Korupsi dan Keracunan Ala MBG

- Editor

Minggu, 13 September 2026 - 09:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto: dok. Mediakarya)

Oleh: Yusuf Blegur

Walau langit akan runtuh, MBG harus tetap berjalan

Akankah MBG menjadi klimaks atau antiklimaks kekuasaan Prabowo? Program MBG bukan sekadar legasi. Bukan juga hanya sebagai ajang konsolidasi politik dan ekonomi menghadapi pilpres 2029. Prabowo dan MBG adalah satu kesatuan, bagaikan dua jiwa yang tak bisa dipisahkan

Terakumulasi berdasarkan Data Surveilans Kementerian Kesehatan RI per 2 September 2026, program MBG telah menimbulkan korban keracunan, utamanya pelajar sebanyak 50.059 dari 560 kejadian di 36 provinsi. Bukan peristiwa biasa, bukan angka yang sedikit, dan bukan kesalahan yang sepele. Ini kejadian luar biasa yang tak lagi bisa ditolerir baik dari aspek etika, moral, dan hukum.

Mengacu refleksi dan evaluasi terhadap perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan serta pengawasan yang tidak kunjung menghasilkan perbaikan dari program MBG selama hampir 2 tahun. Sungguh memprihatinkan, selain korupsi yang terstruktur, sistematis, dan masif. Korban keracunan MBG jika dibiarkan berlarut-larut dan terjadi berulang-ulang, bukan tidak mungkin dapat menyebabkan kematian bahkan bisa menjadi kejahatan yang selain massal juga bersifat genosida.

Ketika segala penyimpangan dan kerusakan dari pelaksanaan program MBG tampak nyata dan sudah meresahkan masyarakat. Bersamaan dengan itu, ada keras hati dan pikiran Prabowo yang terus memaksakan program MBG harus berjalan walau apapun yang terjadi. Seolah-olah MBG lebih penting dan mendesak dari program kerakyatan yang lain.

Ada data dan fakta bahwasanya pemborosan dan kebocoran anggaran sudah mengorbankan pelayanan publik pada sektor fundamental dan strategis seperti dana pendidikan sebesar 223,56 triliun (29%) dan kesehatan sebesar 24.7 triliun (9,2%) pada tahun 2026 (sebagaimana dilansir oleh detik.com dalam detikedu-Berapa Anggaran MBG 2026, Seperti Ini Jabarannya), serta penyelenggaran ekonomi yang vital lainnya dalam kehidupan rakyat.

Mirisnya, program MBG dalam pelaksanaan dipenuhi praktik-praktik korupsi hingga berlanjut pada pengadaan makanan yang tak layak dikonsumsi secara gizi dan higienis telah mengancam kesehatan dan keselamatan nyawa rakyat. Boleh jadi keterlibatan orang dan institusi negara yang tidak relevan dan ekspert menjadi faktor utama kegagalan MBG yang digadang-gadang sebagai program mulia. Bagaimana tidak, partai politik, anggota DPR, TNI-Polri, dan semua pejabat dari pelbagai insitusi negara dan ormas bisa terlibat dalam MBG tanpa latar keilmuan dan pengalaman yang mumpuni.

Keniscayaan program MBG memaksa pemerintah melakukan efisiensi anggaran yang mendepresiasi sektor ekonomi dan pelayanan publik secara luas, termasuk pemotongan Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Ketika tenaga pengajar (guru), tenaga kesehatan (nakes), dan umum dalam P3K, terancam di PHK karena alasan tidak ada anggaran, sementara program MBG berlimpah anggaran dan mubazir. Ketika kehidupan rakyat semakin sengsara akibat pajak mencekik, harga sembako melonjak, dan harga BBM semakin tinggi serta angka pengangguran meningkat, saat pemerintah tetap mengalokasikan anggaran besar ke program MBG.

Baca Juga:  Hakim Agung: Di Titik Rawan Penjaga Keadilan

Jika Presiden RI Prabowo Subianto masih ngotot dan tetap bertahan melaksanakan Program MBG. Jika kepala negara dan kepala pemerintahan itu tidak lagi bisa menggunakan akal sehat dan nuraninya serta tak lagi mau mendengar pendapat, saran, dan kritik dari banyak pihak yang kompeten dan relresentatif untuk menghentikan program MBG yang kerap membawa bencana sosial. Jika pemilik kewenangan dan otoritas tertinggi dalam birokrasi tersebut tak lagi memiliki kepekaan dan kesadaran krisis terhadap penyelenggaraan program MBG yang penuh ironi.

Maka hanya ada dua pilihan yang akan terjadi, yaitu:

  1. Sebagai presiden, kemungkinan besar Prabowo akan tenggelam dengan arogansi dan keangkuhan dirinya bersama program MBG yang lambat laun, suka atau tidak suka akan berhenti dan atau dihentikan dengan banyak pertimbangan.*
  2. Kehancuran MBG juga akan menyeret Prabowo dalam kenistaannya sebagai seorang pemimpin, setidaknya menjadi orang yang paling bertanggung-jawab terhadap semua kerusakan dan dampak yang disebabkan oleh program MBG. Mulai dari ketiadaan manfaat dan justru banyak mudharatnya, sampai sampai pada karut-marut dan jejaring korupsi yang melilitnya. Boleh jadi itu juga bisa melengserkan Prabowo dari jabatan presiden dan atau lebih jauh menjeratnya ke ranah hukum karena membiarkan MBG pada titik nadir kegagalan, menanggung resiko dan konsekuensi politik tinggi proyek pemerintah sarat polemik dan kontroversi itu.

MBG dengan semua musibah dan kebencanaan yang ditimbulkannya akan menjadi trigger paling efektif sekaligus momentum strategis, yang dapat melahirkan konsolidasi perlawanan terhadap semua bentuk distorsi dan manipulasi dari kebijakan pemerintahan yang memang sudah ada sebelumnya dan di luar persoalan MBG. Sementara itu program MBG bagi Prabowo juga menjadi ajang konsolidasi yang sama dalam rangka membangun kekuatan politik dan ekonomi, baik terkait penguasaan basis massa maupun entitas kelembagaan strategis dan profesi lainnya.

Oleh karena itu program MBG kini sudah terjebak dalam posisi maju kena mundur kena bagi seorang Prabowo. Prabowo tidak lagi sekadar sedang dihadapkan seperti memakan buah simalakama. Melainkan juga ia berada di ujung tanduk baik buruknya program MBG, dalam pandangannya dan penilaian publik. Program MBG itu menjadi identik dan linear dengan jabatan Prabowo sebagai presiden, atau sebaliknya.

Menghentikan program MBG juga akan menghentikan kekuasaan Prabowo sebagai presiden. Wajar jika Prabowo bersikeras meneruskan program MBG, apapun konsekuensi dan apapun resiko yang akan dihadapinya.

Tampaknya, bangsa Indonesia dan masyarakat internasional masih perlu seksama menyimak dan mengikuti perkembangan program MBG berikutnya, yang akan lebih dramatis dan bukan tidak mungkin akan menemukan plot twistnya yang menggetarkan. Entah prestasi, entah tragedi yang akan terjadi. Akankah Prabowo dan MBG akan berakhir ‘happy ending’ atau ‘sad ending’ penuh ironi. Tapi setidaknya, sebelum episodenya berakhir, rakyat akan terus menyaksikan adegan sambil disuguhi adegan korupsi dan keracunan ala MBG.

Penulis: Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sulit bagi Prabowo Terbebas dari Pengaruh dan Peran Politik Jokowi
Pilpres 2029: Politik Dagang Sapi Mulai Terbuka
Aniesfobia
Ekonomi di Kita Bukan Sekedar Pasar 
Erupsi Krakatau: Renungan Keagamaan dan Politik
Buku “Islam Ala Prabowo” Antara Proses Penyusunan dan Narasi yang Diperdebatkan
Islam Ala Prabowo atau Prabowo Seolah-Olah Islam?
Ambang Batas Pilkada: Antara Pembatasan Hukum dan Ketidakpuasan Rakyat yang Terakumulasi

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 09:44 WIB

Korupsi dan Keracunan Ala MBG

Jumat, 11 September 2026 - 15:47 WIB

Sulit bagi Prabowo Terbebas dari Pengaruh dan Peran Politik Jokowi

Kamis, 10 September 2026 - 10:41 WIB

Pilpres 2029: Politik Dagang Sapi Mulai Terbuka

Kamis, 10 September 2026 - 07:13 WIB

Aniesfobia

Rabu, 9 September 2026 - 09:41 WIB

Ekonomi di Kita Bukan Sekedar Pasar 

Berita Terbaru

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Opini

Korupsi dan Keracunan Ala MBG

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:44 WIB

Ilustrasi food tray MBG. (Foto: Ist)

Nasional

Marak Keracunan MBG, Anggota DPR Ini Soroti Keberadaan SPPG

Minggu, 13 Sep 2026 - 07:57 WIB