Puji Listyo Kapolri Terbaik, Deklarator Relawan “Poros Prabowo Subianto Presiden” Desak Gerindra Copot Habiburokhman dari Ketua Komisi III

- Editor

Sabtu, 7 November 2026 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guntur Wijaya Putra

Guntur Wijaya Putra

JAKARTA, Mediakarya – Deklarator Relawan “Poros Prabowo Subianto Presiden RI”, Guntur Wijaya Putra, mendesak DPP Partai Gerindra mengevaluasi bahkan mencopot Habiburokhman dari jabatan Ketua Komisi III DPR RI.

Desakan itu disampaikan Guntur menanggapi kasus dugaan penyadapan yang dilakukan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) terhadap Presiden, pejabat negara, tokoh politik, media, hingga LSM/ormas.

“Sebagai Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman tidak memiliki insting politik dalam menilai figur yang patut mendapatkan pujian atau sanjungan,” ujar Guntur kepada Mediakarya di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Guntur menyoroti pernyataan Habiburokhman sebelumnya yang menyebut Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa.

Menurut Guntur, pujian itu kini rontok setelah Listyo diduga terlibat dalam dugaan penyadapan terhadap Presiden yang sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra.

“Saya ini pernah menjadi Komisioner KPUD dan DPRD, meski itu hanya di tingkat daerah, namun insting politik itu pastinya ada. Yang tentunya dapat menganalisa mana kawan dan mana lawan,” kata Guntur.

Dia menduga pernyataan Habiburokhman yang memuji Listyo sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa itu diduga ada agenda tertentu.

Guntur mengaku kecewa dan marah atas pernyataan Ketua Komisi III DPR RI tersebut. Ia bahkan menilai Habiburokhman seolah berperan sebagai juru bicara Polri.

“Segala kebijakan yang diambil oleh Kapolri saat itu dinilai sudah sesuai prosedur,” ujar Guntur.

Padahal, kata Guntur, banyak kasus dan budaya meritokrasi selama kepemimpinan Listyo diabaikan. Ia mencontohkan kasus KM 50 yang sempat menjadi sorotan publik, namun tidak dijadikan pembahasan utama Komisi III DPR RI.

“Apa dasar penilaian saudara Habib, sementara banyak kasus yang mengendap dan insiden KM 50 yang belum terungkap justru tidak dijadikan pembahasan utama Komisi III DPR RI. Jangan sampai ada asumsi bahwa Habiburokhman bagian dari Listyo,” ujar Guntur.

Baca Juga:  KIB Tanggapi Hasto PDIP Soal Tugas Partai Bukan Membajak Kader

Guntur mengungkakan, desakan pencopotan ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai kekecewaan relawan. Ada tiga dimensi politik di dalamnya.

Pertama, soal legitimasi pengawasan. Komisi III DPR adalah mitra utama Polri. Ketika Ketua Komisi III justru memberi legitimasi penuh kepada Kapolri yang kini menjadi tersangka dugaan penyadapan presiden, maka fungsi pengawasan dipertanyakan. Publik akan bertanya, apakah Komisi III mengawasi atau justru mengamini?

Kedua, soal posisi Gerindra. Presiden yang diduga disadap adalah Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Jika kader Gerindra di Komisi III justru memuji sosok yang diduga menyadap ketua umumnya sendiri. “Maka secara politik itu menjadi paradoks yang sulit dijelaskan kepada basis relawan,” ungkapnya.

Ketiga, soal akuntabilitas pernyataan politik. Dalam logika Guntur, pujian “Kapolri terbaik sepanjang masa” bukan sekadar opini pribadi, melainkan pernyataan politik dari jabatan Ketua Komisi III.

“Karena itu, ketika pujian itu berbalik fakta, maka konsekuensinya juga harus bersifat politik, yaitu evaluasi jabatan,” katanya.

Desakan Copot Habiburrahman dari Ketua Komisi III DPR RI

Karena itu, untuk mengobati rasa kekecewaan Relawan “Poros Prabowo Subianto Presiden RI”, Guntur mendesak DPP Gerindra segera mencopot Habiburokhman dari Ketua Komisi III DPR RI.

“Kami tentunya sangat kecewa dan marah atas peristiwa penyadapan LSP yang dinilai sebagai pengkhianat negara,” pungkas Guntur.

Hingga berita ini diturunkan, Mediakarya masih berupaya meminta konfirmasi kepada Habiburokhman dan DPP Partai Gerindra terkait desakan tersebut. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

IPPS Sebut Prabowo-Jokowi Sama-Sama Toksik, Rakyat Hanya Jadi Korban Dua Gajah Bertarung
Kongsi Politik Sudah Pecah, Tersisa Jejak Pengkhianatan
Golkar Perkuat Mesin Komunikasi Politik Lewat Teknologi AI
Sikapi Putusan MK dan MA, DPC PERMAHI Jaktim Desak MPR Segera Gelar Sidang Istimewa
Kasus Penyadapan Ilegal jadi Momentum Jenderal Suyudi Lepaskan Polri dari Stigma Parcok Warisan Geng Solo
Komisi III Pastikan RUU Perampasan Aset Tidak Dijadikan Alat Hukum Aparat
IPPS Desak Polri Segera Umumkan Dugaan Keterlibatan Ketum Parpol Yang Terseret Kasus Penyadapan Presiden
Sekjen PDIP Apresiasi Kapolri Jenderal Suyudi, Penyadapan Presiden Prabowo Itu Pelanggaran HAM Berat dan Makar

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 16:43 WIB

Puji Listyo Kapolri Terbaik, Deklarator Relawan “Poros Prabowo Subianto Presiden” Desak Gerindra Copot Habiburokhman dari Ketua Komisi III

Sabtu, 7 November 2026 - 15:18 WIB

IPPS Sebut Prabowo-Jokowi Sama-Sama Toksik, Rakyat Hanya Jadi Korban Dua Gajah Bertarung

Sabtu, 7 November 2026 - 12:28 WIB

Kongsi Politik Sudah Pecah, Tersisa Jejak Pengkhianatan

Jumat, 6 November 2026 - 17:12 WIB

Golkar Perkuat Mesin Komunikasi Politik Lewat Teknologi AI

Jumat, 6 November 2026 - 13:14 WIB

Sikapi Putusan MK dan MA, DPC PERMAHI Jaktim Desak MPR Segera Gelar Sidang Istimewa

Berita Terbaru

Politisi PDI Perjuangan Guntur Romli

Politik

Kongsi Politik Sudah Pecah, Tersisa Jejak Pengkhianatan

Sabtu, 7 Nov 2026 - 12:28 WIB