Oleh: Adi Suparto
Setelah puluhan tahun terbelah dan berulang kali dilanda konflik berdarah, sejarah mencatat langkah bersejarah bangsa Yaman. Pada 22 Mei 1990, Republik Yaman resmi terbentuk. Ini merupakan tonggak Sejarah Persatuan Dua Negara Berbeda Ideologi menyatukan Republik Arab Yaman (Yaman Utara) dan Republik Demokratik Rakyat Yaman (Yaman Selatan) dalam satu wadah kedaulatan.
Keputusan ini menjadi bukti nyata kedewasaan berpikir para pemimpin, yang mampu menyingkirkan ego sektoral demi kepentingan bersama, serta mewujudkan cita-cita kembali ke jati diri sejarah bangsa.
Persatuan ini bukan keputusan sepihak atau mendadak. Di baliknya terdapat proses panjang pematangan kesadaran, yang bertumpu pada akar sejarah yang sama, tekanan kondisi politik-ekonomi, serta peluang perubahan tatanan dunia. Padahal, kedua negara itu memiliki perbedaan sangat tajam: Yaman Utara bercorak republik tradisional berbasis ikatan kesukuan, sedangkan Yaman Selatan menganut sistem sosialis-komunis yang berpihak pada Blok Timur.
Tiga Pilar Dasar Kesepakatan
Kesediaan kedua kubu untuk bergabung berakar dari tiga landasan utama yang tak terbantahkan:
Pertama, identitas sejarah dan kesatuan bangsa. Baik Ali Abdullah Saleh (Pemimpin Yaman Utara) maupun Ali Salem al-Beidh (Pemimpin Yaman Selatan) sama-sama meyakini bahwa rakyat di kedua sisi perbatasan sejatinya satu keturunan, satu budaya, satu bahasa, serta mewarisi peradaban kuno Saba’ dan Ma’in yang sama. Pemekaran wilayah puluhan tahun silam dinilai hanya akibat campur tangan kekuatan asing. Kekaisaran Utsmaniyah di utara dan Inggris di selatan-bukan kehendak rakyat. Dari sini tumbuh keyakinan: bersatu berarti mengembalikan keadaan asli.
Kedua, semangat nasionalisme Arab. Perbedaan ideologi tidak menghalangi pemimpin kedua negara memegang prinsip persatuan dunia Arab. Keduapihak sepakat, Yaman yang bersatu akan memiliki posisi jauh lebih kuat, berwibawa, dan memiliki daya tawar tinggi di kawasan Timur Tengah. Perbedaan sistem pemerintahan justru dipandang sebagai kekayaan yang bisa saling melengkapi, bukan alasan berpisah.
Ketiga, pelajaran pahit konflik masa lalu. Perang saudara 1972 dan 1979 menjadi pengingat keras: pertikaian tidak menghasilkan pemenang, melainkan kerugian besar di kedua sisi. Pengalaman itu membentuk kesadaran matang: stabilitas dan kesejahteraan hanya mungkin dicapai lewat kerja sama, bukan konfrontasi.
Tekanan Nyata Mempercepat Keputusan
Selain alasan sejarah, faktor ekonomi dan politik menjadi pendorong kuat yang mempercepat penyatuan:
Dari sisi Selatan, sistem ekonomi negara itu sangat bergantung sepenuhnya pada bantuan Uni Soviet dan negara Blok Timur. Namun, menjelang akhir 1980-an, blok kekuatan itu runtuh total, bantuan terhenti sama sekali, ekonomi kolaps, dan stabilitas politik terancam. Persatuan dianggap satu-satunya jalan menyelamatkan negara dan sistem pemerintahan mereka.
Sementara itu, Yaman Utara menghadapi masalah keterbelakangan pembangunan, gesekan antarsuku, serta keterbatasan akses laut. Keberadaan pelabuhan strategis Aden dan kekayaan alam di wilayah selatan menjadi kebutuhan mendesak. Bersatu membuka peluang pengelolaan sumber daya, termasuk cadangan minyak, secara bersama demi kemajuan nasional. Momen ini diperkuat perubahan suasana politik dunia pasca perang dingin.
Keberhasilan penyatuan Jerman Timur – Barat menjadi inspirasi nyata bagi para pemimpin Yaman. Negosiasi pun dimulai 1988, perbatasan dibuka bebas, dan perjanjian resmi ditandatangani November 1989.
Isi Persetujuan: Wujud Kesadaran Kolektif
Pada hari proklamasi, 22 Mei 1990, kesepakatan dituangkan dalam poin-poin utama:
- Membentuk Republik Yaman yang berdaulat, bersatu, demokratis, dan berintegritas wilayah.
- Menetapkan Sana’a sebagai ibu kota negara, dengan struktur pemerintahan gabungan unsur kedua sistem lama.
- Menunjuk Ali Abdullah Saleh sebagai Presiden dan Ali Salem al-Beidh sebagai Wakil Presiden.
- Menjamin kebebasan politik, berpendapat, dan beragama, serta menghapus pembatasan yang berlaku di masa terpisah.
Secara mendasar, keputusan ini dinilai pengamat sebagai langkah politik matang: menggabungkan kekuatan, menutup kelemahan masing-masing, dan mewujudkan cita-cita bangsa yang terpisah terlalu lama.
Yaman: Warisan Peradaban dan Kecerdasan Sepanjang Masa
Keputusan strategis bersatu itu hanyalah satu bukti kecil karakter besar bangsa Yaman. Sejak ribuan tahun lalu, di seluruh dunia Arab dan Islam, bangsa ini dikenal memiliki ketajaman berpikir, kedalaman analisis, dan kecerdasan luar biasa, sebuah fakta sejarah, bukan sekadar pujian.
Jejak kecemerlangan masa lalu
Kecerdasan bangsa ini terekam jelas dalam warisan peradaban kuno. Kerajaan Saba’ dan Ma’in telah membangun sistem irigasi maju seperti Bendungan Marib, menguasai ilmu ukur tanah, arsitektur, dan mengelola jalur perdagangan internasional sangat rapi jauh sebelum bangsa lain berkembang.
Tokoh besar warisan bangsa
dari tanah ini lahir pemikir yang karyanya menjadi rujukan umat manusia. Salah satu yang terbesar adalah Imam Syafi’i, pendiri mazhab fikih terbesar di dunia Islam. Dikenal memiliki daya ingat luar biasa dan logika tajam, beliau lahir dan tumbuh dalam lingkungan budaya Yaman yang kental. Selain itu, muncul nama-nama seperti Al-Jahiz, Al-Khalil bin Ahmad, Ibnu al-Muqaffa’, dan Ibnu Hajar al-Asqalani, tokoh yang meletakkan dasar ilmu bahasa, sastra, tafsir, dan sejarah.
Ciri khas kecerdasan Yaman
Ada tiga keunggulan utama yang melekat:
- Penguasaan bahasa: Yaman dianggap wilayah dengan bahasa Arab paling murni, fasih, dan indah. Kemampuan merangkai kata dan menyusun syair menjadi ciri kecerdasan verbal tinggi.
- Kekuatan ingatan: Ilmu disampaikan dan dijaga lewat hafalan. Banyak ulama hafal ribuan hadis, kitab, atau puisi panjang tanpa catatan. Hingga kini, anak-anak Yaman kerap juara dunia kompetisi hafalan dan hitung cepat.
- Pemikiran mandiri: Berbeda bangsa lain yang sering mengikuti arus, ulama dan pemikir Yaman banyak melahirkan metode dan pandangan orisinal yang menjadi standar ilmu Islam.
Tetap bersinar meski diuji
Meski kini negeri itu dilanda konflik panjang, potensi kecerdasan tetap menonjol. Banyak warga asal Yaman menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, dan akademisi penting di universitas Eropa, Amerika, dan negara Arab lain. Nama Yaman juga kerap muncul sebagai juara olimpiade sains, matematika, dan kompetisi kecerdasan tingkat internasional.
Kecerdasan ini tumbuh dari budaya menghormati ilmu, tradisi pendidikan kuat, serta warisan peradaban tua yang melatih cara berpikir kritis, teratur, dan mendalam.
Tak berlebihan jika Yaman dijuluki “bangsa berotak cemerlang”. Kecerdasan itulah yang menyatukan mereka 1990 silam, dan kelak akan menjadi modal utama bangkit kembali serta memegang peran besar dalam sejarah dunia.
Penulis: Analis Politik dan Hukum











