JAKARTA, Mediakarya – Politisi Golkar Idrus Marham baru-baru ini menjadi sorotan setelah mengkritisi pernyataan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Bukannya mendapatkan respon positif, justru sebaliknya mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) partai Golkar di era Setyo Novanto itu malah dirujak netizen.
Sebagian warganet merespons dengan mengungkit kembali kasus korupsi yang pernah menjerat Idrus Marham. Ia memang pernah menjabat sebagai Menteri Sosial dan kemudian terjerat kasus suap proyek PLTU Riau-1, divonis bersalah, divonis 3 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider 2 bulan kurungan.
Dalam pernyataannya, Idrus berbicara soal etika, kritik, atau moralitas politik, muncul komentar-komentar yang mempertanyakan kredibilitasnya. Reaksi tersebut yang kemudian diberitakan sebagai “dirujak netizen”.
Idrus menegaskan demokrasi harus terikat etika kebangsaan, bukan sekadar kebebasan bermakian tanpa nilai.
Menurut Idrus, dalam sebuah negara demokrasi, kebebasan berekspresi tidak bisa diartikan sebagai kebebasan tanpa batas yang hampa nilai. Kritik yang konstruktif seharusnya dibangun di atas rasionalitas dan argumen yang kuat, bukan dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas terhadap kepala negara.
“Demokrasi memberikan kritikan, tetapi harus tetap terikat oleh apa? Ada taat asas, ada ideologi, ada nilai yang mengikat kita. Ada etika-etika kebangsaan kita. Karena itu, menggunakan kata-kata yang tidak sopan, saya kira bahasa-bahasa yang digunakan seperti saudara Tiyo itu sangat tidak pantas diucapkan,” ujar Idrus. (red)










