Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci

- Editor

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr.  M. Mufti Mubarok.

Prof. Dr. M. Mufti Mubarok.

JAKARTA, Mediakarya – Indonesia membutuhkan penguatan sistem deteksi dini bencana yang semakin cepat, akurat, dan berbasis data untuk menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta aktivitas kegempaan. Kecepatan memperoleh informasi menjadi faktor penting agar pemerintah, aparat, dan masyarakat dapat mengambil langkah mitigasi sebelum dampak bencana berkembang lebih luas.

Melihat kebutuhan tersebut, Adhi Industri Group menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai lembaga terkait dalam menghadirkan serta mengembangkan teknologi terkini untuk mendukung sistem deteksi dini dan mitigasi bencana di Indonesia.

Salah satu teknologi yang dinilai memiliki potensi besar adalah pemanfaatan data satelit yang dikombinasikan dengan artificial intelligence (AI), analisis data, sensor, dan sistem pemantauan real-time untuk mengidentifikasi indikasi awal terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

CEO Adhi Industri Group, Mufti Mubarok, mengatakan bahwa perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memberikan solusi nyata bagi keselamatan masyarakat dan perlindungan lingkungan.

“Indonesia membutuhkan sistem deteksi dini yang cepat, akurat, dan berbasis data. Teknologi saat ini memungkinkan kita mengintegrasikan data satelit, sensor, artificial intelligence, dan sistem analitik untuk mengidentifikasi indikasi potensi kebakaran sedini mungkin, sehingga pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil tindakan lebih cepat,” ujar Mufti Mubarok.

Menurutnya, analisis kebakaran berbasis satelit dapat menjadi salah satu komponen penting dalam membangun sistem pemantauan karhutla nasional. Data dari satelit dapat digunakan untuk memantau wilayah yang sangat luas, mengidentifikasi indikasi titik panas atau perubahan kondisi permukaan, serta membantu melakukan analisis terhadap perkembangan dan sebaran potensi kebakaran.

Data tersebut selanjutnya dapat diperkaya dengan berbagai sumber informasi lain, seperti data cuaca, kelembapan, kondisi vegetasi, arah dan kecepatan angin, histori kejadian kebakaran, data sensor di lapangan, serta informasi spasial dan geografis. Dengan pendekatan tersebut, sistem tidak hanya memberikan informasi mengenai lokasi indikasi kebakaran, tetapi juga dapat membantu menghasilkan analisis tingkat risiko dan prioritas wilayah yang membutuhkan respons cepat.

“Yang dibutuhkan bukan hanya data, tetapi kemampuan untuk mengolah data tersebut menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti. Pemerintah perlu memiliki dashboard dan sistem analitik yang mampu memberikan gambaran secara cepat mengenai lokasi, tingkat risiko, perkembangan kejadian, hingga prioritas penanganannya,” jelas Mufti.

Integrasi Satelit, AI, Sensor dan Data Real-Time

Pengembangan sistem deteksi dini dapat diarahkan pada sebuah ekosistem teknologi yang mengintegrasikan satelit, AI, sensor IoT, Geographic Information System (GIS), cloud computing, serta command center.

Melalui integrasi tersebut, data dari berbagai sumber dapat dianalisis secara otomatis untuk menghasilkan informasi yang lebih cepat dan mudah dipahami oleh pengambil keputusan.

Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan, sistem dapat dikembangkan untuk melakukan monitoring wilayah secara berkala, deteksi indikasi titik panas, analisis perubahan kondisi lahan, pemetaan area berisiko, pemantauan perkembangan api, serta penyajian informasi dalam bentuk peta digital dan dashboard.

Baca Juga:  BPKN RI Soroti Penanganan Mudik 2026: Kesiapan Minim hingga Informasi Tidak Pasti

Teknologi tersebut juga dapat dikembangkan untuk memberikan notifikasi atau peringatan dini kepada pihak yang berwenang apabila ditemukan indikasi yang memerlukan verifikasi atau tindakan lebih lanjut.

“Teknologinya harus dibuat sederhana dari sisi pengguna, tetapi kuat dari sisi analisis. Ketika ada indikasi di suatu wilayah, sistem harus mampu memberikan informasi yang jelas: di mana lokasinya, seberapa besar risikonya, bagaimana perkembangannya, dan siapa yang perlu melakukan tindakan,” kata Mufti.

Mendukung Sistem Mitigasi Gempa

Selain kebakaran hutan dan lahan, teknologi analitik juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem pemantauan aktivitas kegempaan.

Adhi Industri Group melihat bahwa pemanfaatan sensor seismik, jaringan pemantauan, data historis, analisis spasial, serta teknologi artificial intelligence dapat membantu memperkuat pengolahan dan penyampaian informasi terkait aktivitas kegempaan sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana.

Teknologi tersebut bukan untuk menggantikan fungsi lembaga resmi dalam memberikan informasi kegempaan, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem teknologi yang membantu mempercepat pengumpulan, pengolahan, visualisasi, dan distribusi informasi kepada pemangku kepentingan.

“Untuk gempa bumi, kita harus berbicara mengenai penguatan monitoring, analisis dan sistem peringatan berdasarkan data yang tersedia, bukan menjanjikan prediksi gempa secara pasti. Teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab dan terintegrasi dengan sistem resmi pemerintah,” ujar Mufti.

Membangun Ekosistem Teknologi Kebencanaan Nasional

Adhi Industri Group menilai bahwa pengembangan teknologi kebencanaan tidak hanya merupakan persoalan inovasi, tetapi juga bagian dari pembangunan ekosistem keselamatan nasional yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga negara, dunia usaha, perguruan tinggi, penyedia teknologi, serta masyarakat.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar teknologi yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan karakteristik geografis Indonesia, memiliki interoperabilitas dengan sistem yang telah berjalan, serta dapat diterapkan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk mengeksplorasi teknologi terkini, termasuk teknologi satelit, AI, sensor dan analitik data. Harapannya, teknologi tersebut tidak berhenti sebagai inovasi, tetapi benar-benar menjadi sistem yang dapat digunakan untuk membantu melindungi masyarakat, lingkungan, dan infrastruktur Indonesia,” tegas Mufti.

Adhi Industri Group berkomitmen untuk terus mengeksplorasi dan mengembangkan solusi teknologi yang dapat mendukung deteksi dini, analisis risiko, pemantauan kondisi lapangan, serta percepatan respons terhadap bencana.

Dengan semakin kuatnya integrasi antara teknologi satelit, artificial intelligence, sensor, data spasial dan sistem komunikasi, Indonesia diharapkan dapat membangun sistem mitigasi bencana yang lebih cepat, terukur, terintegrasi, dan berbasis data, sehingga potensi kerugian terhadap masyarakat, lingkungan, dan infrastruktur dapat diminimalkan.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Gerakan Eksternal Jelang Muktamar NU ke-35: Khidmah, Kontestasi, dan Independensi Jam’iyyah Dipertaruhkan
Komisi III DPR RI Pastikan RUU Perampasan Aset Rampung Pada Desember 2026
Melalui Kemensos, OT Peduli Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa NTT
Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM
Haidar Alwi Sebut Kapolri Bawa Penegakan Hukum Karhutla Naik Kelas
Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi
IPPS: Jangan Harap Kondisi Ekonomi dan Hukum Membaik Jika Menteri Warisan Joko Masih Bercokol di KMP
Kasus OTT Rektor Unsoed: Pemerintah Diminta Segera Lakukan Transformasi dan Audit Investigasi Jalur Mandiri PMB-PTN

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 06:24 WIB

Gerakan Eksternal Jelang Muktamar NU ke-35: Khidmah, Kontestasi, dan Independensi Jam’iyyah Dipertaruhkan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 15:57 WIB

Komisi III DPR RI Pastikan RUU Perampasan Aset Rampung Pada Desember 2026

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:49 WIB

Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:51 WIB

Haidar Alwi Sebut Kapolri Bawa Penegakan Hukum Karhutla Naik Kelas

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:28 WIB

Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi

Berita Terbaru

Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik, Dr. Adi Suparto

Opini

Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:53 WIB