JAKARTA, Mediakarya – Ketua Umum Persatuan Masyarakat Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI) Rohimat alias Kang Joker memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo (PAW).
Menurutnya, Pramono adalah tipikal pemimpin yang bekerja dalam senyap tanpa hiruk pikuk media sosial, namun prestasinya gemilang dan terasa langsung bagi warga Jakarta.
“Gubernur Pramono Anung ini bekerja dalam senyap. Tidak ada drama, tidak ada gimmick ngonten setiap hari. Tapi coba lihat hasilnya, Jakarta bergerak, program-programnya jalan, prestasinya gemilang. Ini pemimpin yang mengedepankan kinerja, bukan citra,” tegas Kang Joker kepada Mediakarya, Kamis (29/10/2026).
Kang Joker yang dikenal kritis itu kemudian membandingkan secara tajam dengan gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM.
Menurutnya, KDM adalah kebalikan dari Pramono. KDM dinilai sangat sibuk membangun citra di media sosial dengan konten-konten yang masif, namun minim substansi kinerja di lapangan.
“Kalau di Jawa Barat kita lihat Gubernur KDM ini sibuk ngonten. Sehari bisa beberapa konten. Tapi apa hasilnya? Warga Jabar sekarang sudah mulai sadar, ini hanya mengadopsi gaya lama Jokowi, mengedepankan citra dibanding kinerja. Pencitraan yang dibungkus seolah-olah merakyat,” sindir Joker tajam.
Joker menilai, masyarakat Jawa Barat mulai jenuh dengan gaya kepemimpinan yang mengandalkan kamera. Awalnya terlihat merakyat, namun lama-kelamaan publik melihat tidak ada perubahan fundamental yang dibawa.
“Gaya Jokowi itu kan sudah selesai. Rakyat sudah cerdas. Dulu mungkin berhasil dengan blusukan sambil bawa kamera. Sekarang rakyat butuh solusi nyata, bukan tontonan. Pemimpin kok kerjanya jadi content creator,” kata Joker.
Ia mencontohkan, di DKI Jakarta, Pramono Anung tidak perlu live TikTok setiap hari untuk membuktikan kerja. Kebijakan penataan kota, penanganan banjir, pelayanan publik, dan komunikasi dengan DPRD berjalan efektif tanpa perlu dibuat konten dramatis.
“PAW ini contoh pemimpin matang. Tidak butuh validasi lewat likes dan views. Dia bekerja, Jakarta merasakan. Sementara di Jabar, sibuk ngonten tapi keluhan warga soal infrastruktur, pelayanan, dan janji-janji politik masih menumpuk. Warga Jabar sudah mulai membuka mata,” pungkas Kang Joker.
Menurut PMPRI, sudah saatnya publik membedakan mana pemimpin yang bekerja nyata dan mana pemimpin yang hanya bekerja untuk algoritma media sosial. (Asp)








