Polri Torehkan Sejarah, Indonesia Akhiri 53 Tahun Impor Jagung

- Penulis

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hasil produksi jagung dalam negeri (Poto: Istimewa)

Hasil produksi jagung dalam negeri (Poto: Istimewa)

JAKARTA, Mediakarya – Indonesia mencatat tonggak penting dalam perjalanan ketahanan pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia yang mengimpor jagung sejak tahun 1973 berhasil menghentikan impor pada tahun 2026, bahkan mulai melakukan ekspor.

Setelah lebih dari lima dekade bergantung pada pasokan luar negeri, capaian ini menjadi bukti bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan mulai menunjukkan hasil nyata melalui sinergi berbagai elemen bangsa dalam mendukung program strategis nasional.

Menanggapi capaian tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai keberhasilan tersebut merupakan buah dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas nasional.

Menurut Haidar Alwi, keterlibatan Polri dalam mengawal program swasembada jagung membuktikan bahwa institusi kepolisian mampu memberikan kontribusi strategis di luar tugas utamanya melalui pendampingan kepada petani, pengawalan program pemerintah, serta penguatan kolaborasi di lapangan. Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi sejarah baru dalam pembangunan pangan Indonesia.

“Mengakhiri impor jagung setelah lebih dari lima puluh tahun bukan sekadar keberhasilan meningkatkan produksi. Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu mengubah sejarah ketika kepemimpinan nasional, kebijakan yang tepat, kerja keras petani, dan pengabdian seluruh institusi negara berjalan dalam satu tujuan. Polri telah menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat juga dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan sebagai bagian dari ketahanan nasional,” kata Haidar Alwi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026)

Swasembada Harus Berujung pada Kesejahteraan Petani

Haidar Alwi menegaskan bahwa keberhasilan menghentikan impor jagung tidak boleh dipandang sebagai garis akhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan tersebut memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Ketahanan pangan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi, tetapi juga oleh empat pilar utama, yaitu ketersediaan pangan, kemudahan akses, pemanfaatan yang optimal, dan stabilitas pasokan serta harga.

Menurut Haidar Alwi, pemerintah perlu terus memperkuat akses permodalan bagi petani agar pembukaan lahan dan peningkatan produktivitas tidak terkendala biaya. Selain itu, penggunaan benih unggul yang cepat tumbuh, tahan hama, berproduktivitas tinggi, serta mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi cuaca harus semakin diperluas untuk meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Bakal Cakada Kota Bekasi Ditantang Untuk Adu Gagasan Soal Isu Antikorupsi

Persoalan pupuk juga memerlukan perhatian serius. Ketersediaan pupuk dalam data administrasi harus benar-benar sejalan dengan kondisi di lapangan sehingga petani memperoleh pupuk dalam jumlah yang cukup, kualitas yang baik, dan pada waktu yang tepat. Tanpa dukungan sarana produksi yang memadai, keberhasilan swasembada akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Memperkuat Ekosistem Pertanian dari Hulu hingga Hilir

Haidar Alwi menilai pembenahan sektor pertanian tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Tata niaga hasil panen juga harus diperkuat agar petani memperoleh harga yang adil dan memiliki posisi tawar yang lebih baik. Ketergantungan terhadap tengkulak perlu dikurangi melalui penguatan koperasi, akses pembiayaan, industri pengolahan hasil panen, gudang penyimpanan, serta perluasan akses pasar.

Menurutnya, perhatian terhadap kondisi sosial ekonomi petani juga tidak boleh diabaikan. Sejak mengolah lahan hingga memasuki masa panen, petani membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Selama periode tersebut mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena itu, sistem pembiayaan, perlindungan harga, dan jaminan pemasaran harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan swasembada pangan nasional.

Lebih lanjut, survei Haidar Alwi Institute pada Maret hingga April 2026 yang mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 87,3 persen menjadi salah satu dasar penilaian kami bahwa Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo layak dinobatkan sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa. Keberhasilan Polri dalam mendukung program strategis nasional, termasuk mengawal swasembada jagung hingga Indonesia berhasil mengakhiri 53 tahun impor, semakin memperkuat penilaian tersebut.

“Ini membuktikan bahwa sejarah dapat diubah oleh kepemimpinan yang visioner, kebijakan yang konsisten, serta kerja nyata yang berpihak kepada rakyat. Kini tugas kita bukan hanya mempertahankan swasembada, tetapi memastikan setiap petani semakin sejahtera, produktivitas terus meningkat, dan Indonesia semakin kokoh sebagai bangsa yang berdaulat di bidang pangan. Ketika petani tersenyum, di situlah sesungguhnya negara sedang menuai hasil pengabdiannya,” pungkas Haidar Alwi.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Sidang Kasus Suap Blue Ray, Ketika Rantai Perkara Berhenti di Bea Cukai
Rempang-Galang Ujian Besar Presiden Prabowo antara Investasi Strategis, Hak Adat, dan Kepastian Negara
Roy Suryo dkk Korban Paradigma Hukum Warisan Lama?
Ketua Komisi III Sebut Roy Suryo Cs Jadi Korban KUHAP Orde Baru
Pemkot Masih Ragu Dengan Tindakan Tegas, Tanggul GGC Tetap Berdiri
Pemadaman di Sumatera dan Jawa, Publik Pertanyakan Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional
Bupati Tabanan Buka Parade Gebogan dan Baleganjur 2026 di Ulun Danu–The Blooms, Dorong Wisata Budaya Bali
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:19 WIB

Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:43 WIB

Polri Torehkan Sejarah, Indonesia Akhiri 53 Tahun Impor Jagung

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:46 WIB

Sidang Kasus Suap Blue Ray, Ketika Rantai Perkara Berhenti di Bea Cukai

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:33 WIB

Roy Suryo dkk Korban Paradigma Hukum Warisan Lama?

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:46 WIB

Ketua Komisi III Sebut Roy Suryo Cs Jadi Korban KUHAP Orde Baru

Berita Terbaru

Pekerja pelabuhan saat menurunkan beras impor. (Ist)

Headline

Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

Kamis, 25 Jun 2026 - 17:19 WIB