HUT 62 Tahun Partai Golkar, Bangkit Sebagai Partai Karya atau Tenggelam Sebagai Partai Kuasa?

- Editor

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera partai Golkar (Ist)

Bendera partai Golkar (Ist)

Editorial Mediakarya – Edisi HUT 62 Partai Golkar

Jujur saja, perayaan HUT ke-62 Partai Golkar pada 20 Oktober 2026 kali ini terasa hambar. Tidak ada euforia gagasan, tidak ada refleksi ideologis yang dalam. Yang ada hanya parade kekuasaan: berapa menteri, berapa gubernur, berapa kursi. Padahal, pertanyaan yang menggantung di atas pohon beringin yang sudah tua ini jauh lebih fundamental.

Di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, Golkar sedang berada di persimpangan paling berbahaya dalam sejarahnya. Antara kembali ke khittah sebagai partai karya yang teknokratis, atau final menjadi partai kuasa yang murni transaksional.

Kita harus menyebutnya dengan terang. Sejak Bahlil mengambil alih kemudi Golkar, DNA partai ini berubah drastis. Jika dulu Golkar berusaha mati-matian melepaskan diri dari bayang-bayang Orde Baru sebagai partai hegemoni negara, hari ini di bawah Bahlil, Golkar justru terlihat sangat menikmati peran itu kembali. Bukan sebagai kekuatan penyeimbang, melainkan sebagai pelayan kekuasaan.

Gaya kepemimpinan Bahlil yang ceplas-ceplos, berani, dan mengklaim diri sebagai “orang lapangan” memang efektif untuk konsolidasi internal jangka pendek. Ia berhasil meredam friksi, mengunci dukungan daerah dengan pendekatan patronase yang sangat efektif. Tapi itu adalah logika pengusaha tambang, bukan logika negarawan partai.

Inilah masalah utamanya. Golkar di tangan Bahlil terlihat dikelola seperti perusahaan holding, bukan seperti partai politik modern. Ukuran keberhasilan bukan pada kaderisasi ideologis, bukan pada lahirnya think tank kebijakan, bukan pada keberanian mengkritik pemerintah padahal kader Golkar ada di dalam pemerintah itu sendiri — melainkan pada seberapa dekat dengan lingkar Istana, seberapa banyak akses yang didapat.

Lihatlah apa yang terjadi. Doktrin kekaryaan yang dibanggakan sejumlah kader senior terkait doktrin tentang kerja nyata, pembangunan, dan teknokrasi — kini tereduksi menjadi doktrin “asal karya dapat proyek”. Kader Golkar yang duduk di kabinet dan di daerah memang banyak, paling banyak. Tapi publik bertanya, karya apa? Di mana terobosan kebijakan yang lahir dari rahim Golkar dalam dua tahun terakhir di bawah Bahlil? Yang terdengar justru manuver politik, bukan manuver gagasan.

Baca Juga:  Menuju Negara Sosial(Isme) Yang Berdaulat

Bahlil membawa Golkar pada jebakan yang pernah hampir membunuh partai ini pada 1999, Bahlil membawa Golkar menjadi partai penguasa, bukan partai rakyat. Bedanya, dulu Golkar menjadi alat negara Orde Baru. Hari ini, Golkar di bawah Bahlil berisiko menjadi alat kepentingan oligarki baru yang berbaju partai.

Dampaknya sudah terlihat. Di kalangan akar rumput, militansi kader memudar. Mereka bukan lagi kader ideologis, tapi kader yang menunggu komando dan jatah. Di kalangan pemilih muda, Golkar di era Bahlil semakin sulit dibedakan dengan partai-partai lain yang berbasis figur dan patronase. Padahal, pemilih muda 2029 tidak mencari sosok Bahlil yang kedua, ketiga, atau keempat. Mereka mencari partai yang bisa menjawab kecemasan mereka soal pekerjaan dan masa depan.

Jika Bahlil tidak mengubah haluan, maka HUT ke-62 ini bukan titik balik, melainkan titik awal keterpurukan yang lebih dalam. Golkar butuh lebih dari sekadar Ketua Umum yang bisa melobi dan membagi kue. Golkar butuh Ketua Umum yang berani memotong kue itu sendiri untuk dibagikan kepada rakyat. Golkar butuh pemimpin yang berani mengatakan kepada kadernya yang menjadi menteri dan kepala daerah, “Jika kalian korup dan tidak berprestasi, kalian bukan bagian dari kami, meski kalian membawa bendera kuning.”

Tanpa keberanian itu, peringatan para kader senior bahwa Golkar tidak boleh sekadar mengisi jabatan hanya akan menjadi angin lalu.

Tugas Bahlil hari ini bukan menambah jumlah kader di pemerintahan. Tugas sejarah Bahlil adalah membuktikan bahwa Golkar bisa bersih dan berprestasi di dalam pemerintahan. Jika ia gagal, maka ia akan dikenang bukan sebagai penyelamat Golkar, melainkan sebagai Ketua Umum yang berhasil membuat Golkar bertahan secara fisik, tapi mati secara ideologis.

Di usia 62 tahun, pohon beringin seharusnya sudah berbuah lebat, bukan sekadar memperlebar akar untuk mencengkeram tanah kekuasaan.

Selamat ulang tahun, Golkar. Pilihan ada di tangan Bahlil, menjadi negarawan yang membangkitkan partai karya, atau tetap menjadi makelar kuasa yang pada akhirnya akan ditinggalkan zaman.

Oleh: Tim Redaksi

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?
Menemukan Arah Baru Politik Umat
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Patronase Politik Jadi Kunci Konsolidasi
Nasib MK dan Pencarian Keadilan Konstitusional: Rakyat Menunggu Bukti Terverifikasi
Nurani di Ujung Jabatan
Seandainya Jokowi Itu Messi
Arogansi di Kantor DLH Kabupaten Bekasi: Ketika Pejabat Lupa Siapa yang Menggajinya
Kantor Dinas LH Adalah Ruang Publik-Bukan Istana Tertutup

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:30 WIB

HUT 62 Tahun Partai Golkar, Bangkit Sebagai Partai Karya atau Tenggelam Sebagai Partai Kuasa?

Senin, 19 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:50 WIB

Menemukan Arah Baru Politik Umat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:38 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Patronase Politik Jadi Kunci Konsolidasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Nasib MK dan Pencarian Keadilan Konstitusional: Rakyat Menunggu Bukti Terverifikasi

Berita Terbaru

Juru Bicara PDI Perjuangan, Guntur Romli, (Ist)

Nasional

PDIP Tolak Keras Rencana Penyaluran Gaji ASN Lewat KDMP

Senin, 19 Okt 2026 - 18:15 WIB