Defensif, Overprotektif dan Konspiratif Merespon Gugatan Ijazah Palsu

- Penulis

Selasa, 16 September 2025 - 13:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ijazah S1 Jokowi yang beredar di media sosial (Foto: Ist)

Ijazah S1 Jokowi yang beredar di media sosial (Foto: Ist)

Oleh: Yusuf Blegur

Sesulit itukah menunjukkan ijazah asli ketimbang melakukan orkestrasi alumni, guru besar dan rektor bahkan hingga institusi negara seperti Polri, KPU dll guna melakukan justifikasi?

Republik ini tak sekedar menyajikan badut dalam panggung politik. Keseharian politik yang harusnya serius penuh warna idealis terus larut bercampur lelucon. Semakin bias mana yang akademisi dan politisi serta mana yang komedian. Kesungguhan menjalankan nilai-nilai telah tergerus oleh kelakar, guyonan dan gelak tawa yang meninabobokan juga penuh kepalsuan.

Tuntutan sebagian besar rakyat terhadap status pendidikan seorang pemimpin yang pernah menjabat presiden, dijawab dengan tindakan yang merendahkan akal sehat, meniadakan cara berpikir logis dan menghilangkan kesadaran makna yang menjadi ciri khas kemanusiaan. Pendidikan sebagai alas intelektual dan kepemimpinan yang universal, dibiarkan menjadi remeh-temeh hingga nyaris ternoda oleh pandangan permisif terhadap suatu kelalaian dini yang akhirnya membangun struktur kebobrokan yang masif.

Alih-alih bersikap sederhana, faktual dan bertanggungjawab dalam merespon keingintahuan masyarakat tentang ijazah sarjananya. Jokowi malah membuat rumit, bertele-tele dan seperti mengabaikan etika, moral dan hukum keterbukaan informasi publik. Menunjukkan ijazah aslinya jika memang ada, atau mengakui dan meminta maaf ke publik atas kebohongannya selama ini. Begitu simpel mununtaskan masalah nasional yang menimbulkan kegaduhan panjang itu.

Jokowi semakin terjebak dengan kebohongan demi kebohongan yang terus-menerus. Rekayasa dan drama konyol sekaligus menjijikan semakin telanjang ditampilkan. Mungkin juga bisa disebut sangat memalukan. Ibarat sudah kepalang tanggung dan terlanjur basah, Jokowi tetap berupaya menabrak tembok besar kejujuran, kebenaran dan keadilan dengan sisa-sisa jejaring dan kekuasaan yang dimilikinya.

Baca Juga:  IPPS Sebut Perseteruan Dua Partai Koalisi Pendukung Pemerintahan Tri Adianto-Harris Potret Buruk Komunikasi DPRD Kota Bekasi

Parade alumi, akademisi, almamater dan kelembagaan negara hingga buzzer dan influencer bayaran, dibuat layaknya konser paduan suara yang sesungguhnya tak enak dan tak layak disajikan. Pelbagai entitas sosial politik tersebut dipaksa untuk mengakui sesuatu yang tak ada menjadi ada. Dengan tekanan, ancaman dan teror, bahkan juga fasilitas yang menggiurkan sebagai upaya pembungkaman sekaligus menjaga kesinambungan persekongkolan. Jokowi memaksa irisan kroniknya melakukan kebohongan.

Apa boleh buat jadilah mereka sekumpulan orang-orang penuh kepalsuan dan kehinaan dengan Jokowi sebagai pimpinannya. Pemimpin yang pernah menjadi presiden dengan awal karirnya mengusung drama seolah menjadi inspirator namun sebenarnya kotor dan sarat horor. Kini, Jokowi sedang bersusah payah dan setengah mati, menanggung salah satu dari banyak pertanggungjawabannya dihadapan rakyat, yakni ijazah palsunya.

Ijazah palsu yang tak cuma cukup ditutupi dengan kebohongan demi kebohongan. Jokowi menghadapi pertarungan hidup mati dengan hukum moral sejarahnya sendiri. Pembenaran yang harus merangkul rekayasa penuh defensif, overprotektif dan konspiratif dalam merespon gugatan ijazah palsu yang mengemuka dari rakyat. Seberapa kokoh pertahanan kepalsuan itu menahan keasliannya muncul ke permukaan?. Hanya waktu atau keheningan yang bisa menjawabnya.

Penulis: Analis Institute for Public Policy Studies

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat
“Color Me Confident” Jadi Ruang Eksplorasi Fashion dan Beauty di ARTOTEL Harmoni Jakarta
Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum
Jakarta 22 Satukan Komunitas Kreatif Sambut Jakarta 500 Tahun
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Politisi PDIP Sebut Banyak Kades Tak Paham Soal Mekanisme KDMP
Bandara Kertajati dan “Industri” Pertahanan AS: Mengancam Kedaulatan RI
Pengungkapan Kasus Dugaan Korupsi Pompanisasi Mandek, ETOS: Siapa di Belakang Kepala Dinas SDA Pemprov DKI?
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 14:29 WIB

Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat

Senin, 25 Mei 2026 - 11:34 WIB

“Color Me Confident” Jadi Ruang Eksplorasi Fashion dan Beauty di ARTOTEL Harmoni Jakarta

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:53 WIB

Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:26 WIB

Jakarta 22 Satukan Komunitas Kreatif Sambut Jakarta 500 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 05:43 WIB

Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan

Berita Terbaru

Anies Baswedan (Foto: Ist)

Daerah

Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik

Senin, 25 Mei 2026 - 12:21 WIB