Home / DKI

SGY: Teror Kepala Babi untuk Wartawan Tempo Bentuk Ketakutan Pelaku, Negara Harus Bertindak Melindungi Kebebasan Pers

- Editor

Sabtu, 22 Maret 2025 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mediakarya- Aksi teror berupa pengiriman kepala babi kepada wartawan Tempo, Francisca Christy Rosana (Cica) mendapat perhatian serius pengamat kebijakan publik Sugiyanto.

Pria yang akrab disapa SGY ini menilai aksi tersebut sebagai bentuk intimidasi yang mencerminkan ketakutan pelaku. Ia mendesak negara untuk bertindak tegas dalam melindungi kebebasan pers.

Kata SGY penggunaan simbol tertentu dalam aksi teror sering kali bertujuan untuk menanamkan rasa takut, seperti yang terjadi dalam sejarah mafia Italia.

“Dalam sejarah mafia Italia, pengiriman bangkai hewan sebagai ancaman adalah metode kuno untuk menanamkan rasa takut kepada lawan. Mafia sering menggunakan simbol tertentu dalam meneror target mereka, salah satu yang paling terkenal adalah pengiriman potongan kepala kuda—seperti yang ditampilkan dalam film The Godfather (1972),” ujar SGY saat berbincang dengan wartawan, Sabtu (22/3/2025).

Dalam film tersebut, lanjut SGY adegan ikonik ini melibatkan Marlon Brando sebagai Vito Andolini Corleone (Don Vito Corleone) dan Al Pacino sebagai Michael Corleone.

“Penggunaan potongan kepala kuda dalam The Godfather (1972) bahkan mendapat tentangan dari para pencinta hewan. Saya sendiri tidak tega menampilkan tangkapan layar adegan tersebut dan lebih memilih foto kepala kuda yang masih utuh. Seharusnya, pencinta hewan di Indonesia dan dunia juga bersuara keras menentang teror terhadap wartawan Tempo yang menggunakan kepala babi sebagai alat intimidasi,” ujarnya lagi.

Dalam konteks teror tersebut, menurut SGY penggunaan kepala babi yang terpenggal sering kali menjadi simbol penghinaan dan teror psikologis. Dalam berbagai praktik kriminal maupun budaya tertentu, kepala babi digunakan untuk mengekspresikan kebencian mendalam serta sebagai peringatan bagi target yang dituju.

Dalam kasus teror terhadap media dan jurnalis, pesan yang ingin disampaikan jelas: mereka ingin mengintimidasi agar penyelidikan dihentikan, atau sebaliknya, menghadapi konsekuensi yang lebih serius.

Baca Juga:  Kegiatan Donor Darah Disambut Antusias, Bank Jakarta Satukan Kepedulian Bersama PWI Jaya dan PMI DKI

Tindakan teror tersebut mengindikasikan adanya kemarahan dari pihak yang merasa terancam oleh pemberitaan jurnalistik Cica. Investigasi yang ia lakukan tampaknya telah menyentuh kepentingan kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan atau kepentingan besar dalam suatu kasus. Namun, kemarahan ini tidak berdiri sendiri; ia bercampur dengan ketakutan bahwa kebenaran yang tengah diungkap bisa menyeret pelaku ke dalam eksposur publik atau konsekuensi hukum yang lebih besar.

“Teror terhadap jurnalis bukanlah fenomena baru, terutama bagi mereka yang menyelidiki kasus korupsi, kekerasan, atau praktik ilegal lainnya. Tetapi justru di balik ancaman ini, terlihat betapa rentannya pelaku. Mereka tidak cukup percaya diri untuk menghadapi temuan jurnalistik secara terbuka dan memilih bersembunyi di balik ancaman anonim. Ketakutan ini menunjukkan bahwa mereka menyadari betul kekuatan jurnalisme dalam mengungkap fakta,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, peristiwa teror ini bermula pada Rabu, 19 Maret 2025, ketika kantor grup media Tempo di Palmerah Barat, Jakarta Selatan, menerima sebuah paket mencurigakan. Paket yang berisi kepala babi tersebut dikirim dalam kotak kardus berlapis styrofoam dan ditujukan langsung kepada Francisca Rosana atau Cica. Tidak ada identitas pengirim yang tertera, dan paket tersebut diserahkan oleh seorang kurir bermotor yang mengenakan helm ojek online.

Cica baru membuka paket tersebut pada Kamis, 20 Maret 2025, di ruang redaksi Tempo lantai IV, bersama rekannya, Hussein Abri Yusuf Muda Dongoran. Bau busuk segera tercium begitu kardus dibuka, dan setelah lapisan styrofoam disingkap, terlihat kepala babi dengan kedua telinganya terpotong serta masih berlumuran darah. (dri)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Penyaluran Bansos Dikeluhkan, SGY Minta Pemerintah Tak Kaku Gunakan Desil
Malam Anugerah MHT–PWI Jaya Diundur, Beri Ruang Persiapan Lebih Matang
Sidang Kasus Pengadaan Lahan BUMD Cilacap, Letjen Widi Tak Pernah Beri Perintah Jual Lahan
HUT ke-81 RI, PAM JAYA Rayakan Kebersamaan dan Dukung Penyerahan Ambulans untuk Masyarakat Suku Baduy
Prajurit Kodam Jaya Bersihkan Kawasan Monas Usai Amankan Perayaan HUT RI ke-81
GNK Dorong Bareskrim Polri Segera Proses Kasus Dugaan Korupsi Dinas LH Kota Bekasi dan TPST Bantargebang
Dukung Penanganan Pengolahan Sampah, Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Rusunawa Rorotan dan Rawa Badak
Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal di Rorotan dan Rawa Badak, Dukung Penanganan Pengolahan Sampah di Jakarta

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:09 WIB

Penyaluran Bansos Dikeluhkan, SGY Minta Pemerintah Tak Kaku Gunakan Desil

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Malam Anugerah MHT–PWI Jaya Diundur, Beri Ruang Persiapan Lebih Matang

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Sidang Kasus Pengadaan Lahan BUMD Cilacap, Letjen Widi Tak Pernah Beri Perintah Jual Lahan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:15 WIB

HUT ke-81 RI, PAM JAYA Rayakan Kebersamaan dan Dukung Penyerahan Ambulans untuk Masyarakat Suku Baduy

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:52 WIB

Prajurit Kodam Jaya Bersihkan Kawasan Monas Usai Amankan Perayaan HUT RI ke-81

Berita Terbaru

Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik, Dr. Adi Suparto

Opini

Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:53 WIB

Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (kiri) bersama dengan Direktur OT Group, Dr. Yosua Jap, (kanan)

Ekonomi & Bisnis

Melalui Kemensos, OT Peduli Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa NTT

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:05 WIB