Ahmad Syaikhu Maju Cagub Jabar, Etos Sebut Hanya Mimpi Basah di Siang Hari

- Penulis

Kamis, 5 September 2024 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah,

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah,

JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah menilai keputusan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu untuk maju sebagai calon gubernur Jawa Barat hanya membuang-buang waktu.

“Saya menilai keputusan Presiden PKS Ahmad Syaikhu untuk maju pada kontestasi pilgub Jabar hanya buang-buang waktu saja. Bahkan kami melihatnya hanya mimpi basah di siang hari,” kata Iskandar kepada Mediakarya, Kamis (5/9/2024).

Penilaian Iskandar bukan tanpa alasan, sebab partai yang kerap mengklaim sebagai partai dakwah itu justru praktiknya sangat transaksional. Oleh karenanya, terkait dengan Pilgub Jabar ia meyakini bahwa masyarakat sudah tak mempercayai pada partai yang dinilai “lain di muka lain di hati” itu.

“PKS hari ini saya melihatnya menjadi partai transaksional berkedok agama. Seperti perkara-perkara menjelang pilkada serentak banyak terjadi politik transaksional. Dan masyarakat saat ini sudah cerdas dan tak mau tertipu lagi dengan pola PKS yang kerap menjual tag line partai religius. Tapi faktanya tidak sesuai dengan kenyataan,” tegas Iskandar.

Dia juga menuding bahwa Ahmad Syaikhu adalah presiden PKS paling gagal sepanjang sejarah semenjak kelahiran Partai Keadilan (PK) karena tidak mampu menjaga konsolidasi parpolnya.

“Bagaimana di Pilgub Jabar ini Syaikhu mau mendapat simpati publik, khususnya para simpatisan, sikapnya yang pragmatis yang dilakukan oleh presiden PKS itu justru menambah muak bagi masyarakat,” tegasnya.

Oleh karena itu, Iskandar berpendapat bahwa majunya presiden PKS di pilgub Jawa Barat hanya menggugurkan syarat dan sebagai pelengkap semata. Sebab, baik lisan maupun perbuatannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:  PKS Apungkan Sejumlah Nama Sebagai Calon Wakil Wali Kota Padang

“Contoh Jakarta saja sudah jelas di depan mata kita semua, dari awal yang didorong-dorong untuk maju di pilgub Jakarta adalah Anies Baswedan, tapi diakhir waktu tiba-tiba loncat bergabung ke Koalisi Indonesia Maju (KIM), itu bukti bahwa parpol ini oportunis,” ungkapnya.

Tidak konsistennya PKS dinilai akan berefek kepada kader di bawahnya. Bahkan ribuan kader dan simpatisannya dikabarkan menyatakan diri untuk hengkang dari partai yang selama ini pernah menaunginya.

Kekecewaan kader dan simpatisan PKS saat ini dipastikan berdampak luas, sehingga akan mengancam suara partai pada pemilu mendatang.

“Dipastikan juga di 2029 suara PKS akan merosot tajam. Hari ini dikarenakan pimpinan-pimpinan mereka sudah tersandera juga,” ucapnya.

Iskandar juga menduga petinggi PKS saat ini lebih sibuk mengurus bisnis pribadinya dengan memanfaatkan jaringan partai, ketimbang mengurus umat dan simpatisannya yang selama ini memiliki andil besar dalam menjaga eksistensi partai.

“Kami menduga bahwa sejumlah petinggi PKS banyak sibuk bermain bisnis di berbagai sektor. Dari pertambangan, perkebunan, dan lain-lain guna memenuhi kantong pribadinya. Sementara umat yang selama ini dieksploitasi untuk mendongkrak suara partai dicampakkan begitu saja.

Untuk itu, dia menyarankan PKS tidak lagi mengambil tag line sebagai partai religius, karena pada hakekatnya partai PKS sudah menjelma jadi partai sekuler.

“PKS sudah seperti parpol nasionalis lainnya. Baik parpol yang katanya berideologi nasionalis maupun yang religius bagi saya sama. Tinggal hari ini  rakyat menilai sendiri, apakah rakyat masih percaya dengan pemain-pemain penipu rakyat atas nama parpol religius,” tutup Iskandar. (Pri)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan
DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra
Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat
Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik
“Color Me Confident” Jadi Ruang Eksplorasi Fashion dan Beauty di ARTOTEL Harmoni Jakarta
Rapat Pleno Terkesan Buram, Kredibilitas Ketum AMPG Dipertanyakan
Reses Oktavianus Bu’ulolo ke-V, Aspirasi Didominasi Peningkatan Infrastruktur Dan Air Bersih
Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:24 WIB

Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan

Senin, 25 Mei 2026 - 16:48 WIB

DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra

Senin, 25 Mei 2026 - 14:29 WIB

Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat

Senin, 25 Mei 2026 - 11:34 WIB

“Color Me Confident” Jadi Ruang Eksplorasi Fashion dan Beauty di ARTOTEL Harmoni Jakarta

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:48 WIB

Rapat Pleno Terkesan Buram, Kredibilitas Ketum AMPG Dipertanyakan

Berita Terbaru

Ilustrasi Gaji ke-13 (Foto: Ist)

Headline

Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan

Senin, 25 Mei 2026 - 23:24 WIB