Revolusi Jakarta

- Editor

Rabu, 4 September 2024 - 04:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilistrasi

Ilistrasi

Oleh : Yusuf Blegur

Jakarta terlalu sering membara. Tidak sekedar api yang yang menyala-nyala membakar dan melumatkan tembok dan gedung jumawa. Tumpahan darah dan tubuh ringkih yang cedera terkadang tercecer di pinggiran dan tengah kota. Desing peluru dan pukulan keras yang menciptakan keheningan dan kematian juga kerap menyelimuti penghuni jelata yang lemah dan papa.

Sikap kritis dan perhatian yang begitu besar, antusias diperlihatkan pada agenda pilkada Jakarta. Bukan hanya dari warga Jakarta, sebagian besar rakyat di seluruh Indonesia juga intens mengamatinya. Bahkan pemilihan gubernur Jakarta di bulan november mendatang tak kalah hebohnya dengan pilpres 2024 yang lalu. Apa sebabnya?, menarik untuk ditelisik dan berikut ini ulasannya.

  1. Pilkada Jakarta menjadi agenda penting dan strategis yang jadwalnya berdekatan dengan berakhirnya masa jabatan presiden dua periode seorang Jokowi. Bisa dipastikan jelang lengsernya Jokowi, segala cara dilakukan untuk mengamankan kelanggengan program-program pemerintahan dan tentu saja keselamatan Jokowi dan keluarga serta para kroni sekelilingnya pasca berkuasa.
  2. Pilkada Jakarta masih terang-benderang mengumbar intervensi dan hegemoni Jokowi. Terbukti fakta itu tak bisa dibantah dengan kontestasi pilkada Jakarta yang diikuti oleh koalisi 15 partai pendukung pemerintah (KIM Plus), calon PDIP dan independen yang kemunculannnya konspiratif dan “by desaind”. Dominasi Jokowi sangat kental pada pilkada Jakarta yang memaksakan pasangan Ridwan Kamil-Suswono, Pramono Anung-Rano Karno dan Dharma-Kun. Publik meyakini semua kontestan pilgub Jakarta itu adalah boneka-boneka hidup rezim Jokowi.
  3. Fenomena Anies Baswedan yang kalah di pilpres dan gagal sebagai calon gubernur Jakarta yang disinyalir karena pelbagai penjegalan oleh rezim Jokowi. Menimbulkan reaksi yang kuat dari rakyat baik di Jakarta maupun secara nasional. Rakyat sudah pada satu kesimpulan pada praktek-praktek busuk konstitusi dan demokrasi. Seiring itu juga rakyat sudah mencapai klimaksnya kekecewaan dan kemarahan terhadap penyimpangan dan kejahatan struktural yang dilakukan rezim Jokow dalam penyelenggaraan negara.

Kemudian pertanyaannya bagaimana dengan realitas politik yang demikian, apa yang akan menjadi tindakan rakyat untuk menegakkan konstitusi dan demokrasi yang terlanjur dimanipulasi rezim?. Dalam hal menghadapi pilkada Jakarta, cukupkah warga Jakarta hanya melakukan gerakan golput atau coblos semua pasangan kontestan?. Apakah proses pilkada Jakarta 2024 berikut apapun hasilnya harus diterima warga Jakarta begitu saja?. Sangat menggelitik untuk terus membedah nasib rakyat ke depan melalui dinamika kota Jakarta sebagai barometer politik nasional.

Baca Juga:  Anggota DPR: Pembatasan BBM Bersubsidi Perlu Dipastikan Berjalan Baik

Sanggupkah warga Jakarta membiarkan nasibnya di tangan anasir oligarki?. Dari proyek reklamasi hingga kebijakan marginalisasi, apakah akan menjadi menu warga sehari-hari?. Kapitalisme yang menghidupkan Industrialisasi terus berproduksi menghasilkan pengangguran dan kelaparan, serta kebanyakan manusia sebagai sapi perah. Warga Jakarta tergusur, dilecehkan dan dikhianati para penghianatan dan penjahat berkedok pemangku kepentingan publik yang arogan. Tak sedikit yang teraniaya dan mati sia-sia hanya karena memperjuangkan haknya demi keinginan hidup layak.

Keadilan masih sangat mahal, masih menjadi konsumsi yang ekslusif. Jurang pemisah kaya dan miskin terpancar dari gedung-gedung tinggi tempat para kapitalis berkembang-biak. Beternak keringat rakyat dan menuai pundi-pundi kemewahan dan hidup hedonis dari segelintir orang dan kelompok. Warga Jakarta cuma ada dua pilihan, menjadi individualis dengan busana anggun kapitalisme atau bergumul penat dalam gotong royong spirit Pancasila. Meradang tertindas menyerah menghadapi kolonialisme sebuah kota atau menolak diam tertindas dan bangkit dalam perlawanan.

Rakyat seantero republik menunggu Jakarta bersuara. Suara yang melahirkan kesadaran dan kebangkitan dari keterpurukan konstitusi dan demokrasi. Suara yang mampu menggerakan sikap mental berdaulat dan mandiri. Suara yang mampu memaksa kebijakan yang tak merendahkan rakyat. Suara yang menghidupkan denyut jantung revolusi, yang tak redup karena kelemahan dan keterbatasan. Suara yang menyeru rezim, ke arah mana laras senjata kalian arahkan ke tubuh kami wahai penguasa, penjara mana yang kalian siapkan untuk kami?. Betapapun kalian isolasi, betapaun kalian cabik-cabik tubuh kami dan kalian jadikan tubuh kami bangkai, kami akan tetap hidup sebagai jiwa yang merdeka, yang menjadi virus-virus perlawanan dan pembebasan.

Jakarta sepertinya tengah mengandung keragaman janin dari benih-benih kemarahan sekaligus ketidakberdayaan. Jakarta seakan diliputi rasa frustasi tapi terbersit ketidakpuasan. Jakarta ingin lebih dari sekedar metropolis dan modern, warganya juga ingin humanis dan penuh keberadaban. Ada keberanian sekaligus dipenuhi ketakutan, ada keinginan sekaligus keengganan pada perubahan. Melewati tembok besar konstitusi dan demokrasi yang menghimpit, jalan-jalan dan lorong yang kumuh dan sesak masih banyak penghuni yang bercita-cita merobohkan tembok pembatas dan menyalakan api revolusi dalam udara pembebasan dari pengaruh oligarki dan politik dinasti Jakarta.

Penulis: Mantan Presidium GMNI

 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Proklamasi Kemerdekaan dan Chomsky
Mengapa Nama Pratikno Kini Dikaitkan Mundur?
Promo Minuman Beralkohol Gratis Pakai Hafalan Al-Qur’an, BPKN RI: Promosi Miras Jangan Eksploitasi Simbol Agama
Dukung Penanganan Pengolahan Sampah, Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Rusunawa Rorotan dan Rawa Badak
Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal di Rorotan dan Rawa Badak, Dukung Penanganan Pengolahan Sampah di Jakarta
GNK Sentil Panglima Agus soal Kamtibmas : Jangan Sampai Publik Anggap TNI Ambil Alih Tugas Polri
Kisah Teuku Markam, Pengusaha Aceh yang Disebut Sumbangkan 28 Kg Emas untuk Monas
Tiga Surpres Mensesneg Kubur Operasi Politik Pemain Isu Pergantian Kapolri

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Proklamasi Kemerdekaan dan Chomsky

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:55 WIB

Mengapa Nama Pratikno Kini Dikaitkan Mundur?

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:52 WIB

Dukung Penanganan Pengolahan Sampah, Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Rusunawa Rorotan dan Rawa Badak

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:07 WIB

Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal di Rorotan dan Rawa Badak, Dukung Penanganan Pengolahan Sampah di Jakarta

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:29 WIB

GNK Sentil Panglima Agus soal Kamtibmas : Jangan Sampai Publik Anggap TNI Ambil Alih Tugas Polri

Berita Terbaru

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Headline

Proklamasi Kemerdekaan dan Chomsky

Rabu, 12 Agu 2026 - 13:08 WIB

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Tamsil Linrung.

Ekonomi & Bisnis

Wakil Ketua DPD RI Dorong BGN Segera Operasikan Dapur SPPG di Pulau 3T

Rabu, 12 Agu 2026 - 12:50 WIB

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno (Foto: Istimewa)

Opini

Mengapa Nama Pratikno Kini Dikaitkan Mundur?

Selasa, 11 Agu 2026 - 20:55 WIB