Jakarta, Mediakarya – “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Monumen Kudatuli ini atau peristiwa 27 Juli pada 30 tahun yang lalu, saya resmikan,” kata Megawati. Kudatuli hingga kini dikenang sebagai sejarah kelam di akhir kepemimpinan Presiden kedua RI, Soeharto. Peristiwa itu dipicu oleh dualisme kepemimpinan PDI (PDIP kala itu) antara Megawati dan Soerjadi sebagai proksi pemerintah.
Presiden kelima RI itu menilai Monumen Kudatuli di kantor PDIP sebagai buah dari kesabaran revolusioner. “Apa arti kesabaran revolusioner? Adalah kalau kita terbentur oleh penghalang, maka kita tidak jangan berdiam diri. Kita pergilah perlahan-lahan untuk menghindarinya. Kesemuanya itu sebenarnya harus diajarkan kepada para rakyat kita di mana pun mereka berada,” katanya.
Monumen Kudatuli yang berdiri di halaman depan Kantor DPP PDIP menampilkan sosok seorang perempuan dengan mulut terbuka seolah sedang berteriak, sembari memeluk sejumlah orang sebagai simbol perjuangan, solidaritas, dan perlawanan. Sebelum peresmian, PDIP menggelar aksi teatrikal untuk mengenang Tragedi Kudatuli 27 Juli 1996 sekaligus mengingatkan kembali sejarah yang melatarbelakangi perjalanan partai tersebut.
Berdasarkan hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Tragedi Kudatuli menyebabkan lima orang meninggal dunia, 149 orang mengalami luka-luka, 23 orang dinyatakan hilang, serta menimbulkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp100 miliar.
Dalam kesempatan itu, Megawati mengajak seluruh masyarakat untuk menengok para pejuang yang dimakamkan di TMP Kalibata. Kata dia, banyak pejuang yang dimakamkan tanpa nama. Presiden ke-5 RI itu lantas menyinggung generasi muda saat ini. Menurut dia, apa yang dirasakan generasi muda sekarang ini merupakan hasil perjuangan dari para pejuang bangsa di masa lalu.
“Lalu setelah merdeka sampai sekarang, bulan depan kita akan merayakan 17 Agustus 2026. Apakah kalian tidak akan insaf bahwa kalian bisa menjadi seperti ini itu karena apa? Darah para pejuang, darah anak-anak muda yang waktu itu pun seperti kalian yang ada di sini sekarang. Kalian mau jadi apa? Masa tidak malu?” ungkapnya.











