Oleh: Dr. Adi Suparto
Di gedung Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia yang baru saja diresmikannya, Jumat siang, 21 Agustus 2026, Jenderal Listyo Sigit Prabowo tak sekadar berucap. Kapolri itu berbicara seolah sedang berdiri di ambang pintu, sebelum melangkah keluar.
“Saya juga sudah sampaikan ke calon-calon Kapolri nanti.”
Kalimat itu diucapkan begitu saja, di tengah pembicaraan soal kesejahteraan buruh. Tanpa drama, tanpa nama disebut. Namun maknanya tegas: Suksesi kepemimpinan Polri sudah berada di tahap yang tak bisa dibatalkan. Beliau sudah tahu siapa penggantinya. Bahkan pesan-pesan penting sudah dititipkan.
Pesan yang paling ditegaskan: jangan biarkan Desk Ketenagakerjaan Polri meredup. Layanan yang menjadi jembatan antara kepolisian dan jutaan pekerja tempat pengaduan, mediasi, hingga penyelesaian sengketa kerja harus tetap berjalan optimal, siapapun yang kelak memegang tongkat komando.
Dan di sinilah nada bicaranya berubah menjadi janji yang tak bisa dianggap remeh. “Kalau saya sudah pensiun, kalau Desk Ketenagakerjaan itu tidak bekerja optimal, saya akan turun memimpin demo,” ucapnya di hadapan ratusan buruh yang hadir.
Sementara itu, hingga saat ini Surat Presiden terkait pergantian Kapolri belum diterima Dewan Perwakilan Rakyat. Nama-nama calon masih beredar di ruang-ruang spekulasi, meskipun berbagai pihak telah menyusun daftar pendek yang paling sering disebut. Berikut lima nama yang paling santer muncul dalam bursa publik, dengan catatan bahwa ini belum merupakan keputusan resmi dan masih dalam ranah spekulasi:
Komjen Pol. Dedi Prasetyo, Wakapolri, lulusan Akademi Kepolisian 1990. Dianggap pewaris alami, berada di posisi kedua tertinggi di Polri dan dikenal dekat dengan pimpinan saat ini. Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, Kepala Badan Narkotika Nasional, angkatan 1994 lebih muda dari kandidat lain dan kerap disebut memiliki akses ke lingkaran Istana. Komjen Pol. Karyoto, Kepala Badan Pemelihara Keamanan, juga angkatan 1990, dengan rekam jejak yang kuat baik di kepolisian maupun di Komisi Pemberantasan Korupsi, meskipun masa pensiunnya sudah dekat.
Kemudian Komjen Pol. Wahyu Widada, Inspektur Pengawasan Umum, yang dikenal sebagai sosok bersih dan ahli di bidang pengawasan internal. Serta Irjen Pol. Asep Edi Suheri, Kapolda Metro Jaya, satu-satunya yang baru saja naik pangkat dan memegang kendali di wilayah ibu kota.
Sesuatu yang lebih pasti telah terjadi: seorang pemimpin telah menitipkan arah kepada penggantinya dan bersedia mengawasi dari luar, jika arah itu dikhianati. Siapa yang akan menjawab amanah itu, masih menunggu keputusan tertinggi.
Penulis: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik










