Bargaining Politik Jokowi-Mega Jegal Anies

- Editor

Selasa, 27 Agustus 2024 - 20:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Yusuf Blegur

Demi mencegah pertumpahan darah sesama rakyatnya, Bung Karno rela mengorbankan dirinya dalam peristiwa 1965. Kini, Mega yang anak biologis Bung Karno di usia senjanya tengah diuji,  sanggupkah melawan Jokowi dan oligarki sembari merelakan kader-kader PDIP bermasalah hukum sekaligus memberikan mandat ke Anies untuk maju di Pilkada Jakarta 2024?.

Satu-satunya alasan Megawati Soekarno Putri tidak mengusung Anies Baswedan dari PDIP untuk pilgub Jakarta adalah karena tekanan Jokowi. Pasalnya, Jokowi melakukan bargaining,  jika Mega mengusung Anies, maka sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan beberapa kader PDIP bermasalah hukum lainnya termasuk yang ikut pilkada di beberapa daerah,  akan  dijebloskan ke penjara.

Jokowi masih punya kekuatan meski lengser kurang dari dua bulan. Jika Mega nekat mengusung Anies, maka agenda pilkada PDIP di beberapa daerah akan berantakan. Paling krusial ada target Hasto sekjen PDIP yang akan dioperasi pada level penangkapan. Hasto yang berperan besar dalam merekomendasikan calon kepala daerah PDIP, sejak lama memang sudah  menjadi incaran KPK dan Kejagung. Sebut saja kasus Harun Masiku, DJKA dll, Hasto menjadi beban terberat bagi Mega dan PDIP.

Mega dalam pilihan yang sulit, begitu dilematis. Dalam satu sisi sudah mengambil jalan oposisi namun masih tersandera politik oleh Jokowi. Di lain sisi Mega menyadari betul, bahwasanya hanya Anies yang memiliki kekuatan akar rumput yang bisa menang pilkada Jakarta melawan calon gubernur boneka yang diusung rezim Jokowi (baca: 12 partai politik brekele). 

Baca Juga:  Sang Khotib Sang Presiden

Mega tengah diuji karakter dan integritasnya. Memilih antara mengusung atau menjegal Anies yang linear dengan  takluk atau melawan pengaruh dan tekanan Jokowi. Mega dihadapkan pada pilihan realitas politik yang sangat menentukan masa depan konstitusi dan demokrasi di Indonesia melalui politik pilkada Jakarta.

Akhirnya sikap oposisi PDIP akan diuji dalam menentukan fenomena Anies. Figur Anies yang telah menjadi musuh besar dan utama bagi  Jokowi dan oligarki sehingga segala cara dilakukan untuk menjegal Anies untuk memegang peranan penting dan strategis dalam jabatan publik. Akankah Mega dengan PDIP  membangun kolaborasi dengan Anies untuk melawan Jokowi dan oligarki yang juga telah menghianatinya?. 

Rakyat hanya tinggal menunggu sejarah yang akan ditulis Mega sendiri, menjadi pahlawan atau penghianat sebagaimana Jokowi dan oligarki yang kini ditentangnya. Sanggupkah hati nurani Mega  bicara demi kepentingan konstitusi dan demokrasi yang sejati?. Ataukah Mega terpaksa  bargaining politik dengan Jokowi untuk menyelamatkan kader-kader PDIP yang bermasalah hukum,  seiring sejalan dengan berat hati batal mengusung  Anies dalam pilgub Jakarta 2024.

Penulis: Mantan Presidium GMNI

 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

HUT TNI ke-81, Di Antara Loyalitas dan Batas Sipil
Dari Meja Tata Usaha Hingga Puncak Korps Adhiyaksa: Perjalanan Noor Achmad
GNK Apresiasi Kapolri Suyudi Kedepankan Integritas, Ingatkan Bahaya Oknum Jual Nama Kapolri Berjubah Agama
Pendapat Para Pakar Jelang Putusan MK Tentang Syarat Pendidikan Calon Pemimpin Neggara
Gaji Minimum Kedamaian Maksimal
Pikiran Ekonomi Heterodoks Yudhie Haryono dan Mazhab Tebet: Dari Perlawanan Epistemik ke Kedaulatan Ekopol
Sekjen NCW Harap Kapolri Baru Perkuat Penegakan Hukum dan Berantas Korupsi di Daerah
Inisiator GNK Habib Syakur: Kapolri Suyudi Ario Seto Harus Bawa Perubahan di Tengah Isu Geopolitik

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:30 WIB

HUT TNI ke-81, Di Antara Loyalitas dan Batas Sipil

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Dari Meja Tata Usaha Hingga Puncak Korps Adhiyaksa: Perjalanan Noor Achmad

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pendapat Para Pakar Jelang Putusan MK Tentang Syarat Pendidikan Calon Pemimpin Neggara

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:34 WIB

Gaji Minimum Kedamaian Maksimal

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Pikiran Ekonomi Heterodoks Yudhie Haryono dan Mazhab Tebet: Dari Perlawanan Epistemik ke Kedaulatan Ekopol

Berita Terbaru

Opini

HUT TNI ke-81, Di Antara Loyalitas dan Batas Sipil

Senin, 5 Okt 2026 - 08:30 WIB