Oleh: Noor Fatah,SE (Sekjen Politik Nusantara Sejahtera)
Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi terkenal sentra penimbunan sampah. Stigma yang kerap melekat yakni: bau, kotor dan tidak sehat. Faktanya memang demikian, dimana pencemaran lingkungan, air dan gangguan kesehatan sangat dirasakan oleh masyarakat.
Untuk itu diperlukan suatu “Terobosan radikal” yang mengacu pada inovasi fundamental yang mengubah industri atau menciptakan pasar baru, tidak hanya perbaikan kecil, dan seringkali melibatkan teknologi atau model bisnis yang sepenuhnya baru,
Di antraanya, mulai dari mengidentifikasi jenis sampah, menemukan formula mengolah sampah menjadi produk yang bernilai ekonomi (teknologi menciptakan value added).
Ada beberapa jenis sampah. Antra lain sampah baru yang diproduksi oleh setiap rumah tangga, dan sampah lama yang ada di TPA.
Untuk menghasilkan nilai ekonomis, maka sampah dipilah menjadi:
- Sampah basah (organik) terdiri dari: nasi, sayur, tulang, buah, dan jenis makanan lainnya yg sudah tidak dimakan; lalu, diolah dg teknologi MASARO (Manejemen Sampah Zero) menjadi POCI (Pupuk Organik Cair Istimewa) dan KOCI (Konsentrat Pakan ternak Organik Cair Istimewa)
- Sampah kering (non organik sampah 3R) terdiri dari: kertas, kayu, kaca, logam; bisa dijual langsung ke pengepul; dan atau dibuat handicraft yg memiliki nilai jual.
- Sampah plastik film; diolah menjadi BBM dan pengawet kayu melalui proses Pirolisis.
- Sampah B2 terdiri dari limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) terdiri dari: battery, steriofom, softex; diolah dg incenerator menjadi residu.
- Praktis, semua jenis sampah diolah habis menjadi zero
Khususnya sampah organik yang diolah dengan teknologi MASARO (Temuan dari ITB-Bandung) yang menjadi POCI dan KOCI; terbukti hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan (sektor Agrikultur) meningkatkan hasil produksi berkali-kali lipat dengan kualitas premium. Begitupun, perikanan dan peternakan, lebih berdaging/gemuk dengan kualitas premium pula (semua menghasilkan bahan pangan organik)
Pengembangan sektor Agrikultur sesuai kultur masyarakat agraris dapat menjadi lumbung pangan nasional yang dapat membuka lapangan pekerjaan sektor UMKM. Selanjutnya, menghidupkan banyak orang dan meningkatkan penghasilan masyarakat, serta bangkitan ekonomi lainnya; sehingga, dapat membuat akselerasi percepatan pertumbuhan ekonomi meningkat cepat.
Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat terhindar dari middle income trap dengan memanfaatkan bonus demografi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, dan dapat menjadi negara adidaya yang semakin diperhitungkan dunia dari penghasilan produk-produk agrikultur organik kualitas premium baik untuk swasembada pangan maupun untuk di ekspor guna menghasilkan devisa. **






