Oleh Agus Wahid
Belum lama ini, tepatnya Rabu, 8 April 2026, Presiden Prabowo Subianto dalam acara memberikan taklimat kepada anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka menggambarkan karakter rakyat Iran yang keras kepala atau koppig (bahasa Belanda).
Keras kepala tersebut menurut Prabowo baik. Berarti, ia atau mereka memiliki keteguhan dan keberanian dalam mempertahankan prinsip dan kedaulatan bangsa. Bukan berarti, tak mendengarkan pendapat orang lain.
Layak kita cermati pernyataan Prabowo itu. Karena, mengandung dua makna paradoks: positif dan negatif. Hal ini perlu kita refleksikan lebih jauh dalam spektrum global dan domestik.
Yang menarik untuk kita analisis, pernyataan Prabowo yang memberikan contoh Iran keras kepala. Diksi “keras kepala” dalam kamus bahasa manapun bernilai negatif. Maka, pernyataan Prabowo secara konotatif sejatinya menyalahkan perlawanan militeristik negeri “Mullah” itu, meski diartikan juga baik, karena mengandung makna punya prinsip demi kedaulatan suatu bangsa dan negara. Lalu, sebenarnya ke mana arah penilaian Prabowo itu?
Jika merever kamus bahasa, perlawanan Iran itu secara fakual memang telah berdampak negatif dan cukup serius bagi kondisi global saat ini. Dunia kini dibayang-bayangi krisis energi bahkan krisis ekonomi global. Untuk negara-negara tertentu, kondisi global itu mengancam kondisi domestik suatu negara.
Dan itu semua tak lepas dari implikasi kebijakan yang keras kepala Iran, baik sebagai pimpinan negara atau rakyat yang mendukungnya. Secara a priori dan subyektif, Iran dalam benak Prabowo bisa dinilai tak punya empati terhadap kepentingan global.
Kiranya tidaklah berlebihan jika muncul opini bahwa penggiringan persepsi itu cacat logika atau menyesatkan. Prabowo bisa dinilai gagal memahami landasan fundamental mengapa Iran melawan total terhadap Zionis Israel yang didukung penuh AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Data bicara, perlawanan Iran itu karena kebiadaban negeri Zionis yang sudah berlangsung puluhan tahun lalu terhadap bangsa Palestina. Juga menjadi ancaman serius terhadap negara-negara sekitar, termasuk Iran itu sendiri. Disadari sepenuhnya, keterancaman sejumlah negara Arab karena Israel memang disett up sebagai “duri” di Timur Tengah. Dan duri itu dipelihara untuk menciptakan destabilitas kawasan Timur Tengah itu. Untuk kepetingan ekonomi globalis dan geopolitik negara-negara imperialis.
Di mata Iran, sejarah panjang kebiadaban para imperialis terhadap umat manusia, terutama terhadap bangsa Palestina harus diakhiri. Karenanya, Iran kini mengambil prakarsa perlawanan secara militeristik yang kekuatannya sama sekali tak terduga. Bumi Israel pun banyak dibombardir sebagai upaya sistematis menghentikan imperialisme Zionis terhadap hak-hak kemanusiaan bangsa Palestina yang dimulai jauh sebelum negeri Zionis berdiri pada 14 Meri 1948.
Data sejarah mencatat, jauh sebelum Israel berdiri, terjadi Perjanjian Mark Syks (Inggris) Francois George Picot (Prancis) pada 16 Mei 1916, yang salah satu isinya menjadikan wilayah Palestina sebagai koloni Inggris. Setahun kemudian (1917) keluarlah pernyataan James Balfour, yang dikenal dengan Balfour Declaration, yang intinya mengerahkan Yahudi internasional untuk masuk ke Tanah Palestina dengan dukungan politik dan militer Inggris kala itu.
Dari Balfour Declaration itulah, pada 3 Juli 1922, terbit Buku Putih dari Perdana Menteri Inggris keturuan Yahudi, Winston Charchil. Buku Putih ini secara gamblang mendorong dan memaksakan bangsa Yahudi Zionis memasuki Palestina dan difasilitasi pembangunan pemukiman nasional Yahudi di Palestina. Dan secara bersamaan, terjadi perampasan tanah warga Palestina.
Fakta historis juga bicara, negara-negara sekitarnya seperti Libanon terus dalam tekanan militeristik Israel. Dua camp pengungsi (Sabra dan Shatila) di Libanon Selatan menjadi saksi sejarah pembantaian umat manusia yang sangat biadab.
Seperti yang digambarkan seorang relawan kemanusiaan, dokter patologi kelahiran Penang (Malaysia) yang dibesarkan di Singapura, Ang Swee Chai, dalam bukunya From Beirut to Jerussalem, terjadi pembantaian sekitar 2000 anak-bangsa Palestina, tanpa memandang jender dan usia. Tregedi yang sangat biadab itu terjadi pada 16 – 18 September 1982 di bawah komando Jend “penjegal” Ariel Sharon.
Kebiadaban Israel Zionis yang berpuluh tahun sebelumnya itu seperti tak dilihat dengan jernih, sehingga persepsi yang dibangun adalah kondisi Israel dan warga negaranya saat ini harus menghadapi risiko perang terbuka. Saat ini, ketika Iran melakukan perlawanan ekstra secara militer, posisi Israel dan warga negara dilihat sebagai korban.
Karenanya, salah satu Menteri Kabinet Merah Putih saat ini, Natalius Pigai menilai Iran melanggar HAM. Sebuah penilaian yang fragmentatif dan a historis, sekaligus miskin bacaan. Atau, berpihak ke Israel tapi super ngawur. Stupid bin foolish. Karenanya, opini yang dibangun itu sangat dipertanyakan validitasnya dan obyektivitasnya. Paradok dengan jatidirinya sebagai tokoh HAM nasional.
Perlawanan Iran yang sejatinya sarat dengan misi kemanusiaan, yakni menghentikan kebiadaban Israel itu sekali lagi – tak dilihat secara proporsional oleh Prabowo. Juga, tidak dilihat secara proporsional oleh Donald Trump. Terbukti, Trump justru melakukan tekanan politik bahkan secara militer terhadap Iran yang hingga kini belum berhenti.
Sikap dan cara pandang Prabowo itu menggambarkan gagal paham dalam melihat causa prima persoalan konflik Israel-Palestina. Sungguh ironis, sebagai negara yang dalam Priambul UUD 1945 mengecam penjajahan di muka bumi tapi justru berpihak pada Zionis Israel dan sekutunya.
Namun demikian, catatan Prabowo tentang keras kepala cukup proporsional jika dialamatkan ke Natanyahu dan Trump. Kedua pemimpin negara ini memang benar-benar menunjukkan arogansinya dan tak menghiraukan suara hati pro kemanusiaan dari berbagai belahan dunia, termasuk dari warga negaranya (Israel dan AS).
Data bicara, perlawanan Iran selama sebulan lebih telah mengakibatkan, tidak hanya kehancuran teritorial negeri Zionis itu, tapi kekacauan hidup warga negaranya. Puluhan bahkan ratusan ribu warga Yahudi menderita fisik dan mental. Rengekan dan keberlarian mereka yang berusaha menyelamatkan diri tidak digubris oleh Netanyahu.
Serupa dengan pemandangan warga Israel, ratusan ribu warga Amerika juga melancarkan kritik keras terhadap Donald Trump. Mereka dengan jumlah kisaran empat juta orang turun ke jalan di berbagai kota AS, mendesak agar menghentikan dukungan militeristiknya terhadap Netanyahu.
Gelombang kritik warga negara AS juga diperlihatkan puluhan jenderal dan kalangan elitis AS, termasuk Barrack Obama dan Kemala Haris. Tapi, suara kontra yang massif itu benar-benar dianggap sepi oleh Trump. Bahkan, ancaman politiknya yang siap mengimpeach kekuasaan dirinya juga tetap tidak digubris.
Sikap politik Netanyahu dan Donald Trump benar-benar mencerminkan karakter keras kepala. Sikap itu tidak akan berimplikasi serius jika posisinya bukan sebagai orang nomor satu negara. Sementara, dengan posisinya sebagai orang nomor satu suatu negara, hal ini mengkibatkan korban ratusan ribu orang, kehancuran sarana dan prasarana (infrastruktur) kedua pihak yang berperang, di samping miliaran dolar terimbas negatif sebagai wujud krisis energi yang berdampak pada krisis ekonomi global.
Kita perlu menelisik lagi, sekali lagi, Prabowo gagal memahami karakter keras kepala seorang Netanyahu dan Donald Trump. Jika menelaah seorang Netanyahu, hal ini sudah digambarkan lebih detail tentang sifat bangsa Israel atau Yahudi yang berhati keras (qaswatul qulub), terinformasikan dalam Q.S. Al-Baqarah: 74.
Hatinya yang keras kepala itu membuat hatinya tertutup, tak pernah mau mendengar suara kebenaran (Q.S. al-Baqarah: 88). Tidak hanya itu karakter buruknya. Sifatnya yang jahat itu juga ditambah dengan hobinya merusak, tidak hanya terhadap lingkungan alam, tapi juga suka membantai umat manusia (Q.S. al-Isra: 4). Gemar memerangi bangsa-bangsa lain menjadi bukti nyata.
Sementara, hati keras seorang Trump memang tak jauh dari cacat bawaan mental sejak lahir. Karenanya, sungguh heran, sebagian publik AS yang notabene well inform atau melek politik kok bisa terjerumus pada pilihan yang keliru total. Benar-benar kecelakaan sejarah yang aneh, karena terjadi di sebuah negara besar dan maju.
Apapun landasan agamis dan sosio-psikologis politik itu, harusnya dibaca dengan jernih oleh Prabowo. Pertanyaannya, apakah inner circle-nya diam atau tak memberikan catatan tertentu terhadap kedua pemimpin bromocorah itu? Kecil kemungkinannya. Dengan demikian, menjadi pertanyaan mendasar, apakah Prabowo juga seorang koppig? Maybe yes. Sebuah jawaban yang sangat related.
Sikap dan atau jawaban itu dalam spektrum nasional terkonformasi jelas, mengapa Prabowo relatif mengabaikan suara jernih berbagai elemen bangsa yang demikian gerah menyaksikan the existing of Solo`s geng di Kabinet Merah Putih? Mengapa tuntutan untuk mencopot Sigit Prabowo dari singgasana Kapolri dan Tito Karnavian di Kemendagri dan Luhut Binsar Panjaitan diabaikan hingga kini?
Juga, mengapa suara gemuruh yang mengkritisi kebijakan makan gizi gratis (MBG) yang jelas-jelas menjadi bancakan (korupsi) para elitis tak pernah direspon secara proporsional? Yang terjadi justru sebaliknya: terus melawan para pengkritik. Bahkan, kini sedang berproses ke tindakan kriminalisasi terhadap para kritikus itu dengan dalih makar, padahal itu ilusi atau halusinasi.
Harus kita catat, makar akan berjalan efektif jika terdapat penyatuan rapi antara barisan pertahanan-keamanan dengan gerakan rakyat. Karena itu layak kita pertanyakan, apa yang digalaukan dari gelombang kritik sejauh tiadanya indikasi faktual kebersatuan sinergis dua komponen strategis itu (tentara dan rakyat).
Jika halusinasi itu memang didasarkan informasi intelegen yang valid, maka yang harus dibersihkan justru adanya pembangkangan dari elemen tentara. Jika pembangkangan itu memang ada, kembali pada premis: mengapa Prabowo masih mempertahankan sejumlah “duri” dari anasir Solo yang tak pernah henti menggerogoti kekuasaannya?
Berkaca dari beberapa mantan presiden lalu seperti SBY dan Megawati yang tergolong “adem-adem” saja pasca lengser keprabon, maka muncul pertanyaan yang related, mengapa Jokowi masih getol untuk kembali ke kekuasaan, meski direpresentasikan anaknya?
Jawabnya bukan sekedar masalah politik dinasti, tapi apa ideologi yang mandarah-daging dalam dirinya. Jawabannya satu: hanya komunis yang tetap terobsesi untuk kembali ke kekuasaan. Tujuannya hanya satu: megkomuniskan bangsa dan negeri ini. Inilah yang harus diwaspadai dan dijadikan kesadaran bersama secara nasional. Ambisi kekuasaan yang sangat ideologis itu diperkuat oleh kekuatan oligarki, yang merasa tak seleluasa gerakannya di bawah kepemimpinan Jokowi yang under capacity itu.
Jika topografi politik itu dipahami dan dijadikan platform politik nasional, maka tak ada kata lain bagi Prabowo untuk menghabisi anasir komunis dan oligarki yang tak tahu diri itu, bukan para kritikus yang sejatinya cinta negeri ini. Prabowo harus menyadari gerakan perlawanan yang sangat sistematis dan terencana rapi, termasuk mobilisasi financingnya karena dorongan kuat jargon komunis dan back up manusia-manusia oligarki itu.
Akhirnya, kita bisa menggarisbawahi, sifat keras kepala (koppig) seorang pemimpin harus dilihat dengan jernih perbedaan arah diksinya. Perlawanan Iran terhadap para agresor seperti Israel dan AS harus dilihat sebagai refleksi keterpanggilan pro kemanusiaan dan anti imperialisme atau hegemoni.
Sementara, sifat koppig itu secara domestik – harus dinilai sebagai muhasabah, lalu ditindaklanjuti langkah-langkah konstruktif untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan sebaliknya, apalagi menuduh makar. Agar, Prabowo terlepas dari jeratan karakter keras kepala (koppig) dalam terminologi negatif. Mungkinkah muncul kesadaran baru? Tak ada jaminan, karena Prabowo juga terkenal sebagai sosok temperamental. Tapi, Allah Maha membolak-balikkan hati: memungkinkan Prabowo tersadar dan kembali ke jalan benar. Semoga, inilah yang terjadi.
Penulis: Analis politik dan kebijakan publik






