Ekonom Senior Ini Dorong Gunernur BI Baru Tak Hanya Laksanakan Tugas Moneter

- Editor

Senin, 27 Juli 2026 - 14:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rektor Universitas Paramadina dan Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Prof Dr Didik J Rachbini. (Ist)

Rektor Universitas Paramadina dan Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Prof Dr Didik J Rachbini. (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari Gubernur Bank Indonesia (BI) diduga dipicu atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Padahal, tugas Bank Indonesia sebagaiana Undang-Undang yakni menjaga nilai rupiah. Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai akibat lemahnya BI dalam mengendalikan nilai tukar rupiah.

Banyak pihak yang salah paham terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Di mana kesalahan ditujukan kepada Menteri Keuangan, yang selalu disorot media sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap kejatuhan nilai tukar rupiah saat ini.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Prof. Didik J Rachbini, menegaskan bahwa nilai tukar naik dan turun ada di bawah tanggung jawab Bank Indonesia dan pemerintah secara keseluruhan.

“Gubernur Bank Indonesia pejabat yang paling bertanggung jawab terhadap masa depan stabilitas nilai tukar rupiah. Tentu saja Bank Indonesia tidak sendiri dan memang tidak pernah ada di muka bumi ini lembaga pemerintah yang bekerja sendiri dalam menyelesaikan masalah tanggung jawab dan kebijakannya,” ujar Prof. Didik, seperti dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, BI diwajibkan oleh Undang-Undang untuk berkoordinasi dengan pemerintah. BI tidak dapat menjaga rupiah sendiri sehingga perlu koordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Investasi dan Perindustrian.

“Nilai tukar rupiah kuat atau lemah sangat berhubungan dengan kinerja perdagangan internasional, investasi dan fiskal, tetapi kinerja nilai tukar ada di dalam tanggung jawab BI,” katanya.

Meski nilai tukar jatuh seperti saat ini lantaran dipengaruhi sektor rill (perdagangan, investasi dan devisa) tetapi itu tidak meniadakan tanggung jawab BI. Karena itu, koordinasi menjadi tanggung jawab BI untuk menjaga nilai tukar.

Oleh karena itu, Prof. Didik mendorong agar Gunernur BI yang baru tidak hanya melaksanakan tugas moneter saja, tetapi perlu memainkan peran untuk memimpin koordinasi di depan dengan kementrian lain untuk memastikan nilai tukar tidak terpuruk seperti sekarang.

Baca Juga:  Kasus Tom Lembong: Pengaruh Hukum Buruk Terhadap Ekonomi

“Mengapa harus memimpin di depan, karena kinerja nilai tukar adalah tanggung jawab utamanya,” ungkap Prof. Didik.

Prof. Didik juga berharap Gubernur BI ke depan perlu melakukan transformasi peranannya hanya dominan peran dalam kebijakan moneter menjadi pemimpin di depan dalam menjaga nilai tukar rupiah. Peran tersebut perlu dilakukan agar nilai tukaar tidak terus tepuruk seperti seklarang ini.

“Sebab transformasi kepemimpinan BI ini perlu dilakukan karena tantangannya sangat berat dari gabungan masalah moneter dan non-moneter,” bebernya.

Rektor Universitas Paramadina ini juga menilai tugas menjaga kecukupan cadangan devisa jelas tidak bisa dilakukan sendiri oleh BI karena cadangan devisa tersebut datang dari aktivitas ekonomi di sektor riil. Cadangan devisa sebagai instrumen dipakai untuk intervensi, pembayaran utang luar negeri pemerintah, menjaga kepercayaan pasar.

“Tetapi untuk memperkuat cadangan devisa, Bank Indonesia dan pemerintah perlu bekerja bersama agar kinerja sektor riil dan perdagangan meningkat serta memastikan hasil devisanya parkir di dalam negeri,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Didik menegaskan bahwa tugas BI tidak cukup hanya menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter menaikkan dan menurunkan suku bunga, meskipun merupakan tugas utamanya. Juga tidak cukup hanya mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran saja, seperti RTGS, QRIS, dan penerbitan dan pengedaran uang rupiah.

“Akan tetapi ketika masalah nilai tukar kritis harus tampil dalam kepemimpinan moneternya dan melakukan koordinasi dengan pemerintah. Jika nilai tukar terpuruk, meskipun sebab-sebabnya berasal dari sektor non-meneter, tetapi kinerja nilai tukar adalah tanaggung jawab Bank Indonesia,” tutur dia.

Bukti terkini, intrumen BI dengan menaikkan suku bunga ternyata tidak mengubah apa-apa. Bahkan dampak dari kebijakan moneter tersebut justru menguras likuditas,mengorbanan sektor riil dan mengarahkan dana ke intrumen keuangan karena insentif bunga tinggi.

“Di sinilah interumen moneter dan non-moneter harus dilakukan bersama. Untuk itu diperlukan transformasi peran dan kepemimpinan Gubernur BI ke depan,” pungkasnya. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

DPR Dukung Pelarangan Penggunaan Minuman Mengandung Susu dalam Menu MBG
Kontroversi Purbaya vs Pramono Soal Obligasi Daerah, Begini Kata Ekonom Senior INDEF
Belanja MY BABY Bisa Dapat Mobil, Ini Cara Ikut Pesta Hadiah 2026
Kuota Internet Tak Boleh Lagi Hangus, BPKN Desak Sanksi Tegas bagi Operator yang Bandel
Ekonomi di Kita Bukan Sekedar Pasar 
Next Gen(re)parenting Morinaga, Bekali Orang Tua Dukung Anak Jadi Future Leader
BPKN RI Dorong Lima Langkah Konkret Lindungi Penumpang Terdampak Erupsi Anak Krakatau
5 Cara Cari Cuan dari Media Sosial, Kreator Perlu Pahami Audiens dan Data

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 04:46 WIB

DPR Dukung Pelarangan Penggunaan Minuman Mengandung Susu dalam Menu MBG

Jumat, 11 September 2026 - 08:04 WIB

Kontroversi Purbaya vs Pramono Soal Obligasi Daerah, Begini Kata Ekonom Senior INDEF

Rabu, 9 September 2026 - 21:45 WIB

Belanja MY BABY Bisa Dapat Mobil, Ini Cara Ikut Pesta Hadiah 2026

Rabu, 9 September 2026 - 14:15 WIB

Kuota Internet Tak Boleh Lagi Hangus, BPKN Desak Sanksi Tegas bagi Operator yang Bandel

Rabu, 9 September 2026 - 09:41 WIB

Ekonomi di Kita Bukan Sekedar Pasar 

Berita Terbaru

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Opini

Korupsi dan Keracunan Ala MBG

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:44 WIB

Ilustrasi food tray MBG. (Foto: Ist)

Nasional

Marak Keracunan MBG, Anggota DPR Ini Soroti Keberadaan SPPG

Minggu, 13 Sep 2026 - 07:57 WIB