Tangisan di Depan Makam Pendiri NU: Peringatan agar Kemenangan Tidak Dibeli Dengan Harga Kemurnian

- Editor

Rabu, 2 September 2026 - 21:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Nahdlatul Ulama (Foto: Istimewa)

Bendera Nahdlatul Ulama (Foto: Istimewa)

Catatan di Tengah Kegaduhan Politik Uang di Muktamar ke‑35 NU

Oleh: Tim Redaksi Mediakarya

Di tengah hiruk‑pikuk Muktamar ke‑35 Nahdlatul Ulama, satu momen menyentuh hati banyak orang: seorang kyai menangis di depan makam pendiri NU. Tangisan itu bukan kelemahan, itu adalah kecewa yang mendalam, penyesalan yang tulus, dan kerinduan pada masa ketika kemenangan dicapai dengan keteguhan hati, bukan dengan lembaran uang.

Kegaduhan tentang politik uang dalam proses pemilihan pimpinan, yang terdengar sejak awal muktamar, bukan sekadar isu biasa. Itu adalah luka yang menganga di tubuh organisasi yang lahir dari kesederhanaan, yang tumbuh dari kesungguhan, dan yang berdiri tegak karena kepercayaan rakyat. Ketika transaksi; berapa pun nilainya, berapa pun halus caranya, mulai masuk ke ruang pemilihan pimpinan, maka yang terganggu bukan hanya prosedur. Yang terganggu adalah janji yang diucapkan para pendiri di tempat ini puluhan tahun silam.

Tangisan itu mewakili suara ribuan bahkan jutaan warga Nahdliyin: Mereka yang tak hadir di muktamar, tak memegang surat suara, tak tahu siapa yang bertransaksi, tetapi mereka tahu satu hal: kalau pemimpin bisa dibeli, maka ajaran yang dibawanya pun bisa dijual. Dan itu adalah kehancuran paling pelan namun paling pasti.

Musabab Menangis: Ketika Carq Menjauh dari Tujuan

Mengapa beliau menangis? Karena beliau melihat kontradiksi yang menyakitkan:

  •  Di satu sisi, kita berkumpul untuk memperingati dan meneruskan perjuangan pendiri NU, yang hidup sederhana, yang tak pernah memegang jabatan demi kekayaan, yang membangun dari nol dengan ketekunan dan doa.
  • Di sisi lain, di antara kita sendiri, mulai muncul hitungan‑hitungan materi, janji‑janji fasilitas, pertukaran keuntungan, hal yang para pendiri ini mungkin tak pernah bayangkan akan terjadi di atas tanah yang mereka dirikan dengan keringat dan air mata.

Bahaya terbesar bukan ketika musuh menyerang dari luar. Bahaya terbesar adalah ketika kita sendiri mulai melupakan cara para pendiri, lalu menyebutnya “kemajuan” atau “realitas zaman.” Padahal kemajuan itu bukan mengganti nilai dengan uang. Kemajuan itu adalah mempertahankan nilai di tengah zaman yang berubah‑ubah.

Pernyataan yang disampaikan, “Jika saya atau siapapun, meskipun dari PBNU, yang terang‑terangan merugikan NU, maka jangan ikuti”, adalah satu kalimat yang harus menjadi pedoman mutlak bagi setiap warga Nahdliyin. Jabatan, kedudukan, nama besar, semuanya bukan jaminan. Yang menjadi ukuran satu‑satunya adalah: apakah langkah yang diambil memelihara kemurnian organisasi, atau justru mengorbankannya demi keuntungan sesaat?

Syariat Mengingatkan: Kemenangan yang Dibeli adalah Kekalahan yang Terlambat

Agama dan syariat mengajarkan dengan sangat jelas: pemimpin yang dipilih karena harta bukan karena kebenaran, ia adalah pemimpin yang membawa kehancuran, bukan kemajuan.

  • Uang boleh menyewa kendaraan, menyewa ruang, menyewa suara sesaat, tapi uang tidak bisa menyewa keberkahan. Dan tanpa keberkahan, seberapa besar pun dukungan yang dikumpulkan, ia akan runtuh pada waktunya.
  • Politik uang adalah kemenangan sesaat dan kekalahan abadi. Yang menang hari ini mungkin tersenyum; tapi ia sudah membayar harganya: ia telah kehilangan kemampuan untuk berkata “tidak” kepada yang memberinya. Dan seorang pemimpin yang tak bisa berkata “tidak” kepada pemberi uang, ia tak akan bisa berkata “ya” kepada kebenaran ketika itu bertentangan dengan kepentingan pemberi tersebut.
  • Meritokrasi adalah surat mutlak pemimpin yang bermartabat. Bukan karena siapa yang mendukung, bukan karena siapa yang kaya, melainkan karena siapa yang paling memahami ajaran, paling teguh pendirian, paling jujur dalam lisan dan perbuatan, dan paling mampu berdiri tegak di hadapan siapa pun, baik penguasa maupun rakyat kecil.
Baca Juga:  Sidang Pleno Pembahasan Tatib Muktamar Ke-34 NU Sempat Ricuh

Siapa pun yang mencapai puncak dengan cara yang salah, ia tidak akan mampu memegang puncak itu dengan benar. Karena tangga yang ia gunakan untuk naik, itulah yang akan selalu ia pelihara, bukan tangga kebenaran, melainkan tangga kekuasaan dan uang. Dan pada akhirnya, ia akan terperosok jatuh dari tangganya sendiri.

Saran dan Peringatan Bersama, Agar Kita Tetap Teguh

Untuk seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama, di mana pun berada, peran apa pun yang diemban, berikut peringatan dan saran yang patut kita renungkan bersama:

Bagi Yang Memilih: Jangan Menukar Kepercayaan dengan Sesuatu yang Sesaat

  • Jangan menjual suara, dukungan, atau kepercayaan, berapa pun harganya. Karena yang Anda jual bukan milik Anda saja. Itu milik jutaan warga Nahdliyin yang menaruh harapan. Itu milik para pendiri yang dulu berjuang tanpa pamrih.
  • Pilihlah karena ilmu, integritas, keteguhan hati, dan kemampuan memimpin dengan teladan. Bukan karena janji, bukan karena fasilitas, bukan karena kedekatan dengan pihak mana pun.
  • Kalau Anda ragu, tanyakan pada diri sendiri: “Kalau beliau tidak punya harta dan kedudukan, apakah saya tetap akan memilihnya karena beliau yang paling layak?” Kalau jawabannya tidak, maka itu bukan pilihan yang benar.

Bagi Yang Dicalonkan: Jangan Membeli Apa yang Sebenarnya Bukan Milik Siapa Pun

  • Jabatan pimpinan NU bukan benda yang bisa diperjualbelikan. Itu adalah amanah dari rakyat, amanah dari para pendiri, dan amanah dari Allah SWT.
  • Kalau Anda merasa perlu membayar untuk mencapai puncak, maka Anda sebenarnya tidak layak berada di sana. Karena pemimpin yang sejati dicari karena kebutuhan umat, bukan karena kemampuan membayar.
  • Lebih baik kalah dengan jujur dan tetap dihormati, daripada menang dengan cara yang keliru dan seumur hidup harus hidup di bawah bayang‑bayang utang budi dan pengorbanan prinsip.

Bagi Seluruh Warga Nahdliyin: Jaga Kemurnian Sejak Dini

  • Jangan menormalisasi politik uang dengan berkata “sudah biasa,” “semua begitu,” atau “tak ada yang bersih.” Pernyataan itu adalah pembunuh perubahan. Kalau kita diam saja, kita sebenarnya sudah ikut membenarkan dan melanggengkan hal yang salah.
  • Ingatlah pesan kyai yang menangis: ketidakpedulian kita adalah yang paling menyakiti hati pendiri NU. Kalau kita diam ketika melihat yang salah, maka kita ikut bertanggung jawab atas kerusakan itu.
  • Meritokrasi, kemampuan, kejujuran, dan keteguhan hati, harus menjadi surat mutlak pemimpin yang bermartabat. Bukan harta, bukan jabatan, bukan pengaruh.

Kemenangan yang Berkah adalah Kemenangan yang Dicapai dengan Cara Yang Berkah

Tangisan di makam pendiri itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa masih ada hati yang masih peduli. Itu tanda bahwa kemurnian belum sepenuhnya hilang.

Biarlah air mata itu menjadi peringatan bagi kita semua: ketika kita berusaha mencapai puncak, jangan pernah menggunakan cara yang bertentangan dengan syariat dan keteladanan para pendiri. Karena cara yang salah, seberapa pun cepatnya menuju puncak; ia tak akan pernah bertahan lama. Dan kemenangan yang dibeli, harganya selalu lebih mahal daripada yang kita bayarkan.

Tetaplah teguh hati. Tetaplah berpegang pada meritokrasi. Tetaplah menjadikan kejujuran dan ketakwaan sebagai surat mutlak menjadi pemimpin yang bermartabat. Karena organisasi ini tidak berdiri di atas uang. Ia berdiri di atas doa, keteguhan, dan kejujuran. Dan selama itu terjaga, ia akan tetap tegak, apa pun yang terjadi.

Jika itu yang terjaga, maka para pendiri yang berbaring di sana pun akan tersenyum bangga.***

Komentar ditutup.

Berita Terkait

301 Profesor Turun Gunung: Mmepertahankan Arah dan Kemurnian Jalur Ilmiah
Dua Jalan Kemandirian Ekopol Negara Kita
NU: Antara Kesatuan yang Berubah Bentuk dan Perserikatan yang Tetap Padu
Ekonomi Politik NU dan Pesantren
Mekanisme Pemilihan Pimpinan NU: Menjaga Kemandirian di Tengah Tarik‑Ulur Idealisme dan Pragmatisme Politik
13 Tindak Pidana yang Dapat Dijerat UU Perampasan Aset
BON Negara Danantara: Melindungi Harta atau Melindungi Pelanggaran
Saat Ketua DPR Tak Tandatangani Surat Janji

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 21:57 WIB

Tangisan di Depan Makam Pendiri NU: Peringatan agar Kemenangan Tidak Dibeli Dengan Harga Kemurnian

Rabu, 2 September 2026 - 16:43 WIB

301 Profesor Turun Gunung: Mmepertahankan Arah dan Kemurnian Jalur Ilmiah

Rabu, 2 September 2026 - 16:31 WIB

Dua Jalan Kemandirian Ekopol Negara Kita

Rabu, 2 September 2026 - 02:21 WIB

NU: Antara Kesatuan yang Berubah Bentuk dan Perserikatan yang Tetap Padu

Selasa, 1 September 2026 - 14:29 WIB

Ekonomi Politik NU dan Pesantren

Berita Terbaru

Opini

Dua Jalan Kemandirian Ekopol Negara Kita

Rabu, 2 Sep 2026 - 16:31 WIB