Kian Parah, Ternyata Tiga Pimpinan BGN Rangkap Jabatan di BUMN

- Editor

Senin, 6 Juli 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Pusat Badan Gizi Nasional (BGN) Foto: dok. Aditiya/Mediakarya

Kantor Pusat Badan Gizi Nasional (BGN) Foto: dok. Aditiya/Mediakarya

JAKARTA, Mediakarya – Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi sorotan publik menyusul dengan adanya rangkap jabatan ketiga kepala BGN di sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara bersamaan.

Analis Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, Nurul Juliana, menilai bahwa sebegai pengendali penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG), pimpinan BGN seharunya bebas dari ikatan kepentingan lain.

“Namun fakta yang terbaca jelas justru mengkhawatirkan, seluruh pucuk pimpinan merangkap jabatan di badan usaha yang langsung menjadi mitra sekaligus pemasok program itu sendiri,” ujar Nurul kepada Mediakarya di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Berdasarkan penelusuran, kata Nurul, hingga awal Juli 2026, Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang tercatat masih menjabat sebagai komisaris independen PT Pertamina.
Sementara, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari masih menduduki jabatan wakil komisaris utama PT Pertamina Patra Niaga. Sedangkan Trenggono yang saat ini menjadi wakil kepala BGN juga masih menjabat sebagai wakil direktur utama PT Agrinas Pangan Nusantara.

Ketiganya duduk di posisi strategis, sementara perusahaan tempat mereka menjabat bergerak tepat di jalur pasokan energi maupun pangan urat nadi pelaksanaan program. Belum ada satu pun surat pengunduran diri yang terbit.

“Di sinilah letak bahayanya, ketika pengatur sekaligus duduk di jajaran pengurus penyedia, garis batas antara kepentingan rakyat dan keuntungan perusahaan menjadi kabur, lalu hilang sama sekali. Pengawasan menjadi semu. Pemeriksaan menjadi canggung, persaingan sehat berubah menjadi sekadar panggung sandiwara, dan celah korupsi pun terbuka lebar,” ungkap Nurul.

Aturan Telah Menjawab Tegas

Menurutnya, hal ini bukan sekadar soal tata tertib administrasi. Sementara, Mahkamah Konstitusi (MK) dalam Putusan Nomor 128/PUU‑XXIII/2025 telah memotong segala keraguan, bahwa Menteri maupun Wakil Menteri dilarang mutlak merangkap jabatan sebagai komisaris atau anggota direksi, baik di badan usaha milik negara maupun swasta.

Baca Juga:  Ketua Prabu Foundation: Jangan Biarkan Kelompok Ekstrem Tumbuh Subur di Tengah Masyarakat

Nurul mengatakan, alasan konstitusional ini berlaku sepenuhnya bagi Kepala dan Wakil Kepala BGN; pejabat strategis yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mengelola anggaran raksasa. Ketentuan ini dikuatkan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Kemudian UU No 39 Tahun 2008: melarang rangkap yang mengganggu tugas pokok
​
Kemudian UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik: mewajibkan bebas dari benturan kepentingan. Dan UU No 19 Tahun 2003 beserta perubahannya: melarang pejabat negara mengawasi sekaligus mengurus badan usaha negara.
​
“Kami menlai bahwa rangkap jabatan berpotensi menjadi pintu masuk utama penyimpangan. Kini, dugaan‑dugaan korupsi yang mulai terungkap justru membuktikan, aturan itu bukan tulisan kosong, melainkan peringatan yang sengaja diabaikan,” tegasnya.

Kritik yang Disertai Jalan Keluar

Kendati demikian, kata Nurul, masalah ini dapat diperbaiki jika ada keberanian menegakkan hukum. Oleh karena itu, bagi pimpinan BGN yang rangkap jabatan segera melepas salah satu jabatan dan memilih salah satunya. “Amanah negara atau kedudukan di badan usaha, pastinya tidak boleh memegang keduanya sekaligus,” ujarnya.

Untuk itu, Nurul menyarankan agar ke depannya, penunjukan pejabat strategis oleh Presiden harus jauh lebih teliti. Surat keputusan jangan terbit terburu‑buru, sebelum dipastikan bersih dari rangkap maupun benturan kepentingan.

Nurul menegaskan, Badan Gizi Nasional tidak boleh berubah menjadi ruang silang antara kekuasaan negara dan keuntungan korporasi.

“Pada akhirnya, amanah negara adalah satu, tunggal dan tak terbagi. Seseorang tidak mungkin jujur melayani rakyat jika satu kaki tetap berpijak di papan kepentingan lain,” tutupnya. (Adt)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

IPW: Setelah Gebrakan Radikal Ganti 19 Kapolda, Kini Saatnya Kapolri Suyudi Fokus Benahi Pelayanan Publik
Ekonom INDEF Didik J Rachbini Sebut Sidang MK Buktikan Drama Politik dan Berakhirnya “Shadow Politics” Jokowi
Prabowo Jokowi Makan Malam Bersama Saat Putusan Sidang MK
MK Nyatakan Wapres Gibran Tidak Miliki Ijazah Setara SMA Luar Negeri
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Amnesty International Kecam Kekerasan Terhadap Fungsionaris BEM UI, Desak Kapolri Usut Tuntas
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto
Buntut Temuan Hunian Mewah di Lapas, Kemenimipas Pecat Kalapas Cibinong dan Sanksi 16 Pegawai

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 04:54 WIB

Ekonom INDEF Didik J Rachbini Sebut Sidang MK Buktikan Drama Politik dan Berakhirnya “Shadow Politics” Jokowi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 01:56 WIB

Prabowo Jokowi Makan Malam Bersama Saat Putusan Sidang MK

Rabu, 7 Oktober 2026 - 01:36 WIB

MK Nyatakan Wapres Gibran Tidak Miliki Ijazah Setara SMA Luar Negeri

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:24 WIB

PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:53 WIB

Amnesty International Kecam Kekerasan Terhadap Fungsionaris BEM UI, Desak Kapolri Usut Tuntas

Berita Terbaru

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Strukturalis di Nusantara Centre)

Headline

Negara Darurat Cognitif Reselience

Rabu, 7 Okt 2026 - 05:15 WIB