Ketika Penegak Hukum Merendahkan Pengawal Informasi

- Editor

Senin, 20 Juli 2026 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Kritis Atas Ucapan yang Menggerus Demokrasi

Oleh: Adi Suparto

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, ditegaskan secara tegas bahwa advokat adalah penegak hukum. Mereka memegang amanat untuk menjamin hak hukum setiap warga negara, menjunjung tinggi keadilan, dan menjaga tegaknya sistem hukum yang beradab. Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menjamin peran wartawan sebagai pengawal informasi: memastikan hak masyarakat untuk tahu, mengawasi jalannya kekuasaan, dan menyebarkan kebenaran yang terverifikasi.

Keduanya adalah pilar sejajar dalam negara demokrasi yang berlandaskan hukum. Maka ketika seorang penegak hukum melontarkan ucapan merendahkan seperti “lu punya otak nggak?” kepada wartawan yang sedang menjalankan tugas, hal itu bukan sekadar perselisihan lisan. Itu adalah pertanyaan besar tentang kesadaran akan peran masing-masing profesi yang sama-sama dilindungi undang-undang.

Dua Amanat, Satu Tujuan

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir mengingatkan: bertanya adalah bagian tak terpisahkan dari tugas jurnalistik yang dilindungi negara. Wartawan tidak bertanya untuk menantang, melainkan memfasilitasi masyarakat mendapatkan penjelasan yang transparan.

Sebagai penegak hukum, advokat tentu berhak menolak menjawab pertanyaan yang dianggap tidak relevan atau tidak berkaitan dengan perkara. Namun hak itu tidak serta-merta meliputi hak untuk merendahkan martabat profesi lain. Pembelaan terhadap klien tidak boleh dijalankan dengan cara merendahkan orang yang sedang menjalankan amanat undang-undang yang lain.

Baca Juga:  LBH Apik Dorong Perlindungan Korban Pemaksaan Aborsi

Bahaya di Balik Penghinaan

Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) dan Ikatan Wartawan Online (IWO) mengecam pernyataan tersebut karena berpotensi menjadi pintu pembungkaman kebebasan pers. Ketika profesi yang diamanatkan menjunjung tinggi hukum justru menggunakan kata-kata yang menekan profesi lain yang dilindungi hukum pula, maka yang runtuh adalah kepercayaan publik terhadap kesetaraan di hadapan aturan.

Menghina wartawan yang bertanya pada dasarnya sama dengan menghalangi hak rakyat untuk mendapatkan informasi. Dan dalam konteks perkara korupsi yang menyedot perhatian publik, keterbukaan justru menjadi kunci agar tidak terjadi kesimpangsiuran fakta.

Memulihkan Marwah Bersama

Desakan agar ada klarifikasi dan permohonan maaf terbuka bukanlah soal siapa yang menang atau kalah. Ini adalah upaya mengembalikan kesadaran bahwa:

  • Kekuatan seorang penegak hukum terletak pada argumen yang berdasar hukum dan fakta, bukan pada kata-kata yang merendahkan:
    ​
  • Kebebasan pengawal informasi terjaga manakala setiap pihak menghormati haknya untuk bertanya;
    ​
  • Demokrasi hanya akan tegak jika kedua pilar ini saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Pers yang merdeka tidak lahir dari rasa takut. Demikian pula hukum yang berkeadilan tidak akan tegak jika penegaknya tidak mampu menjaga etika dan rasa hormat terhadap sesama pelayan kepentingan publik.

Penulis: Pakar Komunikasi dan Kebijakan Publik

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Gerebek Ponpes Demi Kasus Warung Mie Babi, Polda Jateng Runtuhkan Citra Polri?
Cakupan Air Perpipaan Tembus 83 Persen, Jakarta Mulai Kendalikan Penurunan Tanah
Prabowo di Persimpangan: Menjaga Konstitusi, Mengawal Stabilitas
Putusan Kasus Suket Gibran di Tengah Gejolak Demonstrasi dan Ekonomi: Kebetulan atau Smoke Screen Politik?
MA Putuskan: Suket Penyetaraan SMA Gibran Tidak Sah. Catatan Hukum & Langkah ke Depan
MA Batalkan Suket Pendidikan Gibran, Denny Indrayana Syarat Wapres Tak Terpenuhi
Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT
Analisis Hukum: Sengketa Administrasi Ijazah Gibran dan Standar Pembuktian di PTUN

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:02 WIB

Gerebek Ponpes Demi Kasus Warung Mie Babi, Polda Jateng Runtuhkan Citra Polri?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Cakupan Air Perpipaan Tembus 83 Persen, Jakarta Mulai Kendalikan Penurunan Tanah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:15 WIB

Putusan Kasus Suket Gibran di Tengah Gejolak Demonstrasi dan Ekonomi: Kebetulan atau Smoke Screen Politik?

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:48 WIB

MA Putuskan: Suket Penyetaraan SMA Gibran Tidak Sah. Catatan Hukum & Langkah ke Depan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:38 WIB

MA Batalkan Suket Pendidikan Gibran, Denny Indrayana Syarat Wapres Tak Terpenuhi

Berita Terbaru