FAST Indonesia Synergy: Kolaborasi Antarkementrian dan Lembaga Jadi Kunci Tata Kelola Sistem Pertanahan Indonesia

- Editor

Selasa, 4 Agustus 2026 - 16:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Idrus Mony (Foto: HNN)

Idrus Mony (Foto: HNN)

JAKARTA, Mediakarya – Tata kelola pertanahan nasional diapndang perlu dilakukan pembenahan secara menyeluruh, hal itu guna mengatasi tumpang tindih regulasi, maraknya sengketa agraria, serta lemahnya integrasi data.

Oleh karena itu Forum Forum Akselerasi Sistem Tata Kelola Pertanahan (FAST) Indonesia Synergy memandang perlu adanya kolaborasi antara kementerian dan lembaga untuk memastikan sistem tata kelola pertanahan nasional, hal itu guna memastikan data antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertnahan Nasional (ATR/BPN), Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Ketua Umum FAST Indonesia Synergy Idrus Mony mendorong adanya kolaborasi data antara kementerian dan lembaga sehingga adanya kepastian hukum terhadap hak atas tanah, hal ini berpengaruh kepada iklim investasi jangka panjang yang notabene melibatkan investor dari luar negeri yang ingin menanamkan modalnya di dalam negeri.

“Selama ini kita melihat adanya carut marut data Kementerian ATR BPN dengan data Kementerian Kehutanan terkait status tanah, di satu sisi ATR BPN mengidentifikasi sebagai lahan hak guna usaha namun di satu pihak melalui Kemenhut mengidentifikasi sebagai kawasan hutan lindung,” ungkap Idrus dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/8/2026).

Idrus menilai bahwa sengkarut pertanahan sangat berpengaruh buruk pada iklim investasi karena menciptakan ketidakpastian hukum, memicu sengketa berkepanjangan, dan menghambat pembangunan. Kondisi ini membuat para investor ragu menanamkan modal

“Bagaimana iklim investasi mau berjalan baik, antar-kementerian saja berbeda pandangan sejak awal. Oleh karenanya FAST mendrong pentingnya kolaborasi antara kementerian dan lembaga,” katanya.

Selain itu, pihaknya menghmbau kementerian terkait untuk sedikit menurunkan ego sektoral agar tercipta sisitem tata kelola pertanahan yang lebih baik dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat sebagaimana tujuan negara yang dicantumkan dalam konstitusi.

Baca Juga:  Bawaslu Jaksel Sebut Bawaslu Bukan Musuh Bagi Peserta Pemilu

Dari pengalaman empiris yang dilakukan oleh FAST Indonesia Synergy terhadap berbagai persoalan di lapangan, kecenderungan masyarakat untuk dilibatkan langsung dalam program pertanahan khususnya pendaftaran tanah sehingga memiliki legalitas masih perlu didorong.

“Oleh karena itu hadirnya FAST sebagai jembatan antara lintas kementerian dan lembaga untuk memastikan terselenggaranya program-program pemerintah yang langsung berdampak dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

FAST Indonesia Synergy sangat percaya bahwa di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, Indonesia akan lebih baik dan sejahtera, baik dari sisi sumber daya manusianya maupun pengelolaan sumber daya alam yang terukur dan profesional dengan selalu menjunjung tinggi amanah konstitusi.

“Sebagaimana tertuang dalam pasal 33 UUD 45, bahwa bumi air dan segala sesuatu yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” ujar Idrus.

Lebih lanjut, FAST Indonesia Synergy berharap adanya sebuah ekosistem tata kelola Pertanahan yang terintegrasi. Hal itu dapat terwujud jika kolaborasi yang dibangun antar-kementerian dan lembaga dilakukan dengan baik.

“Kehadiran FAST Indonesia Synergy bukan untuk melakukan kritik kepada kerja-kerja pemerintah, namun lebih pada suatu gagasan kolaboratif, karena kehadiran FAST diarahkan sebagai jembatan dengan melakukan kegiatan kegiatan berdasarkan lima pilar utama. Yakni, Kolaborasi, edukasi, pendampingan, inovasi dan rekomendasi kebijakan,”pungkasnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo
Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi
Musda Golkar Nias Selatan Ke-VI: Momentum Satukan Kekuatan Demi Membesarkan Partai
Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT
Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres
Ketum PMPRI Joker: PAW Beda Kelas dengan KDM, Satu Kerja Nyata Satu Kerja Buat Algoritma
Riset INDEF: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sentimen Positif Netizen Anjlok dari 38,1% Jadi 29,9%
Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:25 WIB

Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:07 WIB

Musda Golkar Nias Selatan Ke-VI: Momentum Satukan Kekuatan Demi Membesarkan Partai

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:57 WIB

Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres

Berita Terbaru