Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?

- Editor

Senin, 19 Oktober 2026 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: Ist)

Ilustrasi (Foto: Ist)

Oleh: Indra D Himrat –  Redaktur Pelaksana Mediakarya.id

Jangan terkecoh dengan narasi reshuffle. Pencopotan Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) dari kursi Menteri Perindustrian bukanlah degradasi, melainkan promosi politik.

Penulis menganalisis bahwa ini adalah sinyal paling telanjang bahwa Istana Negara telah memberi lampu hijau, bahkan restu penuh, kepada putra mahkota Ginanjar Kartasasmita itu untuk mengambil alih kemudi Partai Golkar dari tangan Bahlil Lahadalia Ketum Golkar titipan Joko Widodo.

Reshuffle yang dilakukan Prabowo Subaianto baru-baru ini bukan sekadar pergantian menteri. namun diduga merupakan operasi politik dalam rangka merebut kembali Golkar dari cengkeraman titipan Jokowi.

Catur Sarmuji: Jebakan Manis untuk Bahlil

Mari kita bedah langkah kuda Prabowo yang sangat cerdik. Muhammad Sarmuji, Sekjen Golkar yang juga Ketua Fraksi Golkar DPR RI, tiba-tiba ditarik menjadi Menteri Perindustrian menggantikan AGK. Di permukaan, ini terlihat sebagai kenaikan kelas bagi Sarmuji. Tapi sesungguhnya, ini adalah strategi melumpuhkan.

Jabatan Ketua Fraksi adalah jabatan paling vital bagi seorang Sekjen untuk mengontrol parlemen dan mengendalikan gerbong kader di Senayan. Dengan menarik Sarmuji ke kabinet, Prabowo secara halus mencabut taring Sarmuji di DPR.

Ingat, jabatan menteri bukan jabatan berdaulat. Menteri adalah pembantu presiden. Hari ini dilantik, besok bisa di-reshuffle. Itu hak prerogatif absolut presiden. Sarmuji kini berada dalam genggaman Istana, bukan lagi di menara gading Fraksi yang bebas bermanuver. Lalu siapa yang paling diuntungkan? tentunya adalah AGK.

Begitu lepas dari kabinet, AGK kini menjadi manusia bebas. Ia tidak lagi terbelenggu protokol menteri. Ia bisa blusukan, safari politik, konsolidasi dari Aceh hingga Papua, merangkul DPD I dan DPD II yang sudah lama muak dengan gaya kepemimpinan Bahlil yang sentralistik dan oligarkis.

Bahlil, Sang Ketua Umum Titipan yang Kehilangan Panggung

Fakta pahit harus diakui, bahwa Bahlil Lahadalia adalah Ketua Umum Golkar paling lemah legitimasi dalam sejarah beringin. Ia naik bukan karena keringat kader, tapi karena restu Jokowi di penghujung kekuasaannya. Ia adalah simbol Jokowi di tubuh Golkar. Kini, tuannya sudah lengser. Pelindungnya sudah tidak lagi di Istana.

Baca Juga:  Memunggungi Pancasila

Kader Golkar di daerah tidak bodoh. Mereka melihat elektabilitas partai stagnan, konsolidasi berantakan, dan citra Golkar sebagai partai kader telah berubah menjadi partai pengusaha tambang, pada gilirannya tingkat kepercayaan anjlok.

Maka desakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) bukan lagi bisik-bisik, tapi sudah menjadi teriakan. Bagi Golkar, Munaslub bukanlah barang haram. Sejarah mencatat sejumlah ketum Golkar dilahirkan melalui Munaslub.

Dari Akbar Tandjung ke Jusuf Kalla, dari Setya Novanto ke Airlangga Hartarto, hingga Bahlil Lahadalia, semua lahir dari Munaslub. Jadi mengapa harus takut dengan Munaslub untuk mendongkel Bahlil?

Cara Halus Singkirkan Orang Jokowi

Posisi Bahlil saat ini sebagai Menko pun harus dibaca sebagai bentuk degradasi halus. Dari Menteri Investasi yang super body, yang bisa membagi-bagi konsesi tambang dan mengatur triliunan investasi, kini hanya menjadi Menko yang lebih banyak berkoordinasi tanpa eksekusi langsung. Namun ini adalah cara halus Istana untuk melucuti senjata orang-orang Jokowi dari lingkar kekuasaan inti.

Prabowo tidak ingin Golkar, partai penopang utama pemerintahannya, dikendalikan oleh loyalis Jokowi yang sewaktu-waktu bisa menjadi duri dalam daging. Prabowo butuh Golkar yang steril, Golkar yang loyal sepenuhnya kepada Istana-nya, bukan Istana yang lama.

AGK adalah figur yang pas. Ia darah biru Golkar. Anak Ginanjar Kartasasmita. Ia diterima oleh senior, dirangkul oleh junior. Ia bukan orang Jokowi, tapi orang Golkar sejati. Kesimpulannya jelas, pencopotan AGK adalah skenario pembebasan. Sarmuji ditarik ke Istana untuk diamankan. Dan Bahlil sedang digiring pelan-pelan menuju pintu keluar lewat Munaslub.

Istana sudah bergerak. Golkar akan segera kembali ke khittahnya. Era Bahlil, era titipan Jokowi, sedang dihitung mundur.

Pada akhirnya, semua dinamika ini adalah bagian dari pendewasaan demokrasi. Harapannya, apapun keputusan yang diambil, tetap berorientasi pada kepentingan bangsa yang lebih besar, bukan sekadar kepentingan kelompok. Publik tentu menantikan langkah terbaik untuk kemajuan bersama.

Namun demikian, analisis ini masih terbuka untuk didiskusikan lebih lanjut. Perbedaan sudut pandang justru memperkaya khazanah demokrasi kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap mengedepankan etika politik dan kepentingan rakyat.*

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Menemukan Arah Baru Politik Umat
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Patronase Politik Jadi Kunci Konsolidasi
Nasib MK dan Pencarian Keadilan Konstitusional: Rakyat Menunggu Bukti Terverifikasi
Nurani di Ujung Jabatan
Seandainya Jokowi Itu Messi
Arogansi di Kantor DLH Kabupaten Bekasi: Ketika Pejabat Lupa Siapa yang Menggajinya
Kantor Dinas LH Adalah Ruang Publik-Bukan Istana Tertutup
Pasca Putusan MK: Siapkah MPR Bergerak Produktif dan Berintegrasi?

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:50 WIB

Menemukan Arah Baru Politik Umat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:38 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Patronase Politik Jadi Kunci Konsolidasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Nasib MK dan Pencarian Keadilan Konstitusional: Rakyat Menunggu Bukti Terverifikasi

Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:36 WIB

Nurani di Ujung Jabatan

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto: Ist)

Opini

Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?

Senin, 19 Okt 2026 - 06:30 WIB