JAKARTA, Mediakarya – Nasional Corruption Watch (NCW) menyatakan dukungan penuh atas terobosan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam membongkar jaringan narkoba dan pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan tiga jenderal bintang dua lainnya.
Sekjen NCW Rechan Nazar menegaskan, dua pengungkapan besar itu bukan sekadar penegakan hukum biasa. Itu adalah momentum bersejarah bagi Polri untuk melepaskan diri dari stigma sebagai partai coklat (Parcok) warisan geng Solo.
Menurutnya dua gebrakan Jenderal Suyudi yang menjadi perhatian publik antara lain, pengungkapan kasus narkoba yang menyeret warga negara asing (WNA). Kemudian, pengungkapan kasus dugaan penyadapan Presiden dan sejumlah ketua umum partai politik, wartawan, dan LSM yang diduga dilakukan sejumlah jenderal Polri.
“Pengungkapan kasus narkoba yang menyeret warga negara asing (WNA) dan pengungkapan kasus penyadapan presiden dan sejumlah ketum parpol, wartawan dan LSM yang dilakukan sejumlah jenderal Polri, menjadi momentum Jenderal Suyudi melepaskan institusi Polri yang distigmakan sebagai partai coklat (Parcok) warisan geng Solo,” ujar Rechan saat diwawancarai Mediakarya melalui sambungan teleponnya, Jumat (6/11/2026)
Rechan menilai, selama ini Polri dicap sebagai Parcok karena diduga terlalu masuk dalam pusaran politik kekuasaan, bukan lagi sebagai alat negara penegak hukum yang netral. Stigma itu, kata dia, merusak kepercayaan publik selama bertahun-tahun.
“Kini, dengan berani membongkar kasus yang menyeret mantan Kapolri sendiri, Suyudi membuktikan Polri bukan lagi milik geng, bukan lagi milik kelompok politik, tapi milik rakyat dan negara,” tegasnya.
Jenderal Suyudi Punya Modal Pengalaman
Rechan mengungkapkan, dengan segudang pengalaman yang dimiliki Jenderal Suyudi, publik meyakini Polri akan lebih baik. NCW berharap agar Kapolri yang baru ini dapat mengembalikan citra Polri dan membebaskan diri dariintervensi politik.
Bagi NCW, Suyudi bukan sosok karbitan. Rekam jejaknya di berbagai posisi strategis membuat dia paham betul penyakit di dalam tubuh Polri. Mulai dari jual beli jabatan, backing narkoba, backing tambang ilegal, hingga penyalahgunaan alat sadap untuk kepentingan politik.
“Karena dia tahu penyakitnya dari dalam, dia tahu obatnya. Makanya dia tidak ragu membongkar,” ujar Rechan.
NCW mencatat tiga alasan mengapa langkah Suyudi ini menjadi titik balik Polri:
1. Berani Menangkap Mantan Pimpinan Sendiri
Dalam sejarah Polri, jarang ada Kapolri yang berani menetapkan mantan Kapolri sebagai tersangka. Suyudi melakukannya. Ini sinyal bahwa tidak ada lagi kebal hukum di Polri, tidak ada lagi senioritas yang melindungi kejahatan.
2. Membongkar Jaringan Narkoba Lintas Negara
Pengungkapan narkoba yang menyeret WNA menunjukkan Polri tidak lagi bermain-main dengan narkoba. Selama ini, publik curiga ada oknum Polri yang menjadi beking jaringan narkoba. Kini, Suyudi justru yang membongkarnya.
3. Membongkar Penyadapan Elit Politik
Dugaan penyadapan terhadap Presiden, ketum parpol, wartawan, dan LSM adalah kejahatan paling serius. Itu bukan lagi pelanggaran disiplin, itu pengkhianatan terhadap demokrasi. Jika Suyudi berhasil membongkarnya sampai ke aktor intelektualnya, maka Polri akan naik kelas.
“Kalau tiga ini tuntas, stigma Parcok akan hilang dengan sendirinya. Publik akan percaya lagi, Polri sudah kembali ke khittahnya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” tegas Rechan.
Namun NCW mengingatkan, dukungan publik ini bukan cek kosong. Suyudi harus konsisten, tidak boleh berhenti di tengah jalan, tidak boleh masuk angin karena tekanan politik.
“Jangan sampai kasus ini hanya jadi tontonan awal lalu menguap. Jangan sampai hanya tiga jenderal yang jadi korban, sementara aktor-aktor di belakangnya lolos,” ujarnya.
NCW mendesak Kapolri untuk terus mengembangkan kasus penyadapan dan narkoba ini, termasuk membongkar aliran dana, siapa yang memesan, siapa yang membayar, dan siapa yang menikmati hasilnya.
“Kami akan kawal. NCW akan terus mengawasi. Jika Jenderal Suyudi konsisten, kami di belakangnya. Kalau Kapolri goyah, NCW yang pertama akan mengingatkannya,” pungkas Rechan. (Edr)











