Tanggapi Pernyataan Mantan Ketua BEM UGM, Idrus Marham “Dirujak” Netizen

- Editor

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Idrus Marham memakai rompi tahanan KPK (Ist)

Idrus Marham memakai rompi tahanan KPK (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Politisi Golkar Idrus Marham baru-baru ini menjadi sorotan setelah mengkritisi pernyataan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Bukannya mendapatkan respon positif, justru sebaliknya mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) partai Golkar di era Setyo Novanto itu malah dirujak netizen.

Sebagian warganet merespons dengan mengungkit kembali kasus korupsi yang pernah menjerat Idrus Marham. Ia memang pernah menjabat sebagai Menteri Sosial dan kemudian terjerat kasus suap proyek PLTU Riau-1, divonis bersalah, divonis 3 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider 2 bulan kurungan.

Dalam pernyataannya, Idrus berbicara soal etika, kritik, atau moralitas politik, muncul komentar-komentar yang mempertanyakan kredibilitasnya. Reaksi tersebut yang kemudian diberitakan sebagai “dirujak netizen”.

Baca Juga:  Etos Indonesia Rilis Survei Terbaru Cakada Kota Bekasi, Ini Hasilnya

Idrus menegaskan demokrasi harus terikat etika kebangsaan, bukan sekadar kebebasan bermakian tanpa nilai.

Menurut Idrus, dalam sebuah negara demokrasi, kebebasan berekspresi tidak bisa diartikan sebagai kebebasan tanpa batas yang hampa nilai. Kritik yang konstruktif seharusnya dibangun di atas rasionalitas dan argumen yang kuat, bukan dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas terhadap kepala negara.​

“Demokrasi memberikan kritikan, tetapi harus tetap terikat oleh apa? Ada taat asas, ada ideologi, ada nilai yang mengikat kita. Ada etika-etika kebangsaan kita. Karena itu, menggunakan kata-kata yang tidak sopan, saya kira bahasa-bahasa yang digunakan seperti saudara Tiyo itu sangat tidak pantas diucapkan,” ujar Idrus. (red)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Negara Darurat Cognitif Reselience
GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto
Buntut Temuan Hunian Mewah di Lapas, Kemenimipas Pecat Kalapas Cibinong dan Sanksi 16 Pegawai
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:15 WIB

Negara Darurat Cognitif Reselience

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:04 WIB

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:24 WIB

PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:26 WIB

Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto

Berita Terbaru

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Strukturalis di Nusantara Centre)

Headline

Negara Darurat Cognitif Reselience

Rabu, 7 Okt 2026 - 05:15 WIB