Psikolog: Harus Ada Pendidikan Seksualitas Pada Anak Sejak Dini

- Penulis

Kamis, 16 Desember 2021 - 02:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga Dian Kusumawati M. Psi,

Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga Dian Kusumawati M. Psi,

KOTA BEKASI, Mediakarya – Maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak belakangan ini, menarik perhatian sejumlah kalangan. Seperti yang diungkapkan oleh Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga Dian Kusumawati M. Psi, ia menekankan pentingnya pendidikan seksualitas kepada anak sejak dini.

“Hal yang perlu diperhatikan adalah pentingnya memberikan pendidikan seksualitas pada anak sejak dini,” ungkap Dian kepada Mediakarya.id, Rabu (15/12/2021).

Ia pun menegaskan, sebagai langkah antisipasi tindakan pelecehan seksual kepada anak, maka harus dimulai edukasi yang dimulai dengan pengenalan bagian tubuh dan fungsinya, cara menjaga kebersihannya hingga pengenalan area pribadi.

“Ada beberapa cara yang dilakukan dan hal ini harus diperkenalkan kepada anak sejak dini sebagai edukasi dan pencegahannya,” katanya.

Ia pun mengingatkan untuk pengenalan area pribadi berupa bagian yang tertutup pakaian dalam, tidak boleh dilihat, disentuh, dibicarakan oleh orang lain (termasuk mulut, dada, area kemaluan hingga area pantat).

Lanjut Dian, secara umum, diberbagai tingkatan usianya anak-anak perlu berikan pemahaman bahwa orang lain TIDAK BOLEH MELIHAT bagian pribadi anak dan juga orang lain TIDAK BOLEH MEMPERLIHATKAN bagian tubuh pribadinya atau memperlihatkan gambar atau video porno pada anak.

“Orang lain TIDAK BOLEH MEMBICARAKAN mengenai bagian pribadi anak, dan orang lain TIDAK BOLEH MENYURUH anak untuk MEMBICARAKAN bagian tubuh pribadinya,” jelasnya.

Selain itu, orang lain TIDAK BOLEH MENYENTUH bagian pribadi anak, dan orang lain TIDAK BOLEH MENYURUH anak UNTUK MENYENTUH bagian pribadinya.

“Orang lain TIDAK BOLEH memelukmu, mencium atau membawa anak ke tempat lain atau tempat sepi. Orang lain TIDAK BOLEH MENYURUH anak untuk memeluk, mencium dirinya atau orang lain,” sambung Dian.

Ia mengungkapkan, hal ini perlu dilakukan sebagai bentuk melatih anak-anak untuk waspada, maka berikan pula pemahaman bahwa anak perlu berhati-hati saat berada pada situasi yang sendirian.

Baca Juga:  Ketua MPR Apresiasi Keberhasilan Evakuasi WNI di Afghanistan

“Segeralah mencari tempat yang ramai,” pesannya.

Untuk itu, ia pun menekankan agar mengajarkan anak untuk melawan dan berkata tidak serta segera berlari menjauhi orang yang berbahaya dan segera melaporkan pada orang dewasa yang dapat ia percaya.

Selain berbagai upaya pembentukan pemahaman pada anak-anak, lingkungan juga perlu memberikan perlindungan dan perlakuan yang kondusif dalam pengasuhan anak-anak.

“Yang terpenting adalah menumbuhkan pada diri anak bahwa diri mereka berharga. Sehingga mereka memiliki rasa percaya diri, bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatakan tidak, mampu melawan dan melaporkan jika dirasa ada yang kurang nyaman baginya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan tentang anak di sosial media, termasuk berhati-hati dalam memposting foto-foto anak. Munculkan rasa percaya diri anak, juga perlu dilakukan dengan cara menjalin komunikasi dan melibatkan anak dalam berbagai kegiatan dan keputusan rumah.

Berikan rasa hangat, kasih sayang dan penerimaan yang utuh, sehingga anak dapat dengan terbuka bercerita dan menyampaikan berbagai kisah yang dialami dengan prang tua.

“Jika terjadi suatu hal terkait dengan pelecehan atau kekerasan seksual pada anak, baiknya orang tua dan lingkungan sekitar anak, berusaha menjadi tempat aman bagi anak. Dengan tidak menyalahkan anak atau bertanya dengan cara yang memaksa atau memojokkan anak. Berikan tempat nyaman dan tenangkan anak, jelaskan bahwa ia bukan berada dalam pihak yang bersalah,” pesan Dian.

Dengan begitu, maka anak-anak yang mendapatkan perlakuan pelecehan ataupun kekerasan seksual, ini termasuk dalam anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus, yaitu masuk dalam point anak korban kekerasan dan ekspoitasi, dan mungkin juga masuk dalam kondisi yang membutuhkan perlindungan situasi darurat .

“Mereka tidak hanya membutuhkan perlindungan, anak-anak juga membutuhkan upaya pemulihan didampingi penuh oleh ahli juga bekerjasama dengan keluarga, lingkungan sekolah dan juga lingkungan sekitar,” tukasnya. (apl)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra
Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat
Bukan Sekadar Energi, PT JOE Kirim Hewan Kurban untuk Warga Kepulauan Seribu
“Color Me Confident” Jadi Ruang Eksplorasi Fashion dan Beauty di ARTOTEL Harmoni Jakarta
Listrik Padam, Kontrak Jalan Terus: PLN, Antara Mengurus Rakyat atau Mengurus Utang Tersembunyi?
Polres Metro Bekasi Kota Gelar OKJ, Sasar Pelaku Kejahatan Jalanan
Rapat Pleno Terkesan Buram, Kredibilitas Ketum AMPG Dipertanyakan
Siswa SMAN 5 Kota Bekasi Torehkan Prestasi Pada Event Savate di Nepal
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 16:48 WIB

DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra

Senin, 25 Mei 2026 - 14:29 WIB

Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat

Senin, 25 Mei 2026 - 13:13 WIB

Bukan Sekadar Energi, PT JOE Kirim Hewan Kurban untuk Warga Kepulauan Seribu

Senin, 25 Mei 2026 - 11:03 WIB

Listrik Padam, Kontrak Jalan Terus: PLN, Antara Mengurus Rakyat atau Mengurus Utang Tersembunyi?

Senin, 25 Mei 2026 - 08:09 WIB

Polres Metro Bekasi Kota Gelar OKJ, Sasar Pelaku Kejahatan Jalanan

Berita Terbaru

Anies Baswedan (Foto: Ist)

Daerah

Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik

Senin, 25 Mei 2026 - 12:21 WIB