Lomba Cerdas Cermat dalam Labirin Kebodohan dan Kemiskinan Struktural

- Editor

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto: dok. Mediakarya)

“Point of View” dari fenomena seorang Josepha Alexandra (Ocha) adalah gugatan sunyi dalam keramaian dan keriuhan penyimpangan kekuasaan penyelenggara negara

JAKARTA, Mediakarya – Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Tingkat Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026 lalu, masih menyisakan sejumlah tanya dan reaski publik. Bukan hanya menjadi kontroversi, ajang tersebut kemudian berkembang menjadi aneka parodi. Dari yang satir ke sarkasme hingga hujatan dan bahkan kutukan.

Anais politik dari Instite fof Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, Yusuf Blegur menilai bahwa isu itu sangat menarik, bukan hanya menggelitik pikiran dan menguras energi publik. Di mana salah satu instrumen kegiatan pendidikan lembaga tertinggi negara itu diterjang banjir kritikan. Banyak berhamburan ketidakpuasan dan penyesalan.

“Bukan pada programnya yang salah. Bukan juga pada teknis penyelenggaraannya yang nenyimpang. Terkesan ada peserta yang tidak mendapat keadilan. Terdengar ada juri yang keliru menilai dan MC yang salah berucap,” ucap Yusuf dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya di jakarta, Ahad (17/5/2026).

Namun sesungguhnya, lanjut dia, secara substansi ini bukan semata persoalan ‘human eror’ atau kekhilafan panitia yang kerap terjadi dalam banyak kegiatan apapun, baik lokal, nasional dan internasional sekalipun.

Babak final perhelatan lomba cerdas cermat antar SMA di Kalbar yang menjadi program reguler sosialisasi empat pilar kebangsaan oleh MPR itu. Seketika menghentak kesadaran publik. Terpicu oleh sesuatu yang tidak ideal dalam pelaksanaannya.

“Tak jauh berbeda dengan penyelenggaraan banyak program atau kegiatan negara lainnya yang niat, tujuan dan praktiknya ibarat jauh api dari panggang,” ungkap Yusuf.

Yusuf menilai, rakyat seperti berulang tergerus luka sanubarinya ketika merenung pada negara yang gagal mewujudkan adil makmur dalam memaknai kemerdekaan. Begitu berlimpah fenomena program pemerintah yang sangat baik dan mulia dalam landasan idiil namun miris dan memprihatinkan dalam tatanan operasional.

“Masalah KKN, HAM, hukum dan demokratisasi serta konstitusi yang begitu karut-marut dalam tafsir dan kebijakan aparatur pemerintahan, yang sarat distortif, maipulatif, dan distortif. Kejahatan menjadi keseharian dan serba permisif justru dilakukan oleh aparat keamanan dan banyak pemangku kepentingan publik,”ungkap mantan aktivis 98 ini.

Dia pun berujar bahwa “State Organized Crime” seperti telah menyelimuti NKRI, mewujud rezim yang penuh rekayasa dan kedzoliman namun berlagak seolah-olah nasionalis dan patriotis bak pahlawan kesiangan, kemalaman dan ketiduran.

Baca Juga:  Ormas NU Magnet Elit Politik dan Penguasa

Masalah prinsipil terjadi dalam lomba cerdas cermat empat pilar tersebut. Sejatinya juga terjadi dengan program efisiensi anggaran negara yang dijalankan dengan pemborosan dan gaya hidup mewah para pejabat termasuk presiden yang gemar kegiatan luar negeri berbiaya mahal penuh pesta-pora ulang tahun, dengan alasan kunjungan resmi antar negara.

Begitupun juga dengan yang aktual, berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program strategis namun tanpa efisiensi dan efektivitas menghambur-hamburkan uang di tengah krisis ekonomi. Masih banyak lagi program yang identik dengan ‘abuse of power’ yang dibumbui fakta, lain dimulut lain di hati dan apalagi dalam tindakan.

Yusuf menyebut, negara melalui pemerintah tak terbantahkan seperti tengah membangun sekaligus memelihara kemiskinan dan kebodohan struktural. Rezim telah membangun benteng kokoh kekuasaan yang angkuh, arogan, dan represif.

Di antaranya, menjauhkan rakyat dari akses kedaulatan, kemandirian, dan kesejahteraan. Menyingkirkan rakyat dari eksistensi kecerdasan sebagai out came pendidikan dan kesadaran esensial sebagai warga negara.

Yusuf menambahkan, lomba Cerdas Cermat Empat Pilar khususnya dalam babak final di Kalbar yang menghebohkan itu. Pada dasarnya telah menjadi miniatur dari negara yang jauh dari ideal secara keseluruhan. Tentang kekuasaan yang absolut, konspiratif dan maipulatif. Tentang kebanyakan orang memilih bermain aman (safety player) dan dalam wilayah nyaman (comport zone).

“Juga yang paling terpenting masih ada yang berani bersikap tegas menjunjung kebenaran, kejujuran, dan keadilan meskipun beresiko tinggi, menjadi marginal, tak berdaya dan terisolasi dari arus besar penyimpangan,”katanya.

Yusuf pun memberikan apresiasi atas perjuangan dan semangat Josepha Alexandra (Ocha) yang telah menjadi sedikit siswa dan kelangkaan warga negara yang berani bersuara menuntut hak kelayakan dan kesetaraan sebagai peserta, di tengah keluhan orang kecil yang tak didengar dan ketika suara kalangan pinggiran tak digubris.

“Keberanian Ocha bukan sekadar menghadapi ‘misleading’ kepanitiaan penyelenggaraan lomba cerdas cermat empat pilar kebangsaan MPR RI. Namun Ocha juga telah linear menggugat distorsi aparatur pemerintah penyelenggara negara secara umum. Membongkar pelan namun pasti labirin pembodohan sistemik dalam arena pendidikan nasional. Ocha menjadi fenomena perlawanan seorang warga negara pada kebodohan dan kemiskinan struktural,” tandas Yusuf. (Noval)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

FX Rudi Ungkap Rentetan Kebohongan Jokowi yang Membuatnya Kecewa Hingga Pilpres
Pengamat Ini Bongkar Skenario Besar di Balik Lengsernya Airlangga dari Ketum Golkar
Mandat Rakyat vs Arogansi Jabatan, Ganjar dan KDM Beda Sikap Hadapi Kritik Warga
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Muncul Isu Politik Uang dan Hadiah Motor untuk PK
Etos Indonesia: Jangan Tukar Dukungan dengan Hadiah, Reses Ranny Berpotensi Jadi Ladang Gratifikasi
Refleksi 62 Tahun Golkar, Adi Yunansyah: Momentum Kembalikan Doktrin Kekaryaan
Yunarto Wijaya Bongkar Manuver Prabowo Copot Orang Dekat Jokowi, Permainan Cantik Itu Karena Kecanggihan Sang Operator
Soal UU Pemilu Wajib Diusung 2 Partai DPR, Saiful Mujani Prediksi Hanya 3 Pasangan Capres, Prabowo-Puan vs AHY-Anies Menguat

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:13 WIB

FX Rudi Ungkap Rentetan Kebohongan Jokowi yang Membuatnya Kecewa Hingga Pilpres

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Pengamat Ini Bongkar Skenario Besar di Balik Lengsernya Airlangga dari Ketum Golkar

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:41 WIB

Mandat Rakyat vs Arogansi Jabatan, Ganjar dan KDM Beda Sikap Hadapi Kritik Warga

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Muncul Isu Politik Uang dan Hadiah Motor untuk PK

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:05 WIB

Etos Indonesia: Jangan Tukar Dukungan dengan Hadiah, Reses Ranny Berpotensi Jadi Ladang Gratifikasi

Berita Terbaru