Tinggalkan Gerindra: Kembali ke GolkarĀ 
Dari Pemenang Pileg Jadi Korban Reshuffle: Nasib Tragis Kader Golkar Jabar

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Soroti Dana Hibah Golkar Bekasi, LI-TPK Dorong Kejari dan BPK Lakukan Penelusuran

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Meski Ada Efisiensi, DPRD Tetap Komitmen Jaga Alokasi Anggaran Pendidikan Tak Dipotong di APBD 2027

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Kecam Korupsi Dana Bencana BNPB, Ketua LPKAN: Jangan Rampok Uang Keselamatan Rakyat

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Nasib Pencari Kerja, Uang Hilang Kerjaa Tak Dapat Karena Loker Palsu

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:27 WIB

Rapor Merah Kabinet Prabowo, Bahlil dan Pigai Terjerembab di Dasar Survei CELIOS

Berita Terbaru