Bertemu Wamen PU, Penerima Beasiswa Garuda LPDP dengan 30 LoA Dunia Siapkan Ilmu untuk Pembangunan Indonesia

- Editor

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Azka Abdul Malik Albayroni (dua dari kanan) bersama Wamen PU Diana Kusumastuti (dua dari kiri).

Azka Abdul Malik Albayroni (dua dari kanan) bersama Wamen PU Diana Kusumastuti (dua dari kiri).

JAKARTA, Mediakarya– Tidak banyak calon mahasiswa yang memanfaatkan waktu sebelum berangkat kuliah ke luar negeri dengan mendatangi kementerian untuk meminta arahan mengenai masa depan Indonesia. Namun, langkah itulah yang dilakukan Azka Abdul Malik Albayroni, penerima Beasiswa Garuda LPDP yang akan menempuh studi Human Geography and Planning di University van Amsterdam (UvA), Belanda.

Alih-alih hanya mempersiapkan keberangkatan, siswa SMA Pradita Dirgantara itu memilih berdiskusi langsung dengan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU), Diana Kusumastuti, untuk mengetahui bidang keilmuan apa yang paling dibutuhkan Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.

Keputusan tersebut sejalan dengan prinsip yang dipegang Azka, yakni pendidikan tinggi harus menghasilkan solusi nyata bagi bangsa.

“Saya ingin memastikan ilmu yang saya pelajari benar-benar relevan untuk Indonesia. Karena itu saya datang untuk bertanya langsung, apa yang harus saya perdalam agar ketika pulang nanti saya bisa ikut berkontribusi membangun negeri,” ujar Azka.

Prestasi Azka terbilang luar biasa. Ia berhasil memperoleh 30 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas ternama di tujuh negara dan empat benua.

Di antara kampus yang menerimanya adalah Australian National University (ANU), The University of Sydney, UNSW Sydney, Wageningen University, Nanyang Technological University (NTU) Singapura, University of Toronto, hingga University of Amsterdam.

Dari berbagai pilihan tersebut, Azka akhirnya memilih University van Amsterdam karena menilai pendekatan pembelajaran di kampus tersebut menempatkan manusia sebagai pusat dalam perencanaan wilayah dan kota.

Ketertarikannya pada bidang tersebut bahkan sudah tumbuh sejak kecil melalui gim simulasi pembangunan kota SimCity.

“Dari SimCity saya mulai penasaran bagaimana sebenarnya sebuah kota dibangun. Kenapa ada kota yang macet, banjir, atau tumbuh tidak teratur. Dari situ saya mengetahui bahwa ada ilmu yang mempelajari hubungan manusia, ruang, dan kebijakan,” katanya.

Menurut Azka, pembangunan kota tidak cukup hanya menghadirkan gedung dan jalan, tetapi juga harus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Saya ingin belajar bagaimana kota dibangun untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bukan hanya membangun gedung atau jalan, tetapi membangun ruang yang benar-benar berpihak kepada manusia,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Wamen PU Diana Kusumastuti mengapresiasi inisiatif Azka yang datang untuk menyelaraskan rencana studinya dengan kebutuhan pembangunan nasional.

Menurut Diana, Indonesia membutuhkan lebih banyak perencana wilayah yang mampu melihat pembangunan secara utuh, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan tata kelola.

Baca Juga:  Ogah Pilih Calon Kepala Daerah Tersandera Hukum, 5 Mantan PK Partai Golkar Dukung Pasangan Herkos-Solihin

“Indonesia membutuhkan lebih banyak perencana wilayah yang memahami persoalan secara utuh. Tidak hanya melihat peta dan infrastruktur, tetapi juga memahami masyarakat, lingkungan, dan bagaimana seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama dalam satu sistem pembangunan,” ujarnya.

Diana kemudian memaparkan sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian generasi muda yang mendalami urban planning dan human geography.

Isu tersebut meliputi ketahanan pangan dan air melalui pembangunan bendungan dan irigasi, pengendalian banjir secara terpadu, perlindungan kawasan sungai, hingga pengendalian alih fungsi lahan pertanian produktif.

“Pembangunan harus memperhatikan keseimbangan. Lahan pertanian produktif harus dilindungi, sementara pengembangan kawasan permukiman diarahkan secara lebih terencana sesuai tata ruang,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan melalui penerapan green building, pemanfaatan energi terbarukan, penggunaan material ramah lingkungan, serta penerapan konsep collaborative spatial governance.

“Perencanaan tidak bisa dikerjakan sendiri. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat harus berjalan bersama agar kebijakan benar-benar bisa diterapkan di lapangan,” tegas Diana.

Mengakhiri pertemuan, Diana berpesan agar Azka memanfaatkan kesempatan belajar di Belanda sebaik-baiknya dan kembali mengabdikan ilmu yang diperoleh untuk Indonesia.

“Belajarlah sungguh-sungguh, kuasai ilmunya. Tapi jangan lupa, Indonesia menunggu kalian pulang. Negeri ini membutuhkan ahli tata ruang, perencana kota, dan pemimpin yang mampu membangun Indonesia dari akar persoalannya,” pesannya.

Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si. (Han), yang juga ibu Azka, mengatakan keluarga selalu menanamkan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar prestasi akademik, melainkan sarana untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat.

“Ilmu adalah amanah. Prestasi memang membanggakan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ilmu itu digunakan untuk menyelesaikan persoalan bangsa,” ujarnya.

Rachma menilai kesediaan Wamen PU meluangkan waktu berdialog dengan seorang calon mahasiswa merupakan bentuk kepemimpinan yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia.

Menurutnya, arahan yang diberikan menjadi bekal penting agar studi yang ditempuh Azka memiliki arah yang jelas dan selaras dengan kebutuhan Indonesia.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan generasi muda terus diperkuat sehingga investasi negara melalui program beasiswa tidak hanya menghasilkan lulusan berkelas dunia, tetapi juga melahirkan pemimpin dan ahli yang mampu menghadirkan solusi bagi pembangunan Indonesia di masa depan. (hab)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Negara Darurat Cognitif Reselience
GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto
Buntut Temuan Hunian Mewah di Lapas, Kemenimipas Pecat Kalapas Cibinong dan Sanksi 16 Pegawai
GNK Apresiasi Kapolri Suyudi Kedepankan Integritas, Ingatkan Bahaya Oknum Jual Nama Kapolri Berjubah Agama
Pendapat Para Pakar Jelang Putusan MK Tentang Syarat Pendidikan Calon Pemimpin Neggara

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:15 WIB

Negara Darurat Cognitif Reselience

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:04 WIB

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:24 WIB

PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:26 WIB

Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto

Berita Terbaru

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Strukturalis di Nusantara Centre)

Headline

Negara Darurat Cognitif Reselience

Rabu, 7 Okt 2026 - 05:15 WIB