Oleh: Yusuf Blegur
Keluarga adalah tempat kembali. Tempat harapan boleh lahir tanpa takut dihakimi. Begitulah surat cinta di bulan ramadan dari Anies Baswedan, sebuah pesan paling sederhana tapi penuh asa dan jiwa bagi setiap keluaga
Lebaran belum juga tiba, masih tersisa tiga hari menjelang Idul Fitri 1447 H. Surat cinta dari Anies Baswedan telah sampai di rumah menyapa seluruh keluarga.
Bukan sekadar surat ucapan selamat setelah puasa sebulan penuh. Bukan juga sebatas jalinan komunikasi dan interaksi di penghujung kesucian bulan ramadan.
Kental terasa, maknanya mengalir ke sanubari hingga sedalam-dalamnya menyentuh relung hati dan pikiran yang membacanya.
Tertanda Anies Baswedan dan Fery Farhati beserta keluarga, memancar kehangatan, kasih sayang dan kepedulian saling menjaga. Seperti pesan yang menjadi kekuatan yang meniadakan keterbatasan jarak, pertemuan, dan rasa ukuwah.
Abah seakan mengingatkan dan menggugah kembali kesadaran paling esensial dari makna ramadan. Abah juga mengajak semua keluarga dapat memetik hikmah dari perjuangan, kesabaran dan keikhlasan usai menjalankan ibadah yang sarat keistimewaan ini.
Surat Abah begitu lepas tertulis bagaimana Anies dan Fery yang didampingi orang tua beserta putri-putra tercinta Tia, Ali, Mikail, Kaisar dan Ismail. Secara sederhana dan penuh kelembutan, menyampaikan bagaimanapun suasana yang beragam dan kehadiran ramadan, sesungguhnya bisa saling mengisi dan menguatkan bagi setiap keluarga.
Surat Cinta Abah, boleh saja dilihat hanya sebagai secarik kertas dan torehan kata-kata yang tertuang dalam tulisan. Namun, iya merupakan jiwa dari upaya menemukan makna puasa dan keluarga yang telah hilang selama ini.
Bagaimanapun keluarga merupakan tempat yang paling terbuka dan hangat untuk berkumpul dan kembali setelah bepergian. Tempat Harapan boleh lahir tanpa dihakimi. Tempat dimana cinta dan kasih sayang tak terbatas dan tak ada habis-habisnya.
Keluarga juga menjadi tempat paling nyaman untuk memulai keberanian dan kejujuran mengakui kesalahan dan dosa dalam tutur, sikap maupun perbuatan. Juga tentang kemauan dan upaya tak kenal lelah mengajak semua keluarga senantiasa dalam ketenangan, kesehatan dan keberkahan.
Melalui Surat Cinta Abah, semoga semua dapat menjadikan keluarga sebagai pondasi kokoh bagi keluarga yang lebih besar dan luas hingga masyarakat, bangsa dan negara. Keluarga yang menjadi akar dari kehidupan keagamaan, Ketuhanan dan Kemanusiaan.
Terimakasih Abah.
Mohon maaf lahir dan batin dari semua keluarga Indonesia.
Penulis: Analis Institute for Public Policy Strategic (IPPS)










