Iran, Kunci dan Tumbal Dunia 

- Penulis

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kqpal tanker yang melintasi selat hormuz (Foto: Ist)

Kqpal tanker yang melintasi selat hormuz (Foto: Ist)

Oleh: Adi Suparto

“Siapa yang menguasai Timur Tengah, dialah yang menguasai dunia”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, melainkan hukum kekuasaan yang terbukti sepanjang masa. Di wilayah inilah bersarang 60% cadangan minyak dan gas dunia, persimpangan jalur perdagangan laut dan darat terpenting, serta pusat keseimbangan politik global. Menguasai kawasan ini berarti memegang kendali ekonomi, energi, dan keamanan seluruh bangsa di muka bumi. Dan hari ini, seluruh kunci itu berpusat pada satu nama: IRAN.

Kini nasib Iran tidak lagi sepenuhnya ada di tangan rakyat atau pemimpinnya sendiri. Ia telah menjadi kartu tertinggi dalam permainan besar dunia. Dunia butuh Selat Hormuz aman agar ekonomi berjalan; dunia butuh harga energi terkendali agar negara-negara kaya makin kaya; dunia butuh keseimbangan kekuasaan agar tidak terjadi perang besar. Dan demi semua kebutuhan dunia itu, Iran lah yang dipaksa menanggung beban terberatnya.

Di atas kertas, Iran tampak makin kuat, disegani, dan diakui. Namun di balik layar, ia sedang dipertaruhkan sepenuhnya, bahkan disiapkan sebagai tumbal utama. Jika damai tercapai, ia harus melepaskan sebagian kedaulatan dan kekuatan. Jika gagal damai, wilayahnya jadi medan tempur dan rakyatnya yang paling menderita. Dunia hanya akan rugi uang sejenak, tapi Iran bisa berubah nasib selamanya.

Baca Juga:  Prabowo Yes, Jokowi No?

Iran menang, dunia aman. Iran hancur, dunia tetap berjalan mencari pengganti. Itulah wajah asli politik dunia: negara besar pun bisa jadi alat, dan alat pun bisa dibuang setelah dipakai.

Catatan Penulis

“Kondisi hari ini adalah fase paling berbahaya sekaligus menentukan. Selat Hormuz dibuka sedikit, bukan karena damai sudah tercapai, melainkan hanya sebagai kartu tawar terakhir.

Rancangan perdamaian ada, isi sudah disepakati, namun belum ditandatangani karena di situlah letak pertarungan sesungguhnya: Trump ragu karena takut disebut menyerah; Iran enggan membuka penuh karena takut kehilangan senjata terkuatnya; dunia ekonomi gelisah karena nasib kekayaan masih menggantung.

Ketegangan itu bukti nyata: pergeseran kekuasaan belum selesai. Belum ada yang berani meletakkan senjata, belum ada yang merasa aman. Damai itu masih di atas kertas. Di laut, di politik, dan di ekonomi, pertarungan masih berlangsung sengit. Selama tanda tangan belum ada dan selat belum berjalan normal, segalanya bisa berubah drastis dalam sekejap. Di sinilah sejarah sedang ditulis, huruf demi huruf, dalam ketegangan.

Penulis: Analis Politik dan Kebijakan Publik 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Mengapa Kenaikan Harga Eceran Tertinggi Minyakita Bukan Solusi
Jalur Mandiri Jadi Kotak Hitam, Biaya Tembus Rp1,5 M: Menjaga Gerbang Kampus Demi Kualitas
Rupiah Murah, Rasuah Meriah
Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng
Program Makan Bergizi Gratis: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?
Kekayaan Nasional Itu Kekayaan Seluruh Warga Negara Indonesia
Merayakan “Kematian” Pancasila
Dari Pra Bowo ke Paska Bowo
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:13 WIB

Mengapa Kenaikan Harga Eceran Tertinggi Minyakita Bukan Solusi

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:32 WIB

Jalur Mandiri Jadi Kotak Hitam, Biaya Tembus Rp1,5 M: Menjaga Gerbang Kampus Demi Kualitas

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:17 WIB

Rupiah Murah, Rasuah Meriah

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:32 WIB

Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng

Selasa, 2 Juni 2026 - 06:04 WIB

Program Makan Bergizi Gratis: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?

Berita Terbaru