Kepongahan AS Meredup, Kekuasaan Tak Lagi Mutlak

- Penulis

Rabu, 27 Mei 2026 - 06:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Prabowo Subianto (Poto: Ist)

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Prabowo Subianto (Poto: Ist)

Oleh: Dr. Adi Suparto

Dari Penentu Aturan Menjadi Pihak yang Harus Menyesuaikan

Puluhan tahun AS bergerak di Timur Tengah seolah kawasan miliknya sendiri: buat kebijakan, tentukan sekutu-musuh, atur harga minyak. Namun di tengah ketegangan Selat Hormuz dan draf kesepakatan yang belum ditandatangani Trump, satu kenyataan tak terbantahkan: masa dominasi tunggal telah berakhir. AS tak lagi berkuasa mutlak, kepongahannya memudar.

Langkah Washington kini bukan lagi memberi perintah, melainkan menawar, menunda keputusan, dan terpaksa mengikuti ritme pihak lain.

Politik:  Wibawa Runtuh, Terjebak pada Kepentingan Dalam Negeri

Dulu AS yang menentukan syarat, kini AS harus memenuhi keinginan Iran dan negara Teluk: bersedia cabut sanksi, janji tidak serang, dan korbankan sekutu lama demi ekonomi global.

Hambatan terbesar datang dari dalam. Parlemen, Partai Demokrat, bahkan pendukung sendiri mengecam keras. Bagi publik AS, mengalah pada Iran adalah luka harga diri bangsa. Trump tunda tanda tangan bukan sekadar soal isi, tapi pertarungan politik: enggan dicap pemimpin yang “menyerah”.

Dampak paling berat: sekutu dunia mulai bertanya, “Kalau Israel dikorbankan demi minyak, giliran siapa lagi nanti?”. Kepercayaan puluhan tahun runtuh. AS tak lagi jadi pelindung andal, melainkan negara yang mengutamakan diri sendiri. Kekuatan politiknya kini terikat.

Ekonomi: Senhata Kekuadasn yang Tumpul

Baca Juga:  Jampidsus Tetapkan Eks Pejabat Askrindo Sebagai Tersangka

Dulu kendali energi adalah senjata utama AS; Washington yang atur harga dan pasokan berbasis dolar. Sekarang? Kelancaran dan harga ada di tangan Teheran. Selama selat belum normal dan perjanjian belum sah, AS hanya bisa menahan napas dan cemas.

Posisi dolar mulai tergoyahkan; banyak negara beralih mata uang lain, takut bergantung pada sistem tak stabil. Beban militer pun dikurangi, rakyat AS makin tolak biaya mahal untuk konflik tak berujung. Dulu AS tekan ekonomi negara lain; kini ekonomi dunia dan suara rakyatlah yang tekan pemerintah agar damai.

Kekuasaan: Militer Kuat tapi Tangan Terikat

Militer AS masih terkuat, tapi tak berdaya. Realita pahit dipahami semua pihak: “Serang Iran, mereka tutup selat; ekonomi dunia hancur, rakyat menderita, AS yang disalahkan”

AS berubah drastis: dari polisi dunia jadi penengah hati-hati; dari penentu nasib jadi yang harus menyesuaikan. Kekuasaannya dibatasi aturan internasional dan kepentingan bersama. Senjata canggih tak lagi selesaikan segalanya.

Inilah sejarah berjalan: AS turun perlahan namun pasti dari singgasana kekuasaan tunggal.

“Kekuatan sejati bukan lagi seberapa banyak kapal perang yang dimiliki, tapi seberapa banyak negara yang rela mengikuti kemauan Anda. Hari itu, AS menyadari: banyak yang berhenti mengikuti”

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Membunuh Kebinatangan Manusia
Potong Babi Hutan Simbolkan Pembersihan Koruptor, LSM PMPR Demo Pemkot Bandung
Polda Metro Jaya Ringkus WNA Asal Brunei Yang Aniaya WNA Lain Hingga Tewas
realme C100i Jadi Pilihan Anak Muda Aktif dengan Baterai 7000mAh
Iran, Kunci dan Tumbal Dunia 
Gonjang-ganjing Rupiah: Di Bawah Bayang-bayag Ketidakpastian, Kapan Beakhir?
Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan
DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:47 WIB

Membunuh Kebinatangan Manusia

Rabu, 27 Mei 2026 - 06:59 WIB

Kepongahan AS Meredup, Kekuasaan Tak Lagi Mutlak

Selasa, 26 Mei 2026 - 23:25 WIB

Potong Babi Hutan Simbolkan Pembersihan Koruptor, LSM PMPR Demo Pemkot Bandung

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:09 WIB

Polda Metro Jaya Ringkus WNA Asal Brunei Yang Aniaya WNA Lain Hingga Tewas

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:07 WIB

realme C100i Jadi Pilihan Anak Muda Aktif dengan Baterai 7000mAh

Berita Terbaru

Yusuf Blegur, Analis Politik dari IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Opini

Membunuh Kebinatangan Manusia

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:47 WIB

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Prabowo Subianto (Poto: Ist)

Headline

Kepongahan AS Meredup, Kekuasaan Tak Lagi Mutlak

Rabu, 27 Mei 2026 - 06:59 WIB