Analis Politik Sentil Golkar: Citra Hancur Diterpa Korupsi, Kader Bekasi Malah Paksakan Istri Tersangka KPK Jadi Ketua

- Editor

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar (Foto: Mediakarya.di)

Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar (Foto: Mediakarya.di)

JAKARTA, Mediakarya – DPP Partai Golkar diminta segera berbenah dan memperbaiki citranya yang kembali terpuruk akibat persoalan korupsi yang menjerat sejumlah kadernya.

Desakan itu disampaikan Analis Politik Nurul Julyana menanggapi kasus hukum yang menjerat tiga kader Golkar, yakni Farid Arafiq, Fahd Arafiq dan Nusron Wahid.

Menurut Nurul, rentetan kasus tersebut menjadi pukulan telak bagi partai berlambang beringin di saat Golkar tengah berupaya mengembalikan kepercayaan publik.

“Di tengah sorotan kasus korupsi ini, DPP Golkar harusnya memperbaiki citra, bukan justru membiarkan manuver-manuver yang merusak moralitas partai,” ujar Nurul, kepada Mediakarya, Sabtu (17/10/2026).

Nurul secara khusus menyoroti dinamika internal di DPD Golkar Kota Bekasi. Ia menyayangkan manuver sejumlah kader yang mengklaim sebagai senior namun memaksakan kehendak untuk mendorong Ranny Fahd Arafiq maju sebagai calon Ketua DPD Golkar Kota Bekasi.

Padahal, Ranny adalah istri dari Fahd Arafiq yang saat ini kasus korupsinya tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Nurul, langkah tersebut menunjukkan matinya hati nurani dan krisis moralitas di tubuh Golkar daerah.

“Apa moralitas dan pola pikir kader yang mengklaim sebagai senior itu sudah tidak ada. Bayangkan saja, Ranny sendiri maju sebagai anggota DPR RI karena Fahd, kemudian yang bersangkutan ditahan KPK, sementara ada kelompok yang memaksakan istrinya maju mencalonkan ketua DPD Golkar, ini kan kacau cara berpikir mereka,” tegas Nurul.

Baca Juga:  Segera Laksanakan Musda, Kemelut DPD Golkar Kota Bekasi Berakhir

Ia menilai, pemaksaan tersebut sangat tidak etis dan tidak peka terhadap situasi hukum yang sedang menjerat keluarga tersebut. Di saat suaminya berurusan dengan KPK, memaksakan sang istri untuk memimpin partai di daerah justru akan semakin memperburuk persepsi publik terhadap Golkar.

“Ini bukan soal hak politik seseorang, tapi soal kepekaan, etika, dan logika sehat. Di tengah Fahd Arafiq disorot KPK, mendorong istrinya jadi ketua adalah blunder politik yang mempermalukan partai sendiri,” pungkas Nurul.

Ia meminta DPP Golkar turun tangan mengevaluasi dinamika di Kota Bekasi agar Musda tidak dijadikan ajang transaksi dan kepentingan sempit kelompok tertentu yang mengabaikan integritas partai.

Pencabutan Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq

Nurul juga meminta DPP Golkar mencabut surat diskresi yang diberikan kepada Ranny Fahd Arafiq untuk maju sebagai calon Ketua DPD Golkar Kota Bekasi. Menurut Nurul, pencabutan surat tersebut wajib dilakukan karena konteks politik dan hukumnya sudah berubah total.

“Surat diskresi itu diterbitkan oleh DPP kepada Ranny sebelum Fahd Arafiq ditangkap KPK. Sekarang situasinya sudah berbeda. Fahd sudah jadi tersangka dan ditahan KPK. Masa DPP mau tutup mata?” ujar Nurul.

Nurul menilai, mempertahankan surat diskresi tersebut sama saja dengan DPP Golkar melegitimasi praktik politik yang tidak beretika dan melukai rasa keadilan publik.

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Golkar di Ujung Badai, Rapor Merah Bahlil dan Rentetan Kasus Korupsi Kader Jadi Alarm Keras
Soroti Dana Hibah Golkar Bekasi, LI-TPK Dorong Kejari dan BPK Lakukan Penelusuran
Rapor Merah Kabinet Prabowo, Bahlil dan Pigai Terjerembab di Dasar Survei CELIOS
Pengamat: Usia Panjang Golkar Belum Jamin Jadi Partai Rakyat, Masih Bertumpu pada Elite dan Kekuasaan
Elektabilitas Salip Prabowo, Prabu Foundation Sarankan KDM Tinggalkan Gerindra: Kembali ke GolkarĀ 
Dari Pemenang Pileg Jadi Korban Reshuffle: Nasib Tragis Kader Golkar Jabar
Pasca Putusan MK Soal Ijazah Gibran, GNK Desak Aktor Intelektual di Balik Lolosnya Jokowi-Gibran Diungkap
Pakar Komunikasi Politik Sentil Parpol Pendukung Prabowo 2029: Terlalu Dini, Rakyat Butuh Solusi Bukan Deklarasi

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:54 WIB

Analis Politik Sentil Golkar: Citra Hancur Diterpa Korupsi, Kader Bekasi Malah Paksakan Istri Tersangka KPK Jadi Ketua

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Golkar di Ujung Badai, Rapor Merah Bahlil dan Rentetan Kasus Korupsi Kader Jadi Alarm Keras

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Soroti Dana Hibah Golkar Bekasi, LI-TPK Dorong Kejari dan BPK Lakukan Penelusuran

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:27 WIB

Rapor Merah Kabinet Prabowo, Bahlil dan Pigai Terjerembab di Dasar Survei CELIOS

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Pengamat: Usia Panjang Golkar Belum Jamin Jadi Partai Rakyat, Masih Bertumpu pada Elite dan Kekuasaan

Berita Terbaru

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Tamsil Linrung.

Opini

Menemukan Arah Baru Politik Umat

Sabtu, 17 Okt 2026 - 12:50 WIB