Pengungkapan Kasus Dugaan Korupsi Pompanisasi Mandek, ETOS: Siapa di Belakang Kepala Dinas SDA Pemprov DKI?

- Penulis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah,

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah,

JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah mengapresiasi langkah Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo yang sangat terbuka terhadap lembaga penegak hukum dalam menangani tindak korupsi di lingkungan Kementerian PU.

Sikap Menteri PU itu sekaligus memastikan tidak ada upaya untuk menutupi proses hukum yang diduga menyeret sejumlah anak buahnya. Pihaknya pun menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.

Iskandarsyah menilai langkah Menteri PU merupakan sosok pemimpin yang memiliki integritas. Meski permasalahan hukum itu menjerat anak buahnya, namun dia tidak meu menutupi, apalag melindugi anak buah yang diduga terlibat dalam praktik korupsi.

Lantas Iskandar membandingkan dengan proses pananganan kasus dugaan korupsi proyek pengadan pompanisasi di DKI Jakarta yang diduga menyeret nama Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin.

Iskandar menduga kasus korupsi dengan kerugian negara berjumlah triliunan rupiah itu sengaja ditutup-tutupi oleh kelompok tertentu demi menjaga citra Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung.

“Bila ada korelasinya dengan parpol tertentu, maka harus kita tahu parpol apa. Karena pemilihan Komisioner KPK maupun Kepala Kejagung melalui proses politik di Komisi III DPR RI,” ungkap Iskandar kepada sejumlah awak media di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, jika proses penegakan hukum di Indonesia masih diintervensi oleh kelompok atau parpol tertentu, dia mengaku pesimis kasus dugaan korupsi pompanisasi di SDA DKI Jakarta dapat diungkap.

“Kami menduga bahwa KPK dan Kejaksaan Agung sudah ‘masuk angin’ dalam menangani kasus dugaan korupsi di SDA DKI. Untuk itu, Etos Indonesia mendorong agar Ketua Komisi III DPR RI segera memanggil Ketua KPK dan Kepala Kejaksaan Agung mempertanyakan kenapa hingga saat ini kasus dugaan korupsi di SDA DKI itu jalan di tempat,” katanya.

Baca Juga:  Kemenkes: Kasus Positif Turun 40 Persen dan Kematian 48 Persen

Padahal kata Iskandar, bahwa kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi pompanisasi di DKI dalam dua dekade ditaksir hingga Rp20 triliun. “Itu uang rakyat Jakarta, amanah rakyat Jakarta. Jangan-jangan sejumlah uang itu sudah disawer ke parpol pelindung kepala Dinas SDA itu,” kata Iskandar.

Iskandar menegaskan, pihaknya siap membongkar siapa-siapa saja yang diduga ikut terlibat dalam kasus ini. “Termasuk parpol mana yang terindikasi terlibat mainan barang ini,” kata Iskandar.

Ketika ditanya apakah ada korelasinya dengan gubernur DKI yang notabene merupakan berasal dari parpol tertentu, dengan tegas Iskandar mengatakan bahwa permasalahan itu tidak perlu dijabarkan panjang lebar.

“Silahkan publik menilai, jika benar bahwa gubernur melindungi anak buahnya, yang jelas kasus ini akan menjadi beban politik bagi Pramono itu sendiri. Terlebih jika Pram  memiliki syahwat politik untuk maju pada Pilpres mendatang. Tentu akan menjadi bola panas yang sewaktu-waktu bakal diungkap oleh musuh-musuh politiknya,” ujar Iskandar.

Untuk itu kata Iskadnar, jika Pramono tidak mau tersandera dengan kasus tersebut maka tidak ada jalan lain selain mendukung KPK dan Kejaksaan Agung untuk mengungkap kasus dugaan korupsi pengadaan pompanisasi di DKI itu.

Sebab, projek tersebut bukan hanya di era Mas Pram saja, di era gubernur sebelumnya juga ada kebocoran, dan disinyalir pemain orang dalamnya sama.

“Harusnya Mas Pram belajar dari Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo yang tidak mau melindungi anak buahnya yang diduga bersalah,” pungkaas Iskandar.  (Mam)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

MAKI Apresiasi Langkah Presiden Prabowo Redam Ketegangan Polri vs Kejagung
PMPRI: Ketegangan Polri vs Kejagung Jadi Momentum Bersihkan Lembaga Hukum dari Oknum Penyalahguna Wewenang
Alat kekuasaan dan Sampah Negara: Sebuah Telaah Kritis atas Turbulensi Penegakkan Hukum
Febrie Adriansyah Resmi Mundur, Kapuspenkum Pastikan Roda Organisasi di Lingkungan Jampidsus Tetap Berjalan
Rumah Sentul Tak Tercantum di LHKPN, Febrie Klarifikasi Temuan Uang dan Emas
Aktivis Jakarta Diminta Jadi Motor Perubahan Menuju Kota Global
Perumda Dharma Jaya Realisasikan 816 Titik Bazar Pangan, Perluas Akses Daging Murah di Jakarta
Ratusan Kader Senior Parpol di Jabar Bergabung ke PSI, Ketua Bappilu Sebut Partainya Sangat Terbuka
Berita ini 112 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:54 WIB

MAKI Apresiasi Langkah Presiden Prabowo Redam Ketegangan Polri vs Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 - 15:12 WIB

Alat kekuasaan dan Sampah Negara: Sebuah Telaah Kritis atas Turbulensi Penegakkan Hukum

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:10 WIB

Febrie Adriansyah Resmi Mundur, Kapuspenkum Pastikan Roda Organisasi di Lingkungan Jampidsus Tetap Berjalan

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:00 WIB

Rumah Sentul Tak Tercantum di LHKPN, Febrie Klarifikasi Temuan Uang dan Emas

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:45 WIB

Aktivis Jakarta Diminta Jadi Motor Perubahan Menuju Kota Global

Berita Terbaru

Jampidsus Febrie Adriansyah saat memberikan keterangan pers. (Ist)

Hukum

IPW Apresiasi Mundurnya Febrie Adriansyah dari Jampidsus

Minggu, 12 Jul 2026 - 07:15 WIB

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ekonomi & Bisnis

Pakar Ingatkan Dampak Kerusakan Hukum Terhadap Ekonomi

Sabtu, 11 Jul 2026 - 20:52 WIB