JAKARTA, Mediakarya– Pelantikan Pengurus Prakarsa Warga yang diadakan di Balai Warga Jl.Warung Sila Ciganjur Jakarta Selatan, Sabtu (1/11/2025) langsung dilakukan oleh presidium Prakarsa Warga DKI Jakarta Lukman Hakim.
Hadir dalam acara tersebut Walikota Jakarta Selatan M.Anwar,S.Si.,M.A.P dan segenap tamu undangan serta anggota Prakarsa Warga dari Jakarta Barat, Jakarta Utara.
Dalam Sambutannya Presidium Prakarsa Warga DKI Jakarta Lukman Hakim menjelaskan pemilihan pengurus yang dilantik terbuka bagi semua masyarakat mulai dari segala segmen baik itu masyarakat kelas menengah, kelas atas yang segala berprofesi apapun silahkan terlibat kedalam Prakarsa Warga.
“Karena ujungnya adalah untuk melayani, menjembatani kepentingan masyarakat. Ketika masyarakat dan pemerintah pun membutuhkan jembatan jadi Prakarsa Warga akan siap. Posisi Prakarsa Warga adalah jembatan di antara kedua belah pihak masyarakat dan pemerintah,”ujar Lukman Hakim.
Jadi lanjut Lukman Hakim pengurus Prakarsa Warga terbuka untuk umum sesuai daerah masing-masing.
“Semua masyarakat akan terlibat dalam menjembatani, mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan kepentingan masyarakat baik dari tingkat Walikota, tingkat Sudin, kecamatan sampai tingkat kelurahan, pengurus beranggotakan 30 ,” ujar Lukman Hakim lagi.
Acara pelantikan ini dimeriahkan oleh penampilan tari tradisional Wijaya Kusuma serta anggota pengurus PKK staf kelurahan.
Serta diskusi dengan tema mitigasi dan kesiapsiagaan dalam memasuki musim penghujan dengan pembicara antara lain Yustinus Prastowo (Staf Khusus Gubernur), Isnawa Adji (Kepala BPBD DKI) dan Mohamad Amin (Kasus ini LH Jakarta Selatan)
Sementara itu, tingginya intensitas hujan pada bulan November 2025 sudah diprediksi oleh BMKG. Prediksi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan kecenderungan ENSO Netral sepanjang tahun 2025.
Namun demikian, terdapat sebagian kecil model iklim global yang memprediksi akan datangnya La Niña lemah di akhir tahun 2025.
Kondisi La Niña tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia. Sementara itu Indian Ocean Dipole saat ini berada pada fase negatif dan diprediksi akan bertahan hingga November 2025.
Puncak musim hujan 2025/2026 diprediksi banyak terjadi pada bulan November hingga Desember 2025 di Indonesia bagian barat. Bulan Januari hingga Februari 2026 di Indonesia bagian selatan dan timur. Puncak musim hujan diprediksi sama hingga maju (terjadi lebih awal) dibandingkan dengan kondisi biasanya. Durasi musim hujan 2025/2026 diprediksi akan lebih panjang daripada biasanya.
Hujan dengan intensitas lebat dapat menjadi penyebabkan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Di musim hujan, DKI Jakarta menghadapi ancaman yang tinggi terhadap risiko ini. Banjir umumnya dipicu oleh curah hujan ekstrem, yang tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga dapat merenggut korban jiwa. Dalam sepekan bencana ini sudah menyebabkan 2 orang meninggal dunia tertimpa pohon tumbang. Bencana seperti banjir, longsor, angin puting beliung merupakan bencana alam. Mengingat tingginya frekuensi bencana yang berulang setiap tahun, penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran melalui edukasi dan pengelolaan risiko bencana.
Langkah ini sangat penting agar warga Jakarta dapat terdukasi. agar dampak negatif, seperti kerugian material dan hilangnya nyawa, dapat diminimalisir. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat lebih siap menghadapi musim hujan yang penuh tantangan. Prakarsa warga kota Jakarta Selatan mengambil peran untuk terus melakukan diskusi terbuka dengan Warga Jakarta.
Prakarsa Warga Selalu mengikuti informasi cuaca dari sumber resmi seperti BMKG untuk mengetahui prakiraan hujan lebat atau cuaca ekstrem lainnya. Pemantauan yang rutin akan memberikan peringatan dini yang sangat penting dalam menghadapii potensi bencana.
Warga Jakarta harus dapat melakukan antisipasi dampak risiko bencana saat memasuki musim hujan, Pemerintah dan masyarakat terus meningkatkan upaya pencegahan dini serta mitigasi risiko bencana. Cuaca ekstrem kerap kali memicu bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang berpotensi menyebabkan kerusakan parah, termasuk pohon tumbang dan infrastruktur yang rusak.
Mengingat potensi risiko yang dihadapi masyarakat Jakarta, sesuai dengan prediksi dari BPBD DKI JAKARTA dan BMKG, langkah antisipasi dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas bersama demi melindungi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Berikut adalah beberapa langkah antisipasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor:
1. Pemantauan BMKG secara berkala
2. Pembersihan saluran drainase
Memastikan saluran – saluran air, selokan, dan sungai bebas dari sampah yang menghambat aliran air.
3. Bangun struktur yang dapat menampung dan menyerap air hujan, seperti sumur resapan atau kolam retensi
4. Menanam pohon dan tanaman lainnya dapat membantu menyerap air hujan, mengurangi erosi, serta memperkuat struktur tanah. Hal ini efektif dalam mencegah longsor, terutama di daerah dengan kontur tanah yang rentan
5. Tingkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko bencana dan langkah-langkah mitigasi melalui program edukasi, pelatihan, dan simulasi bencana. Dengan demikian, masyarakat akan lebih siap dalam menghadapi bencana serta mampu mengambil langkah yang cepat dan tepat.
6. Perencanaan tata ruang yang berkelanjutan.
7. Hindari pembangunan di daerah rawan bencana dan menerapkan zonasi wilayah yang mempertimbangkan risiko bencana dalam perencanaan kota. Tata ruang yang baik akan mengurangi risiko kerugian akibat bencana.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, diharapkan kita dapat lebih siap menghadapi musim hujan dan meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkannya. Keselamatan dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi prioritas, dan kesiapsiagaan yang baik adalah kunci untuk mengurangi risiko bencana yang mengancam di setiap musim hujan.(dri)











