JAKARTA, Mediakarya – Presiden Prabowo Subianto kerap melontarkan kata-kata umpatan atau sindiran keras yang ditujukan kepada para kritikus, pengamat, pakar, elite politik, dan media yang berseberangan dengan kebijakannya.
Beberapa pernyataan keras atau sindiran yang dilontarkan oleh Prabowo ditujukan kepada kelompok tertentu seperti kata goblok, ndasmu, londo ireng, antek asing dan bajingan, kerap digunakan untuk merespons kritik terhadap dirinya.
Analis komunikasi politik dan kebijakan publik Dr Adi Suparto mengungkapkan, sejumlah kalimat umpatan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo itu bukan sekadar gaya bicara kasar. Namun demikian pola yang berulang, dan mengungkapkan lebih banyak daripada sekadar kemarahan sesaat.
Menurut Adi, kata-kata yang dilontarkan Prabowo secara berulang kali kepada mereka yang berbeda pandangan, secara psikologis, hal itu menurut dia bukan kebetulan, namun cerminan keadaan batin seraong presiden dalam memandang perbedaan.
“Dalam psikologi, penghinaan terhadap pengkritik adalah tanda jelas, bahwa pendapat yang berbeda tidak dilihat sebagai masukan, melainkan sebagai ancaman pribadi,” ujar Adi dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Adi menegaskan, orang yang mantap batinnya menjawab dengan data atau argumen. Sedangkan orang yang merasa terancam akan menyerang orangnya. Karena dirinya tidak bisa membedakan antara kalimat kritikan atau hinaan. Akibatnya, setiap perbedaan pendapat terasa seperti serangan yang harus dilawan, dengan cara menjatuhkan lawan bicara.
Menurutnya, menyebut pakar yang berbeda “goblok” mengandung pesan tersembunyi bermakna “Hanya yang setuju dengan saya yang boleh dianggap pintar. Jika berbeda, Anda tidak pantas didengar.”
“Ini bukan sekadar merendahkan, ini mematikan ruang berpikir orang lain. Tujuannya agar pengkritik malu, berhenti bicara, dan orang lain takut ikut bersuara,” katanya.
Lebih lanjut Adi mengatakan bahwa ketika kepala negara menggunakan bahasa merendahkan, dampaknya tidak berhenti di situasi itu saja. Namun publik akan memaknainya bahwa perbedaan pendapat berarti permusuhan, bukan pertukaran gagasan
Sehingga masyarakat memilih diam, bukan karena setuju, tapi karena takut dianggap musuh. Sementara paara ahli menarik diri, sebab harga diri mereka diinjak, sehingga masukan berharga hilang.
“Akibatnya kebenaran menjadi barang langka, karena hanya pujian yang terdengar, peringatan disembunyikan. Pada gilirannya, bangsa ini perlahan kehilangan keberanian berpikir sendiri, hanya mengikuti saja dianggap aman,” ungkap Adi.
Adi mengungkapkan, seharunya seorang pemimpin itu mendengar tanpa merasa diserang. Kemudian menjawab argumen dengan argumen, bukan penghinaan.
“Selanjutnya, menganggap perbedaan sebagai pertolongan, bukan ancaman. Dan harus meneladani bahwa mngakui kesalahan adalah kekuatan, bukan kelemahan,” beber Adi.
Sebab, kekuasaan yang sejati bukan membuat orang diam. Kekuasaan yang sejati membuat orang berani berbicara jujur, karena tahu akan dihormati, tidak dicaci.
Oleh karenanya, Adi menilai bahwa kata-kata kasar dari kursi kekuasaan bukan tanda kekuatan. Namun demikian, hal itu merupakan tanda batin yang sedang gemetar. Sebab yang tegak kokoh tidak perlu menjatuhkan orang lain agar terlihat tinggi. Yang benar tidak perlu memaki agar diyakini.
“Perlu kita ketahui bahwa demokrasi tidak dijamin oleh satu orang. Ia dijamin oleh setiap kita yang masih memilih untuk berpikir, berbicara dengan hormat, dan menghargai perbedaan sebagai anugerah, bukan ancaman,” pungkasnya. (Ugy)











