JAKARTA, Mediakarya- Aksi teror berupa pengiriman kepala babi kepada wartawan Tempo, Francisca Christy Rosana (Cica) mendapat perhatian serius pengamat kebijakan publik Sugiyanto.
Pria yang akrab disapa SGY ini menilai aksi tersebut sebagai bentuk intimidasi yang mencerminkan ketakutan pelaku. Ia mendesak negara untuk bertindak tegas dalam melindungi kebebasan pers.
Kata SGY penggunaan simbol tertentu dalam aksi teror sering kali bertujuan untuk menanamkan rasa takut, seperti yang terjadi dalam sejarah mafia Italia.
“Dalam sejarah mafia Italia, pengiriman bangkai hewan sebagai ancaman adalah metode kuno untuk menanamkan rasa takut kepada lawan. Mafia sering menggunakan simbol tertentu dalam meneror target mereka, salah satu yang paling terkenal adalah pengiriman potongan kepala kuda—seperti yang ditampilkan dalam film The Godfather (1972),” ujar SGY saat berbincang dengan wartawan, Sabtu (22/3/2025).
Dalam film tersebut, lanjut SGY adegan ikonik ini melibatkan Marlon Brando sebagai Vito Andolini Corleone (Don Vito Corleone) dan Al Pacino sebagai Michael Corleone.
“Penggunaan potongan kepala kuda dalam The Godfather (1972) bahkan mendapat tentangan dari para pencinta hewan. Saya sendiri tidak tega menampilkan tangkapan layar adegan tersebut dan lebih memilih foto kepala kuda yang masih utuh. Seharusnya, pencinta hewan di Indonesia dan dunia juga bersuara keras menentang teror terhadap wartawan Tempo yang menggunakan kepala babi sebagai alat intimidasi,” ujarnya lagi.
Dalam konteks teror tersebut, menurut SGY penggunaan kepala babi yang terpenggal sering kali menjadi simbol penghinaan dan teror psikologis. Dalam berbagai praktik kriminal maupun budaya tertentu, kepala babi digunakan untuk mengekspresikan kebencian mendalam serta sebagai peringatan bagi target yang dituju.
Dalam kasus teror terhadap media dan jurnalis, pesan yang ingin disampaikan jelas: mereka ingin mengintimidasi agar penyelidikan dihentikan, atau sebaliknya, menghadapi konsekuensi yang lebih serius.
Tindakan teror tersebut mengindikasikan adanya kemarahan dari pihak yang merasa terancam oleh pemberitaan jurnalistik Cica. Investigasi yang ia lakukan tampaknya telah menyentuh kepentingan kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan atau kepentingan besar dalam suatu kasus. Namun, kemarahan ini tidak berdiri sendiri; ia bercampur dengan ketakutan bahwa kebenaran yang tengah diungkap bisa menyeret pelaku ke dalam eksposur publik atau konsekuensi hukum yang lebih besar.
“Teror terhadap jurnalis bukanlah fenomena baru, terutama bagi mereka yang menyelidiki kasus korupsi, kekerasan, atau praktik ilegal lainnya. Tetapi justru di balik ancaman ini, terlihat betapa rentannya pelaku. Mereka tidak cukup percaya diri untuk menghadapi temuan jurnalistik secara terbuka dan memilih bersembunyi di balik ancaman anonim. Ketakutan ini menunjukkan bahwa mereka menyadari betul kekuatan jurnalisme dalam mengungkap fakta,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, peristiwa teror ini bermula pada Rabu, 19 Maret 2025, ketika kantor grup media Tempo di Palmerah Barat, Jakarta Selatan, menerima sebuah paket mencurigakan. Paket yang berisi kepala babi tersebut dikirim dalam kotak kardus berlapis styrofoam dan ditujukan langsung kepada Francisca Rosana atau Cica. Tidak ada identitas pengirim yang tertera, dan paket tersebut diserahkan oleh seorang kurir bermotor yang mengenakan helm ojek online.
Cica baru membuka paket tersebut pada Kamis, 20 Maret 2025, di ruang redaksi Tempo lantai IV, bersama rekannya, Hussein Abri Yusuf Muda Dongoran. Bau busuk segera tercium begitu kardus dibuka, dan setelah lapisan styrofoam disingkap, terlihat kepala babi dengan kedua telinganya terpotong serta masih berlumuran darah. (dri)











