JAKARTA, Mediakarya.id – Dimasa pandemi saat ini, keberadaan perbankan syariah tetap bisa tumbuh positif bahkan bisa meningkat 10 persen dibandingkan rata-rata pertumbuhan sebelum pandemi.
Pengamat Perbankan, Dr. Husnul Khatimah mengatakan, hal ini terjadi karena bank syariah merespon dengan cepat adaptasi teknologi untuk mendukung layanan perbankan secara online, seperti menambah fitur layanan agar lebih mudah diakses tanpa harus datang ke bank.
“Contohnya seperti di BSI, ada layanan chat Aisyah. Selain itu trend penggunaan bank syariah selama pandemi meningkat karena makin meningkatnya donasi atau tingkat kedermawanan masyarakat untuk mensupport masyarakat yang terkena dampak pandemi,” jelasnya.
Dijelaskannya pula, donasi bencana, bantuan peralatan kesehatan, bantuan kematian, bantuan isoman dan sebagainya, banyak menggunakan rekening bank syariah sebagai tempat pooling dana donasi.
“Hal ini meningkatkan jumlah aliran dana ke bank syariah,” tambah Husnul.
Sementara bank konvesional yang menggunakan prinsip bunga, disaat situasi pandemi dan banyak usaha yang tutup atau tidak memiliki kepastian penghasilan membuat banyak kasus kredit macet.
Adanya pembayaran bunga tetap dan cicilan akan memberatkan bagi debitur disaat mereka tidak memiliki kepastian penghasilan atau omset usaha.
Sementara di bank syariah yang menganut bagi hasil akan melihat kinerja secara riil (bagi hasil) mengakui adanya untung dan rugi, sehingga ketika merugi atau hasilnya menurun maka bagi hasil yang diberikan juga akan menurun mengikuti situasi yang ada.
“Secara emosional masyarakat yang melihat hal ini akan memilih bank syariah sebagai tujuan yang lebih realistis,” ujarnya.
Sambung dia, karakteristik di bank konvensional karena pakai bunga, maka sifatnya pasti sesuai bunga yang ditetapkan.
“Kalau di bank syariah, sistemnya bagi hasil, maka ketika keuntungan usaha naik dan kondisi ekonomi stabil, maka kemungkinan hasil yang diperoleh juga akan meningkat, begitu pula sebaliknya,” pungkasnya. (apl)

