Lukisan Ayat-ayat Nusantara

- Editor

Selasa, 5 November 2024 - 09:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Bag: 3 

Oleh: Yudhie Haryono

Semua di semesta adalah ayat (tanda dan simbol). Kali ini kita diskusikan ayat nusantara. Ya. Pada hulunya kepunahan. Punah dari Lemuria dan Atlantik, sirna dari keagungan surga dan tenggelam dari percaturan dunia. Tumbuhlah sisa yang berusaha. Diaspora pendek. Nusa dan antara. Air dan daratan. Kepunahan dan kemunculan (kembali).

Nusantara tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Singasari, Majapahit, dan Sriwijaya. Konsep yang mirip dengan nusantara adalah dwipantara yang sama-sama berasal dari bahasa Sanskerta serta memiliki makna persis dengan nusantara, yaitu kepulauan antara.

Peradaban nusantara terletak di daerah tropika, yang berarti memiliki laut hangat dan mendapat penyinaran cahaya matahari terus-menerus sepanjang tahun dengan intensitas tinggi.

Situasi ini mendorong terbentuknya ekosistem yang kaya keanekaragaman makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan dan manusia. Lautnya hangat dan menjadi titik pertemuan dua samudera besar. Selat di antara dua bagian benua merupakan bagian dari arus laut dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang kaya sumberdaya laut.

Terumbu karang di wilayah ini merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kekayaan alam di darat dan laut mewarnai kultur penghuninya. Banyak di antara penduduk asli yang hidup mengandalkan pada kekayaan laut dan membuat mereka memahami navigasi pelayaran dasar sehingga membuat mereka menjadi bangsa pelaut tangguh.

Setelah sempat terlupakan, pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara, demi kemandirian dan kemerdekaan. Sayang, sejarah nama nusantara sebagai nama yang diangankan tetapi dikalahkan.

Baca Juga:  BBWM Kilang LPG Milik Warga Bekasi Dibiarkan Bocor Selama 20 Tahun

Sebab, kebanyakan memilih nama Indonesia. Satu penamaan dari geostrategis “benua bahari.” Dalam hamparan benua luas dan terpencar ini ada keharusan diisi oleh warga yang ontologinya maritimisme, epistemanya nusantaraisme, aksiologinya bhineka tunggal ika. Metodanya postkolonial, mentalnya Pancasila, desainnya imperium.

Untuk merealisasikan semuanya perlu “manusia atlantis.” Yang merdeka dan tak jadi budaknya kolonialisme, kartelis dan oligarkis. Yang jenius karena punya jati diri besar, mental daulat dan karakter semesta.

Di peradaban nusantara, kita menemukan agensi tersebut dan mendapat warisan nilai arsitektur yang mengerjakan lima dentuman peradaban agung: 1)Mengelola hasrat untuk mencapai konsensus; 2)Mencapai kedaulatan bersama; 3)Memelihara dan mengembangkan keaslian budaya; 4)Mentradisikan kemandirian dan kerjasama; 5)Mencapai kehormatan dan kemartabatan bersama.

Inilah mental nusantara; karakter bahari; prototipe agensi modern maritime state civic nationalism. Menjadi manusia nusantara adalah menjadi pemberani, petualang dan petarung sejati.

Dalam ontologi bangsa maritim watak utamanya adalah “penyembah” dan religius, toleransi tinggi, kekeluargaan dan kebersamaan. Itulah dasar gotong-royong yang merupakan faktor perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia nantinya.

Watak bangsa maritim tersebut tumbuh dan berkembang menjadi jatidiri warga yang hidup di kepulauan nusantara.

Apakah kita akan menempatkannya sebagai sekedar pusaka warisan atau modal kuasa merebut masa depan yang berperadaban? Kalian kuncinya.

Penulis: Rektor Universitas Nusantara

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Polri Milik Negara Bukan Milik Kekuasaan
Bukan Sekadar Sadap, Tapi Persekongkolan Gadaikan Kedaulatan Negara!
Konsekuensi Mutlak: Bayang-Bayang PTDH dan Pencopotan dari Jabatan KSP
Negara Kuat Mengawasi, Tetapi Lemah Mengendalikan Aparat Polisi
Mengenal LIMS, Teknologi Sadap Resmi Negara yang Diduga Untuk Menyadap Presiden Prabowo
Akhir Petualangan Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi
Gerebek Ponpes Demi Kasus Warung Mie Babi, Polda Jateng Runtuhkan Citra Polri?
Prabowo di Persimpangan: Menjaga Konstitusi, Mengawal Stabilitas

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 08:37 WIB

Polri Milik Negara Bukan Milik Kekuasaan

Sabtu, 7 November 2026 - 12:42 WIB

Bukan Sekadar Sadap, Tapi Persekongkolan Gadaikan Kedaulatan Negara!

Sabtu, 7 November 2026 - 10:17 WIB

Konsekuensi Mutlak: Bayang-Bayang PTDH dan Pencopotan dari Jabatan KSP

Sabtu, 7 November 2026 - 10:04 WIB

Negara Kuat Mengawasi, Tetapi Lemah Mengendalikan Aparat Polisi

Jumat, 6 November 2026 - 09:03 WIB

Mengenal LIMS, Teknologi Sadap Resmi Negara yang Diduga Untuk Menyadap Presiden Prabowo

Berita Terbaru

Ilustrasi  (Foto: Ist)

Opini

Polri Milik Negara Bukan Milik Kekuasaan

Minggu, 8 Nov 2026 - 08:37 WIB

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman (Foto: dok. Fraksi Gerindra)

Headline

Habiburokhman: Prestasi Listyo Jadi Nol Usai Sadap Presiden

Sabtu, 7 Nov 2026 - 19:18 WIB