JAKARTA, Mediakarya – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni diterjang badai desakan mundur. Sejumlah aktivis pediuli lingkungan secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto segera me-reshuffle politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.
Desakan keras itu meledak lantaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sudah berlangsung 3 hingga 4 bulan tak kunjung padam di Kalimantan dan Sumatera.
Sekjen Prabu Peduli Lingkungan, Rido Satrio, menuding Raja Juli Antoni gagal total dalam tata kelola hutan. Akibatnya, kerusakan hutan makin parah, bencana ekologis seperti banjir dan longsor melanda Sumatera, dan karhutla menjadi langganan tahunan yang tak pernah tuntas.
Menhut juga dinilai tidak konsisten dan plin-plan. Ia dituding menerbitkan izin yang bertentangan dengan rekomendasi daerah serta dinilai kurang memahami tata kelola kehutanan secara utuh.
“Kebakaran meluas di beberapa wilayah seperti Kalimantan dan Sumatera, dengan tantangan besar pada lahan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan. Ini bukti nyata tata kelola hutan kita bobrok di bawah Raja Juli,” ujar Rido kepada Mediakarya di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Menanggapi kritik pedas dan desakan mundur yang membanjiri dirinya, Raja Juli Antoni menyatakan siap dievaluasi. Ia mengaku menghargai kritik dari publik maupun DPR sebagai vitamin untuk bekerja lebih keras.
“Saya siap dievaluasi dan menyerahkan keputusan jabatan sepenuhnya kepada Presiden Prabowo Subianto,” klaim Raja Juli.
Raja Juli juga berdalih pemerintah pusat dan daerah tidak lepas tangan. Ia menyebut terus berempati kepada masyarakat terdampak serta mengerahkan berbagai upaya pemadaman darat dan udara bersama TNI, Polri, Manggala Agni, BNPB, hingga uji coba penyemaian dry ice.
Namun bagi pegiat lingkungan, dalih pengerahan pasukan tak cukup. Hampir 4 bulan rakyat hidup dalam kepungan asap, ribuan warga ISPA, sekolah diliburkan, dan penerbangan terganggu.
“Jika tak mampu memadamkan api dan membenahi tata kelola, kami tegaskan sudah saatnya Raja Juli Antoni angkat kaki dari kursi Menteri Kehutanan,” tegas Rido. (Pri)









