Demi Lemuria Demi Indonesia

- Penulis

Selasa, 5 November 2024 - 09:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof.Yudhie Haryono (Foto: Ist)

Prof.Yudhie Haryono (Foto: Ist)

Bag: 1

Oleh: Yudhie Haryono

Ini kisah ilmiah. Yang hilang karena lelah. Lalu, jadi sampah dan sumpah-serapah. Atas alasan itulah, kita akan belajar kembali via sejarah. Tentang mula Atlantik. Kita menyebutnya Bumi Lemuria.

Tentu, ini adalah bumi suci dilahirkannya pancasila yang jujur dan pusat spiritual dunia, pusat tekhnologi, pusat kesemestaan. Inilah tanah suci Indonesia, di masa kini. Inilah bumi nusantara, di masa tengah. Inilah bumi atlantik, di masa purba. Inilah bumi lemuria, di masa pra-sejarah.

Lemuria artinya “benua tidak tak terkoleksi.” Ini merupakan peradaban pra-sejarah yang muncul sebelum Atlantis, sekitar 75.000 SM-11.000 SM. Ciri penghuninya: intuitif, kreatif dan empatif. Mereka mentradisikan musik, seni, dan etika-moral.

Setelah hilang, hadirlah benua Atlantis sebagai mula peradaban nusantara kuno dan enigmatis. Beredar sekitar, 11.000 SM-4 SM.

Setelah itu, peradaban Nusantara. Dalam arti yang lebih luas, Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Kepulauan Andaman dan Nikobar, Brunei, Filipina, Timor Timur, Papua Nugini, Solomon Utara, Kepulauan Selat Torres, serta pulau pulau kecil di samudra Hindia seperti Pulau Natal, Kepulauan Cocos (Keeling), dan pulau Pasir.

Baca Juga:  Negara Barbar: Ketika Kejahatan Disanjung dan Kebenaran Disingkirkan

Semua terhubung dengan samudra Atlantik dan benua Atala yang menjadi induk peradaban Atlantik yang mistis, spiritualistik, gigantik, tetapi tertelan disaster (bencana alam) dan paregreg (perang saudara) lalu dihabisi kolonialisme.

Setelah datangnya tiga hal itu, kewarasan, keidealan, kepancasilaan jadi terkubur di perut bumi ini dan dilarung di sungai untuk sampai lautan. Semua dilupakan dan dijadikan sampah yang tak layak dikenangkan. Kehadirannya diharamkan. Mereka dimusiumkan tanpa ingatan.

Sungguh, tanpa perjuangan yang gigih untuk memerdekakan diri, mengangkat harkat dan martabat sebagai punggawa tanah leluhur, menyucikan kembali tanah-tanah sorga dan bumi manusia serta rumah kaca tempat mengabdi, kita hanya akan dianggap kotoran oleh kekuasaan oligarki yang kemaki.

Kini, mari kita bangkitkan kembali. Lewat kisah dan sejarah ilmiah plus jati diri. Tentu agar kita tak khianat pada Tuhan, sesama dan semesta alam.

Penulis: Rektor Universitas Nusantara

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kartini, Perempuan yang Mengajarkan Bangsanya Bermimpi
Geledahan Lokasi Terkait Jampidsus: Tanggapan Resmi, Fakta Pengamanan, dan Ujian Sistemik
Raja Juli Antoni, Seteru Anies Baswedan Masuk Radar KPK
Membaca Jejak Penyidikan Tiga Klaster Tipikor BUMN oleh Kortastipidkor Polri dari Awal hingga Pengadilan
Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang “Wow”
Meteor Besar Segera Jatuh ke Bumi Nusantara?
Survei IndexMundi Dirilis Tahun 2015 dengan 10 Cacat Metodologis
Di Balik Anggaran: Ketika Media Menjadi Agen Pembagian “Kue”
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:02 WIB

Kartini, Perempuan yang Mengajarkan Bangsanya Bermimpi

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:02 WIB

Geledahan Lokasi Terkait Jampidsus: Tanggapan Resmi, Fakta Pengamanan, dan Ujian Sistemik

Jumat, 10 Juli 2026 - 09:09 WIB

Raja Juli Antoni, Seteru Anies Baswedan Masuk Radar KPK

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:19 WIB

Membaca Jejak Penyidikan Tiga Klaster Tipikor BUMN oleh Kortastipidkor Polri dari Awal hingga Pengadilan

Kamis, 9 Juli 2026 - 06:39 WIB

Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang “Wow”

Berita Terbaru