JAKARTA – Peneliti GMT Institute, Agustinus Tamtama Putra menyampaikan, dalam kurun waktu seratus hari Penjabat (Pj) Gubernur DKI Heru Budi Hartono bekerja di Jakarta, terlihat bergerak ekstra cepat untuk menyelesaikan berbagai persoalan, salah satunya transportasi massal.
Menurutnya, Heru Budi Hartono komitmen untuk menjalankan instruksi Presiden Joko Widodo agar menjadikan Jakarta sebagai kota percontohan angkutan massal. Hal ini, kata Tamtam, merupakan upaya yang selaras dengan status Jakarta ke depan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).
“Tentu saja, angkutan massal merupakan satu dari banyak elemen penting yang berperan menyangga mobilitas masyarakat yang kemudian pada gilirannya memutar pula roda perekonomian Jakarta,” ujar Tamtam di Jakarta, Senin (16/1/2023).
Tamtam menjelaskan, menilai Jakarta ke depan bisa dilihat dari aspek transportasi ini lantaran ukuran kemajuan dan keberhasilan sebuah negara salah satunya dilihat dari ketersediaan, kenyamanan dan kompatibilitas dari sarana transportasi publik.
“Sebagaimana di Jepang yang sudah sangat maju dalam hal angkutan umum, angkutan massal di Jakarta juga krusial dan vital. Jakarta dibanjiri jutaan manusia yang datang dan pergi untuk bekerja di wilayahnya,” katanya.
“Setidaknya lebih dari 100 juta perjalanan (trip) yang terjadi di Jakarta. Ini tentu saja mensyaratkan sarana transportasi publik yang nyaman, kompak dan terintegrasi demi mobilitas yang lancar,” lanjutnya.
Tamtam menilai, Jakarta nantinya dapat menyamai Jepang dalam ketersediaan, ketepatan waktu dan kenyamanan alat transportasi publik. Ia mengatakan bahwa Transportasi massal sangat efektif dalam menunjang perekonomian.
“Jakarta sebagai poros ekonomi nasional menyumbang 17% Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dari akumulasi 25% kontribusi Jabodetabek terhadap PDB Nasional. Ini tentu saja angka yang tinggi di level nasional. Maka ketersediaan sarana trasportasi publik merupakan utama untuk terus mendongkrak sektor ekonomi ini,” tegasnya.
Pemprov DKI, lanjut Tamtam, nampak sedang merencanakan pembangunan dan peningkatan sarana trasportasi publik hingga tahun 2030. Menurutnya, keseriusan Heru terlihat saat merencanakan pengembangan jalur – jalur dan ketersediaan unit angkutan massal.
“Perluasan dan perpanjangan trayek serta pengadaan unit akan kemudian memperluas jangkauan transportasi massal. Orang-orang akan lebih mudah mengakses sarana transportasi dan dengan demikian mudah pula untuk bepergian guna bekerja dan beraktivitas,” tandasnya.
“Lengkap dengan anggaran dan estimasi biayanya, Heru Budi Hartono kiranya sudah mencoba menjawab permintaan presiden. Tinggal kita lihat pelaksanaan ke depannya seperti apa,” pungkasnya.











