JAKARTA, Mediakarya – Keterbatasan fisik tidak menghalangi Meganatasya, remaja putri penyandang disabilitas asal Bali, untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi. Remaja yang akrab disapa Tasya ini menekuni dunia seni, mulai dari menari, modeling, hingga seni peran.
Kini, Tasya bersiap menyapa penonton melalui film drama inklusif berjudul Terangku Dalam Gelapku. Film yang mengangkat kehidupan anak-anak penyandang disabilitas tersebut telah menyelesaikan proses pengambilan gambar dan dijadwalkan segera tayang di bioskop.
Tasya bersama Mimi Jegon, sutradara sekaligus produser film tersebut, ditemui di Lippo Mall Nusantara, Sabtu (19/9/2026). Dalam kesempatan itu, Tasya mengungkapkan kegembiraannya bisa terlibat dalam produksi film layar lebar.
Selain aktif di dunia seni, Tasya juga tetap menjalani kegiatan sekolah. Ia diketahui kerap mengikuti berbagai perlombaan, termasuk lomba mewarnai.
Bagi Tasya, kegiatan akademik dan aktivitas seni dapat berjalan beriringan. Ia mengaku senang menjalani pengalaman berakting dalam film tersebut.
Mimi Jegon menjelaskan, Terangku Dalam Gelapku mengangkat kisah anak-anak penyandang disabilitas dengan beragam kondisi, mulai dari anak tuli, tunanetra, penyandang disabilitas fisik, hingga anak dengan sindrom Down.
Film ini menggambarkan bagaimana anak-anak tersebut menghadapi lingkungan sosial dan perasaan seolah memiliki keterbatasan. Namun, di balik kondisi masing-masing, mereka mempunyai potensi, kelebihan, serta keistimewaan yang patut dihargai.
Melalui cerita tersebut, film ini ingin menyampaikan pesan tentang keberagaman, kesetaraan, empati, dan persahabatan. Anak-anak penyandang disabilitas bukan sekadar objek cerita, melainkan individu yang memiliki kesempatan untuk berkarya dan menunjukkan kemampuan mereka.
Kisah film ini terinspirasi dari kehidupan Ni Putu Sri Widia Meganatasya, atau Natasha, remaja berbakat asal Bali yang merupakan putri pasangan I Made Sukanaya dan Ni Luh Ketut Nina Handayani Puspasari.
Sejak kecil, Natasha telah menunjukkan ketertarikan terhadap dunia seni. Kegiatan menari, modeling, dan seni peran menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya.
Mimi Jegon mengungkapkan, proses penggarapan Terangku Dalam Gelapku membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan film-film yang pernah dikerjakannya sebelumnya.
Jika produksi film sebelumnya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu, film ini membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan. Durasi tersebut diperlukan karena proses pengarahan para pemain membutuhkan pendekatan khusus, kesabaran, serta komunikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Menurut Mimi, pendekatan emosional menjadi bagian penting dalam proses produksi. Ia berusaha membangun kedekatan dengan para pemain agar mereka merasa nyaman dan tidak canggung selama menjalani proses syuting.
“Film anak disabilitas itu bukan film seperti yang saya bikin sebelum-sebelumnya. Jadi, film ini memang jika kita mau mendekatkan diri dengan anak spesial, kita pakai lebih ke perasaan, dengan hati,” ujar Mimi Jegon.
Ia menambahkan, dirinya berusaha memperlakukan para pemain seperti keluarga sendiri. Dengan begitu, hubungan antara sutradara dan pemain dapat terbangun secara lebih dekat, sehingga proses pengarahan berlangsung lebih nyaman.
Salah satu tantangan dalam produksi film ini adalah menyesuaikan komunikasi dengan kebutuhan para pemain. Tasya merupakan remaja tuli yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Dalam film, Tasya memerankan seorang anak yang memiliki hubungan keluarga dengan karakter yang dimainkan aktor lain. Karena itu, para pemain yang berperan sebagai orang tua perlu mempelajari bahasa isyarat agar komunikasi dalam adegan dapat ditampilkan secara tepat.
Mimi menyebut para pemain, termasuk Andrew Andika dan istrinya, Vio, turut belajar bahasa isyarat. Kru produksi, termasuk kamerawan, juga perlu memahami komunikasi tersebut agar dapat memberikan arahan kepada para pemain selama proses pengambilan gambar.
Upaya itu dilakukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif sekaligus membantu para pemain menjalankan perannya dengan baik.
Film ini mengambil sejumlah lokasi di Bali, di antaranya Denpasar, Jimbaran, dan Gianyar. Selain menyutradarai dan memproduseri film, Mimi Jegon juga terlibat dalam penulisan skenario, penciptaan soundtrack, pendampingan pemain, hingga penataan busana.
Melalui Terangku Dalam Gelapku, Mimi Jegon berharap masyarakat dapat melihat anak-anak penyandang disabilitas dari sisi kemampuan dan potensi yang mereka miliki.
Film ini juga mengajak penonton memahami bahwa setiap anak mempunyai kesempatan untuk belajar, berprestasi, menjalin persahabatan, dan berkarya sesuai kemampuannya.
Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk mengabaikan potensi seseorang. Dukungan keluarga, lingkungan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membuka kesempatan bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Kehadiran film ini diharapkan dapat memperluas ruang inklusi di industri perfilman Indonesia sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih menghargai keberagaman.
Bagi Meganatasya, keterlibatannya dalam film ini menjadi salah satu pengalaman dalam perjalanan berkesenian yang terus dijalaninya, berdampingan dengan kegiatan sekolah, menari, dan modeling. (Hab)










