Politisi PKS Angkat Bicara Soal Wacana Pilkada Tanpa Wakil

- Editor

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pilkada. (Foto: istimewa)

Ilustrasi Pilkada. (Foto: istimewa)

“Usul ini sebenarnya bagus, tapi akarnya ada pada kedewasaan berpolitik. Karena kehadiran wakil kan sebenarnya agar bisa berbagi tugas dengan kepala daerah,” ujar Mardani dalam keterangan persnya, Kamis (13/8/2026).

Politisi Fraksi PKS ini menilai kepala daerah dan wakilnya harus memahami bahwa mandat yang diperoleh melalui Pilkada merupakan amanah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Target pembangunan dan pelayanan publik yang luas dan berat, semestinya menjadi tanggung jawab bersama, bukan justru menjadi sumber persaingan kekuasaan.

“Target melayani masyarakat itu luas dan berat. Tapi jika semua berpikir jangka pendek dan hanya soal target kekuasaan, akhirnya kepala daerah dan wakilnya jadi selalu bertengkar,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, wacana Pilkada tanpa wakil tidak boleh hanya didasarkan pada pertimbangan efisiensi jabatan atau fenomena pecah kongsi antara kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Namun perlu dilihat persoalan yang lebih mendasar, yaitu mengapa pasangan yang dipilih bersama oleh masyarakat justru tidak selalu mampu bekerja bersama setelah memperoleh mandat kekuasaan.

Menurutnya, mekanisme Pilkada dan tata kelola pemerintahan daerah perlu mempertimbangkan kemampuan struktur kepemimpinan dalam menghasilkan keputusan yang cepat, pembagian kerja yang jelas, birokrasi yang solid, pelayanan publik yang efektif, serta pembangunan yang tidak terganggu konflik politik di antara dua pucuk pimpinan daerah.

Bahkan, persoalan tersebut perlu dilihat sejak proses pencalonan. Pembentukan pasangan kepala daerah selama ini dapat dipengaruhi berbagai kepentingan, mulai dari pemenuhan persyaratan pencalonan, kalkulasi elektoral, representasi partai, hingga penggabungan modal politik yang berbeda.

“Pasangan kepala daerah merupakan produk koalisi dengan berbagai pertimbangan social capital, political capital, dan economic capital,” terangnya.

Karena itu, pihaknya menilai pembahasan perubahan regulasi Pilkada maupun pemerintahan daerah tidak semestinya hanya berfokus pada pilihan apakah wakil kepala daerah tetap dipilih atau ditunjuk. Namun, jauh lebih penting adalah mendesain ulang hubungan kerja kepala daerah dan wakil kepala daerah. Ini agar mandat yang diperoleh bersama tidak berubah menjadi kompetisi kekuasaan setelah Pilkada selesai.

Baca Juga:  Cabup Berinisial 'S' Diduga Pakai Ijazah Palsu, Warga Laporkan Pengelola Kelompok Belajar Ke Mapolres Bukittinggi

Ia mengusulkan agar pembagian tugas antara kepala daerah dan wakilnya diperjelas sejak awal pemerintahan. Wakil kepala daerah, kata Mardani, perlu memiliki ruang kerja dan tanggung jawab yang terukur sehingga tidak sekadar menunggu delegasi kepala daerah, namun tetap tidak menciptakan dua pusat komando dalam birokrasi.

“Kepala daerah tetap memegang otoritas akhir pemerintahan, sementara wakil memiliki portofolio yang jelas untuk membantu pencapaian target pembangunan daerah,” jelasnya

Mardani juga menilai visi, pembagian peran, dan target kinerja pasangan kepala daerah perlu ditempatkan sebagai satu kesatuan yang dapat dievaluasi oleh publik.Jika keduanya maju dan dipilih sebagai satu pasangan, tanggung jawab politik mereka kepada masyarakat juga harus dijalankan sebagai satu pemerintahan sampai akhir masa jabatan.

Ia berpandangan, disharmoni kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat mengganggu efektivitas pemerintahan dan pelayanan publik. Namun, penghapusan jabatan wakil juga memiliki risiko, antara lain konsentrasi kekuasaan dan berkurangnya mekanisme kesinambungan kepemimpinan.

“Karena itu, menghapus jabatan tanpa menyelesaikan akar persoalan politik belum tentu menghasilkan pemerintahan daerah yang lebih efektif,” tegas Politisi Dapil DKI Jakarta I ini.

Mardani mengingatkan agar konflik personal maupun kepentingan politik tidak mengorbankan kepentingan masyarakat. Menurutnya, kedewasaan politik harus tercermin setelah pasangan kepala daerah memperoleh mandat dari masyarakat.

“Pilkada tidak boleh diperlakukan sebagai pintu masuk menuju kontestasi berikutnya. Kepala daerah dan wakil kepala daerah harus memahami bahwa setelah dilantik, orientasi keduanya berubah dari memenangkan kekuasaan menjadi menjalankan pemerintahan,” jelasnya.

Ia menambahkan, persaingan politik untuk periode berikutnya tidak seharusnya dimulai ketika masa jabatan yang sedang berjalan belum selesai. Dengan kata lain, Persaingan menuju periode berikutnya tidak boleh dimulai ketika periode yang sedang berjalan bahkan belum selesai.

Sebagai informasi, wacana Pilkada tanpa memilih wakil kepala daerah tengah menjadi perhatian. Usulan tersebut sebelumnya disampaikan Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKB Muhammad Khozin. Ia menyoroti fenomena disharmoni antara kepala daerah dan wakil kepala daerah yang kerap berujung pada pecah kongsi di tengah masa jabatan. (Red)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Putusan MK: Mengembalikan Garuda Kepada Rakyat
Gaya Kepemimpinan KDM Berpotensi Lemahkan Peran SKPD
Di Bawah Kepemimpinan Ade Puspitasari, Bapilu Golkar Kota Bekasi Pastikan Pengurus DPD Solid
Jelang Musda Golkar, Partai Pohon Beringin Kota Bekasi Terancam Tercabut dari Akarnya
Dinilai Mirip Jokowi, Publik Diminta Tidak Terjebak Gaya Pencitraan KDM
IPPS Indonesia: Penempatan Jabatan dari Unsur Keluarga Wali Kota Berpotensi Terjadinya Abuse of Power
Politisi PDIP Ini Sebut Tidak Seluruh Proses Perampasan Aset Menunggu Putusan Pemidanaan
IPPS Kritisi Cara KDM Tegur Camat Coblong Kota Bandung

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Politisi PKS Angkat Bicara Soal Wacana Pilkada Tanpa Wakil

Jumat, 14 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Putusan MK: Mengembalikan Garuda Kepada Rakyat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:51 WIB

Gaya Kepemimpinan KDM Berpotensi Lemahkan Peran SKPD

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Di Bawah Kepemimpinan Ade Puspitasari, Bapilu Golkar Kota Bekasi Pastikan Pengurus DPD Solid

Selasa, 11 Agustus 2026 - 05:19 WIB

Jelang Musda Golkar, Partai Pohon Beringin Kota Bekasi Terancam Tercabut dari Akarnya

Berita Terbaru

Ilustrasi Pilkada. (Foto: istimewa)

Politik

Politisi PKS Angkat Bicara Soal Wacana Pilkada Tanpa Wakil

Jumat, 14 Agu 2026 - 07:41 WIB

Gedung Mahkamah Konstitusi (foto: net)

Politik

Putusan MK: Mengembalikan Garuda Kepada Rakyat

Jumat, 14 Agu 2026 - 05:34 WIB

Kantor Bank Indonesia  (Foto: Ist)

Ekonomi & Bisnis

Pergeseran di Pucuk Pimpinan BI Diharap Jaga Stabilitas Moneter ke Depan

Jumat, 14 Agu 2026 - 05:11 WIB

Pekerja pelabuhan saat menurunkan beras impor. (Ist)

Ekonomi & Bisnis

Kenapa Harga Beras Naik dan Jadi Penyumbang Inflasi 7 Bulan Beruntun

Jumat, 14 Agu 2026 - 04:17 WIB